I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki (End)

Part sebelumnya : I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki

Pada pertengahan kisah dan treatmentnya bersama psikolog, Se Hee memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia merasa bosan dan tertekan karena rutinitas yang dijalaninya selama bekerja. Padahal tidak mudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion yang ia miliki. Distimia yang dialaminya terkadang mengalami perkembangan yang sangat baik dan ada kalanya juga tidak ada kemajuan sama sekali, selain kecemasannya berkurang pada saat mengonsumsi obat saja.

Bahkan ketika psikiater menaikkan dosis obat yang harus diminum oleh Se Hee, ia masih saja berpikiran ekstrem tentang dirinya. Selain ambivalensi yang ia alami, Se Hee jadi semakin banyak minum alkohol dibanding sebelumnya karena efek samping obat yang tak bisa ditahannya. Terkadang jantungnya berdegup dengan sangat cepat pada saat dini hari, kemudian ia merasa cemas tanpa sebab. Sehingga kualitas tidurnya menjadi sangat buruk dari hari ke hari. Ia selalu merasa kelelahan karena pagi harinya ia harus bekerja hingga petang.

Namun bukan berarti ia tak bisa sembuh sama sekali dari distimia yang ia alami. Perasaan rendah diri, histrionik, dan beberapa indikasi distimia yang lainnya bisa ia rasakan dan identifikasi polanya. Psikiater yang membimbing Se Hee mengatakan inilah kemajuan yang bisa ia tunjukkan, dibanding pertama kali Se Hee berobat padanya.

Seperti dilansir dari jurnal Sociolla bahwa distimia bisa mempengaruhi kinerja kita sehari-hari atau memperburuknya. Tidak sama seperti depresi akut yang langsung membuat penderitanya bersikap tak wajar, distimia cukup tersembunyi dan perlahan menggerogoti dari dalam. Produktivitas kerja menurun, tubuh selalu tidak fit dan karenanya sistem imun menjadi rendah, kecenderungan untuk penyalahgunaan obat-obatan dan kecanduan miras, selalu muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri karena merasa tak berharga, hingga timbul pikiran untuk bunuh diri. Jika tak segera ditangani, gangguan mental ini benar-benar bisa membuat seseorang menjadi depresi akut.

Untungnya Se Hee selalu meminum obat yang diberikan psikiaternya. Ia pun rutin mengunjungi psikiaternya minimal satu minggu sekali untuk melakukan terapis. Secara perlahan ia diarahkan untuk selalu melakukan kegiatan positif, termasuk bergabung ke dalam kelompok novel dan diskusi film. Meskipun kecemasan berlebihan yang ia alami belum juga reda hingga ia menyelesaikan buku ini, namun kemajuan yang ia tunjukkan sudah lumayan pesat. Sehingga ia pun bisa memiliki waktu tidur yang cukup.

Se Hee berusaha untuk membuat suasana hatinya normal sehingga ia tak akan memikirkan berbagai emosi negatif yang selalu datang saat ia tengah beristirahat. Sehingga waktu yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat habis karena digunakan oleh Se Hee untuk memikirkan spekulasinya sendiri. Hal-hal negatif yang berusaha ia tekan memang berhasil untuk tidak diekspresikan, namun pada kenyataannya hal-hal positif itu pun juga tertekan dan tidak bisa keluar dari dalam dirinya. Untuk menjaga keseimbangannya, Se Hee mensiasatinya dengan mengeluarkan seluruh emosi negatifnya lewat tulisan, atau semacam buku harian. Memang benar ya, menulis itu bisa menjadi sebuah terapi tersendiri untuk kita yang sedang ingin meluapkan emosi tanpa melukai orang lain. Menulis sebagai self healing yang tentu bisa kita arahkan menjadi waktu yang lebih produktif.

Kita akan menemui beragam pengalaman nyata dari berbagai pandangan teori yang ditulis oleh Baek Se Hee di buku ini, yang disampaikan dengan bahasa yang apa adanya. Kita juga akan melihat interaksi antara psikiater yang tidak  sempurna dengan seorang pasien yang juga tidak sempurna. Namun, interaksi antara dua orang yang tidak sempurna ini sama-sama membuat mereka bertumbuh. Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan semakin bertumbuh.

End

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, by Baek Se Hee.

Penerbit Haru, 2019, 232 halaman.

3/5

  1. Reply

    Wah, iklannya udah banyak ini dek… semangat menulis

    • prajna on December 6, 2019 at 8:50 pm

    Reply

    kesalahan milik kita, dan kesempurnaan adalah milik Allah -Bunda Dorce, Dorce show show show-

  2. Reply

    Based on kisah nyatakah ini Mba Jihan? Anw, terima kasih atas tulisannya, Mbaaa

      • jeyjingga on December 9, 2019 at 11:24 am
      • Author

      Reply

      iya mba based on true story. Terimakasih kembali mbaa

  3. Reply

    Betul mba, menulis bisa jadi self healing, jadi novel pulak..😁

    • Retno JUmirah on December 7, 2019 at 7:14 am

    Reply

    makin kecehhhhh mbakuhhhh….. Wes recomended kabeh rasane hiii

Leave a Reply