Tokoh Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka adalah ulama, sastrawan, sejarawan, dan politikus yang terkenal di Indonesia. Ia juga pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik, baik Islam maupun Barat. Hamka adalah contoh keteladanan sebagai perwujudan akhlak mulia orang Muslim sejati. Ia memuliakan sesama manusia, bahkan binatang dan tumbuhan.

Buku ini memuat kisah perjalanan Buya Hamka sejak kecil hingga wafat. Sederet kisah inspiratif keteladanan beliau tergambar dengan jelas. Melalui buku ini pula, pembaca akan dengan mudah memahami, menerapkan, hingga mengambil hikmah dari sosok Hamka.

tokoh buya hamka

Ada sepuluh poin yang saya lingkari di sini bagaimana Buya Hamka pantas mendapatkan title tokoh teladan yang penuh inspirasi dan talenta, sebagai berikut :

  1. Meskipun kedua orangtuanya bercerai, ia tetap menjadi pribadi tangguh yang tak kenal putus asa. Ia habiskan waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca, menulis hingga bepergian untuk menuntut ilmu.
  2. Perjalanan Abdul Malik ke Makkah pada tahun 1927 meletupkan inspirasi baginya untuk menulis Di Bawah lindungan Ka’bah. Sebuah karya fenomenal di zamannya, bahkan hingga saat ini.
  3. Pada tahun 1958, Hamka menghadiri konferensi Islam di Lahore, Pakistan. Namun, pada tahun 1964, ia dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh bersekongkol dengan Malaysia. Ketika berada di dalam penjara, ia mulai menulis Tafsir Al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Dalam kondisi di dalam penjara pun ia justru memanfaatkan waktunya dengan sangat baik.
  4. Pada saat dirinya terpilih secara aklamasi sebagai ketua MUI pada tahun 1975, berbagai pihak sempat ragu terhadap kemampuan Hamka dalam menghadapi intervensi kebijakan Pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. Nyatanya Hamka berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara umat Islam.
  5. Sebagai ketua MUI ia meminta dirinya untuk tidak digaji. Ia juga meminta agar dirinya diperbolehkan mundur apabila nanti ternyata sudah tidak ada kesesuaian dengan dirinya dalam hal kerja sama antara pemerintah dan ulama. Ternyata, pemerintah bersedia mengakomodasi permintaannya tersebut.
  6. Keluarnya fatwa MUI tentang perayaan Natal bersama membuatnya harus mencabut fatwa tersebut atas desakan Pemerintah. Padahal Hamka mengatakan fatwa itu perlu dikeluarkan sebagai tanggung jawab para ulama untuk memberikan pegangan kepada umat Islam dalam kewajiban mereka memelihara kemurnian akidah Islam. Lalu menanggapi tuntutan Pemerintah tersebut, Hamka memilih meletakkan jabatannya sebagai ketua MUI.
  7. Meskipun Presiden Soekarno menjadikannya sebagai tahanan politik selama dua tahun di balik jeruji besi dan berbulan-bulan berikutnya tahanan kota dan rumah, beliau tidak pernah sedikitpun mendendam. Bahkan ketika Presiden Soekarno wafat, Hamka bertindak sebagai imam salat jenazah di kediaman Presiden Soekarno.
  8. Hamka terjepit pendirian dan ketaatan pada orang tua. Ketika Buya-nya akan menikahkannya lagi dengan seorang perempuan, Hamka menolaknya dan memilih untuk setia pada istrinya, Siti Raham yang telah memberinya sebelas orang anak hingga Siti Raham wafat karena komplikasi.

Merawat cinta memang memerlukan pengorbanan. Hamka mengatakan,

Kita tidak boleh sembarangan mengumbar cinta di pelaminan apalagi menikah hingga berkali-kali. Jangan karena alasan poltiik, pernikahan dianggap mudah begitu saja. Banyak pernikahan yang hanya menjadi ajang pamer, sandiwara, permainan, serta jauh dari kehendak mencapai sakinah dan rahmat sebagaimana diucapkan sepasang pengantin di depan penghulu.”

Kita bisa bercermin pada  Hamka. Baginya, betapa makna pernikahan yang sakral itu bukan untuk dimudah-mudahkan. Apalagi, keluarga harus dibela dalam kondisi apapun.

  1. Berbuat baik kepada orang yang pernah memusuhinya bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan oleh Hamka. Buktinya, ia pernah mengislamkan calon menantu Pramoedya Ananta Toer. Padahal, Pram adalah orang yang menyerangnya di masa Orde Lama.

Soal tersebut pernah ditanyakan oleh putranya, Rusjdi Hamka,

“Lupakah Ayah siapa Pram itu?”

“Betapapun dia membenci kita, kita tidak berhak menghukumnya. Allah lah yang Maha Adil. Dan dia pun telah menjalani hukumannya dari penguasa di negeri kita ini,” tukas Hamka.

 

Hamka adalah ulama besar yang mempunyai karakter yang kuat. Tokoh Buya Hamka di dalam buku ini digambarkan sesuai dengan tindakannya yang pemaaf. Dimana termasuk salah satu karakter yang perlu diingat oleh siapapun. Ia tidak ragu melepaskan kedudukannya demi sesuatu yang diyakininya benar. Beliau juga pembela kebenaran yang tidak takut apapun kecuali Allah.

  1. Hingga saat ini jasa dan pengaruh Hamka masih terasa dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan hanya diterima sebagai tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, tetapi jasanya juga terasa di seantero Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura turut dihargai.

Sampai sekarang, Hamka tetap dipandang sebagai sosok yang langka dan istimewa di hati masyarakat atau ulama di mata hati umat. Semuanya itu tidak dicapai jika hanya dengan ilmu, gelar akademik atau popularitas.

Hingga pemerintah menyematkan pada beliau Bintang Maha Putra Utama secara anumerta pada Hamka. Sejak tahun 2011, beliau juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Masya Allah, mudah-mudahan kita semua dapat meneladani sifat dan keilmuan beliau. Aamiin.

 

Baca selanjutnya Buya Hamka