Review Buku

sedikit cuplikan dan perasaan jeyjingga tentang sebuah buku

Manusia yang melakukan atau tak melakukan sesuatu karena selain-Nya sesungguhnya bukanlah manusia yang merdeka. Dirinya menghamba pada dunia  100 Hari Melihat Diri – halaman 71 Saya tersentil dengan kalimat tersebut. Sejenak saya berhenti dan memberi tanda khusus pada tulisan tersebut. Bahwa mengapa Bab Niat selalu diletakkan di awal setiap kitab? Dari ribuan hadis mengapa hadis […]

Read More

Aku membuka pintu dan merindukan Ibu Sepatu-sepatu yang disusun rapi di rak menu makan siang yang kusuka telah siap di meja aku beranjak dan menemui masa kanak-kanak  dan tak pernah berpikir meninggalkannya Semakin lama, semakin panjang waktu telah berada memberi jarak aku hanya dekat dengan bayanganku sendiri segelas kopi sebuah asbak, selalu ada yang pertama […]

Read More

“Dik, mbok plis to ah, dipertimbangkan juga kaidah dar-ul mafasid muqaddamun itu, bahwa meninggalkan kemudharatan itu harus lebih diutamakan. Sikapmu ini mudharat buatku, Dik. Buat masa depan tresnaku. Itu harus didahulukan untuk ditinggalkan lho, Dik…” (Belajar Mudah Kaidah Ushul Fiqh ala Bucin, halaman 133) Kita tahu bahwa sumber-sumber utama syariat Islam (alQuran dan Sunnah Rasulullah […]

Read More

Kita sama-sama tahu bahwa kalimat Aku tak mungkin hidup tanpamu adalah sebuah kebohongan. Kita akan tetap hidup tanpa satu sama lain, namun aku kerap mengatakannya hanya untuk secara sengaja mengkhianati kenyataan itu. Aku tak sanggup hidup dalam kenyataan semacam itu. Cerita Sebelum Bercerai halaman 39   Sebuah karya dari Fahd Pahdepie satu ini ternyata mencerminkan […]

Read More

“Setelah 1 kan 2 ya, setelah A kan B, setelah alif kan Ba, ya Cit. Mestinya kita ini kan bisa ngaji dulu, baru memahami arti ayat-ayatnya, lalu mengamalkan, baru mensyiarkan. Kalau urutan kealamiahan demikian dibolak balik, keburu langsung ceramah kemana-mana hanya karena bernafsu menjalankan isi surat Luqman ayat 17 tetapi ia tak tahu surat An-Nahl […]

Read More

“Noise marketing. Daripada orang tidak peduli, jauh lebih baik menjadi salah satu diantara kedua pilihan itu. Pada akhirnya cacian atau makian itu adalah bentuk perhatian. (Man Of Pure Love, halaman 88) Novel dari Korea Selatan ini diterjemahkan oleh Primastuti Dewi, diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Haru. Usai membaca Confession versi Indonesia, saya semakin yakin bahwa […]

Read More

“Saya benar-benar merasa lega sekarang. Satu tugas lagi telah saya selesaikan. Rasanya bila sekarang saya harus pensiun pun saya sudah siap,” katanya sambil bersyukur apa yang diharapkannya telah terwujud. Ia telah mewariskan sesuatu kepada generasi penerusnya; mungkin sebuah ilmu, dedikasi, motivasi, kerja keras, keyakinan, keberanian, determinasi, dan si generasi penerus itu telah melakukannya dengan baik.” […]

Read More

Sampaikan pada Ibu, Bapak, dan Anjani : jangan hidup di masa lalu, di saat aku masih menjadi abangmu yang jahil dan sering membuat dapur ibu berantakan. Jangan terjebak pada kenangan yang membuat kalian semua tak bisa meneruskan hidup.  Laut Bercerita, halaman 366. Jakarta, Maret 1998 Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa […]

Read More

Tidak akan pernah ada masa depan bagiku dan kekasihku jika aku kembali padanya. Kalau kami terus bersama, pelan-pelan aku akan berubah menjadi Rudi dan dia akan berubah menjadi Diana. Aku harus bertahan. Hidup yang macam tahi anjing begini pun, terlalu indah buat dilewatkan. Bukankah begitu? Aku terus mengingat kata-kata itu dan merapalnya seperti mantra. (Mereka […]

Read More

“Ko Po Kyin, mengapa kamu hanya merasa bahagia ketika menjadi jahat? Mengapa semua yang kamu lakukan harus membuat orang lain menderita? Pikirkan dokter yang malang itu akan dipecat dari jabatannya, dan orang-orang desa itu, akan ditembak atau digebuki dengan bambu, atau dipenjara seumur hidup. Apa kamu perlu melakukan semua hal itu? Apa yang kamu inginkan […]

Read More