Uncategorized

Part sebelumnya : Sweet Destiny   PART 17   Sri Herawati adalah seorang gadis yang dilahirkan di Kota Pendidikan, Malang. Sejak kecil ia dididik dengan keras oleh ayahnya yang seorang mantri terkenal di kampung kala itu. Memiliki Ibu dengan paras ayu. Mungkin dari Ibunyalah Sri memiliki paras cantik hingga banyak lelaki yang menyukainya. Meskipun teman laki-lakinya […]

Read More

Part sebelumnya : Kabar Bahagia Ning Yah Part 15   Setelah tiga hari pulang kampung karena pernikahan Mbakyu-nya, Taufiq memulai kembali padatnya aktivitas yang ia jalani. Suatu hari di sekolah, “kita butuh guru baru untuk menggantikan Bu Ni’mah yang sedang cuti. Tapi siapa ya yang mau digaji rendah seperti ini?” Kepala Sekolah mulai berdiskusi dengan Taufiq […]

Read More

Part sebelumnya : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang   Part 14   Selain kegiatan mengajarnya yang sangat padat, hampir-hampir Taufiq tidak memperhatikan kesehatan dirinya sendiri. Suatu ketika ia tumbang karena tenaganya sudah berada di ambang batas. Taufiq terpaksa harus beristirahat selama beberapa hari. Bagaimana tidak? Ia sibuk kuliah dari pagi hingga siang, kemudian lanjut […]

Read More

Part sebelumnya : Berkah dari Allah PART 13   “Kamu kenapa ndak ikut ujian kemarin Fiq?” Tanya salah seorang dosen pada Taufiq ketika dirinya dipanggil ke ruang dosen siang itu.   “Maaf Pak, saya belum bisa melunasi SPP jadi saya tidak bisa ikut ujian.” Taufiq menjawab pertanyaan dosen dengan jujur. Uangnya memang sudah terkumpul, tapi belum […]

Read More

Udara membubung membakar Persil-persil tak terselamatkan Obor-Obor yang dibawanya menyala Tupai Tupai berlarian   Orang menanti hujan Yang tak kunjung datang Candra telah lewat Berakhir harapan   Orang-orang mengetuk pintu langit Berharap malaikat akan membuka Tuhan menerima doa Lalu turun rahmatNya   Siapa yang kau nanti Tanya burung pada jukut kering Siapa yang kau tunggu […]

Read More

“Maling singkong dipenjara 10 tahun? Sudah gila ya negara ini?” Ujar seorang Ibu yang sibuk mengiris beberapa sayur yang akan dimasaknya sambil menonton televisi. Potret negara kita yang sungguh benar-benar terjadi di sekitar kita. Bukan karangan atau cerita fiksi tanpa dasar. Itulah paling tidak yang saya ingat ketika membaca karya Mochtar Lubis ini. Ia berpendapat […]

Read More

Part Sebelumnya : Dua Puluh Lima Rupiah   Part 12 “An In Un, Ban Bin Bun.”   “An In Un, Ban Bin Bun.” Bocah lelaki itu menirukan apa yang dibunyikan Taufiq.   “Nah, kita lanjut ke halaman berikutnya ya.” Taufiq kemudian hendak membalik lembar Iqra’ yang dipegangnya. Namun anak itu mencegah tangannya untuk membalik halaman tersebut. […]

Read More

Part sebelumnya : Semester Pertama Part 11   “Fiq, pinjem dikit-dikit aja 25 rupiah. Buat tambahan beli minyak,” ujar Ibu kos pada Taufiq yang sedang mencuci bajunya di sumur. Taufiq mengernyitkan dahinya. Menimbang-nimbang cukup lama. Karena sesungguhnya dirinya sendiri pun tidak punya uang. Hanya tersisa seratus rupiah di sakunya.   “Besok Ibu kembalikan, besok Ibu dapat […]

Read More

Kisah sebelumnya : Pesan Mbah Isom Part 10 Terik matahari masih juga belum mau berkurang. Panas yang berpendar ke permukaan bumi khususnya di tanah Majapahit ini semakin garang saja. Jika tidak ada pepohonan entah panasnya akan seperti apa. Mungkin telur yang diletakkan di jalanan aspal akan matang dengan sendirinya. Namun Taufiq sudah terbiasa melalui itu semua. […]

Read More

Part 9 Part sebelumnya : Malam-malam Gangguan Hari ketiga dan keempat pun ternyata masih sama. Gangguan itu masih berulang. Pintu depan lalu genteng. Terkadang beramai-ramai dari seluruh sisi rumah. Kanan, kiri, depan dan belakang batu itu dilempar sedemikian rupa hingga menimbulkan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu. Jam-jam gangguan mereka pun sama, menjelang tidur. “Kalau hari ini mereka […]

Read More