Biografi KH Hasyim Asyari adalah salah satu buku biografi yang berhasil saya baca sampai tuntas. Agak sulit menuntaskan buku biografi karena salah satu jenis buku yang saya hindari adalah biografi. Namun seri pendiri ormas terbesar di Indonesia, yaitu KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari begitu menarik saya untuk menyelesaikan buku biografi ini. Ketika proses penulisan Narasi Gurunda, saya harus banyak-banyak membaca buku biografi untuk menunjang penulisan buku saya. Sehingga mau tidak mau, dua dari sekian banyak buku biografi tersebut harus diselesaikan. Dari sekian banyak buku biografi tokoh, saya menemukan Sang Penakluk Badai dan Sang Pencerah sebagai buku biografi yang tidak membosankan.

Novelisasi Biografi yang Tidak Membosankan

Lelah duduk, membaca sambil berbaring. Bosan telentang, ganti membaca dengan telungkup. Tapi detik demi detik perjalanan Mbah Hasyim terlalu sulit untuk dilewatkan. Rasa haru hampir selalu menyelinap dalam hati saya ketika membaca setiap perjuangan-perjuangan beliau. Bahkan saya merasa seakan-akan hadir di Majelis Syeikh Mahfuzh at-Tarmusi di Masjidil Haram bersama Mbah Hasyim melalui Biografi KH Hasyim Asyari ini.

Lalu tiba-tiba datang amarah yang memuncak ketika membaca pesantren Mbah Hasyim dibakar rata dengan tanah. Cita-cita luhurnya untuk membangun Negeri ini dicapai dengan darah dan keringat. Mengingat saat itu penjajah masih betah berada di Nusantara tercinta. Kiprah dan jasa organisasi Islam yang didirikan Mbah Hasyim untuk negeri ini juga tak terhitung banyaknya. Ia memiliki andil dalam berbagai bidang pembangunan di Indonesia. Mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan ikut mewarnai politik di Negeri ini. Sungguh kehidupan yang penuh luka, liku dan warna.

Saya jadi ikut marah ketika Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita di tahun 2020 ini begitu sembrono memutuskan sesuatu terkait dengan dua ormas besar di Indonesia. Sebagaimana yang dituliskan Fachri Ali :

Ketika keluar dari istana, sehabis dipanggil presiden terpilih, akhir 2019, calon menteri pendidikan yg masih muda belia itu berkata kepada wartawan: ‘Saya tdk tahu masa lalu. Tapi saya tahu masa depan.’ Lalu ia pulang naik ojek.
Kini, Muhammadiyah dan NU keluar dari program ‘Pendidikan Merdeka’ karena Menteri Pendidikan memberikan dana hibah Rp 20 milyar kepada masing-masing Sampurna Foundation dan Tanoto Foundation pertahun.
Menteri Pendidikan benar-benar membuktikan tidak tahu masa lalu. Bahwa Muhammadiyah dan NU telah melakukan pendidikan rakyat jelata jauh sebelum Indonesia ada. Sementara Sampurna Foundation dan Tanoto Foundation baru lahir beberapa ‘menit’ lalu —untuk ukuran masa panjang pengabdian Muhammadiyah dan NU mencerdaskan anak-anak bangsa. Ironi orang tak mengerti masa lalu. Saya perintahkan Menteri Pendidikan belajar sejarah!

kemerdekaan indonesia dalam biografi mbah hasyim

pict from : pinterest

Maka jargon jas merah, jangan lupakan sejarah! adalah hal yang seharusnya menyentil kita sebagai generasi muda juga. Bukan hanya Pak Menteri. Bagaimana bisa kita melangkah lebih baik jika tidak belajar dari pengalaman di masa lalu? Bukankah sejarah adalah catatan penting yang harus kita pelajari dan kita ingat agar tidak jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama seperti di masa lalu?

Sang Penakluk Badai

“…patuh terhadap guru, itu berarti juga mengabdi. Karena Imam Syafi’i mensyaratkan untuk para santri : dalam mencari, selain harus berbekal ketekunan, kesabaran, materi, juga taat pada guru…”

Inilah petuah yang membuat saya berkaca pada diri sendiri. Melihat sekeliling dan mulai berpikir tentang barokahnya ilmu. Kalau dulu ulama selalu patuh pada guru-guru, apapun yang dikatakan dan dicontohkan, tak heran jika ilmunya berkah sepanjang hayatnya. Ilmu yang didapat bukan malah membuatnya sombong, mendebat orang-orang yang tak sepaham dan berlaku sewenang-wenang, atau bahkan menyalahgunakan ilmu itu sendiri. Naudzubillah.

Berpikir tentang bagaimana anak-anak sekarang begitu cepat melupakan ilmu yang diberikan gurunya. Berpikir kenapa banyak kasus kriminal dan perilaku menyimpang lain padahal pelakunya dari kalangan terpelajar? Bisa jadi karena ilmu yang didapat tercabut berkahnya. Berkah yang bisa berasal darimana saja. Bisa jadi dari gurunya, amalannya, dan lain-lain. Maka jika dikatakan patuh pada guru adalah salah satu jalan utama meraup berkah dari ilmu yang dibawa bukanlah hal yang berlebihan saya kira.

Novelisasi Biografi ini menceritakan kisah salah satu pahlawan Nasional Indonesia yaitu KH. Hasyim Asy’ari mulai dari beliau lahir hingga wafat. Bagaimana perjalanan beliau menuntut ilmu hingga ke tanah suci, kehilangan istri, anak dan saudara kandung, mendirikan ormas terbesar di Indonesia, hingga jihad beliau bersama jamaahnya melawan Belanda. Keikutsertaan para santri yang pernah berguru pada beliau baik secara langsung maupun tidak langsung membuat gentar para penjajah di Negeri ini. Jika ingin belajar bagaimana menumbuhkan jiwa pahlawan dalam diri kita? Patutnya teman bloger perlu membaca novelisasi biografi ini.

Bunga Pesona KH. Hasyim Asy’ari

biografi kh hasyim asyari

Ketika perang berkecamuk di seluruh lapisan Negeri, bara Indonesia memanas, KH. Hasyim Asy’ari saat itu mengeluarkan fatwa. Fatwa yang dicetuskan oleh Kiai Hasyim seakan memberikan daya yang sangat dahsyat untuk menggerakkan barisan-barisan pemuda bangsa. Apalagi para santri Kiai Hasyim Asy’ari yang tergabung dalam komando Sabilillah dan Hizbullah. Pekik takbir dan harapan untuk tetap gagah-berdiri dengan menggenggam kemerdekaan, membuat gelora untuk menempuh kesyahidan semakin nyata.

Tak dapat digambarkan kengerian perang itu. Perang dan kematian secara nahas terjadi setiap detik dan menit. Melalui siaran RRI yang terakhir mengudara, diberitakan bahwa pasukan pribumi terdesak. Hanya tinggal beberapa komando saja yang bisa bangkit, di antara tubuh-tubuh yang tergeletak dan menjadi mayat.

Mendengar berita yang mengerikan itu, Kiai Hasyim tak henti-hentinya berdoa kepada Allah. Terkadang dalam doa beliau tiba-tiba naluri seorang ayah menyelinap. Ia teringat dengan anaknya yang begitu gagah, Yusuf Hasyim yang turun menjadi komandan jihad pasukan Sabilillah. Namun suasana perang tak kunjung mereda, hal ini membuat tubuh Kiai Hasyim yang sudah lemah semakin lemah. Ditemani cucunya, Kiai Hasyim berzikir lalu jatuh tak sadarkan diri. Hingga tengah malam, kondisi Kiai Hasyim belum juga membaik. Sesekali sadar, dan saat ia sadar sering menyebut-nyebut Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah dan kemudian melafalkan wirid dan salawat.

Para santri dan keluarga yang hadir mendoakan kesembuhannya. Tapi Allah berhendak lain, sekitar pukul 3 dini hari, ketika orang hendak melakukan sahur, Kiai Hasyim menghadap kepada Allah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1947. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Hadratusyeikh pergi meninggalkan kehidupan yang fana dengan meninggalkan jejak sejarah perjuangan yang patut dicatat dengan tinta emas. Beliau berjuang untuk umat dan negara dengan hati yang dipenuhi keikhlasan.

Negeri berkabung saat hari-hari bercampur darah para pejuang dalam pertempuran yang terus memakan korban. Berita meninggalnya ulama besar, Kiai Panutan, dan perintis kemerdekaan membuat gempar seluruh lapisan masyarakat.

Bangsa yang saat ini berada di tengah rapuhnya moral, mahalnya kejujuran, dan merebaknya kasus korupsi di segala lini, novel biografi  KH Hasyim Asyari, sang pendiri Nahdlatul Ulama dan perintis kemerdekaan ini patut dibaca. Agar kita semua, terutama Pemerintah bisa bercermin.

 

Sang Penakluk Badai, oleh Aguk Irawan

Penerbit Republika, Jakarta. 562 halaman

4/5

Baca juga : Meneladani Buya Hamka, Tokoh Inspiratif Penuh Talenta