perjalanan pejuang kanker

Perjalanan Menemani Pejuang Kanker, Sehat Itu Mahal!

1 Comment

Photo of author

By jeyjingga

Sudah sebulan Ayah saya batuk tak kunjung sembuh. Awalnya memang serumah sedang terjangkit flu. Mulai dari Ibu, kemudian adik-adik saya dan juga keponakan. Meskipun saya hidup terpisah dengan Ayah Ibu dan adik, tapi hampir setiap hari saya mampir ke rumah Ayah dan Ibu sambil menunggu jam pulang anak yang sedang sekolah.

Batuk itu berlanjut hingga Ayah merasa sangat nyeri di bagian punggung atas, lokasi sakitnya sejajar dengan paru-paru kanan atas. Beberapa kali dipijat refleksi, pernah sampai ke Ngantang, Kabupaten Malang karena Ayah mengira nyeri di tulang punggung tersebut adalah efek beliau jatuh dari motor sekitar 20 tahun yang lalu.

Efek pijat memang terasa nyaman tapi hanya untuk beberapa hari saja. Bahkan kadang satu hari kemudian nyeri tersebut kembali lagi.

Karena Ayah rajin kontrol ke dokter jantung setiap tiga minggu sekali, maka saat itu Ayah juga berkonsultasi ke dokter jantung perihal batuknya. Lalu disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis paru. Kami pun kesana dan Ayah melakukan tes dahak dan USG thorax. Hasilnya cukup bagus dan tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Jadi Ayah hanya diberi resep untuk meredakan batuknya saja.

Dua minggu kemudian batuknya juga tak kunjung reda, nyeri di punggung pun masih terasa. Akhirnya Ayah dijadwalkan untuk tes CT Scan dan juga USG tulang bagian belakang. Sebelum jadwal CT Scan ada, sebenarnya tes darah CEA yang dilakukan bersama dengan spesialis paru sudah keluar. Namun dokter spesialis paru tidak memberitahukan pada saya, Ayah, Ibu maupun kakak.

Justru beliau memberitahukan pada suami saya sebagai rekan kerjanya di Rumah Sakit. Hasilnya memang buruk.

Hasil Tes Darah CEA 

Untuk teman-teman ketahui, tes Darah CEA (Carcinoembryonic Antigen) merupakan pemeriksaan untuk mengukur kadar protein CEA dalam darah. Hal ini dilakukan sebagai penanda tumor, terutama kanker kolorektal atau usus besar.

Hasil tes CEA tersebut menunjukkan angka yang sangat tinggi. Jika orang normal dan tidak merokok mestinya kadar CEA dalam darahnya tidak lebih dari 4. Namun hasil tes Ayah menunjukkan CEA sekitar 100. Itulah yang dikhawatirkan oleh dokter spesialis paru pada Ayah kami. Oleh karena itulah dokter menyarankan untuk melakukan CT Scan agar lebih yakin.

Karena kadar CEA yang tinggi pada orang dewasa menjadi indikasi adanya kanker, meskipun tidak menutup kemungkinan kondisi non-kanker juga bisa menyebabkan CEAnya tinggi. CEA juga tidak boleh menjadi satu-satunya penegakan diagnosa, oleh karena itulah CT Scan penting dalam hal ini.

Saya sudah punya firasat buruk melihat kadar CEA Ayah saya tinggi dan sudah pasti ada yang tidak beres dalam tubuhnya, begitu juga dengan nyeri yang tak tertahankan di punggungnya. Namun kami tetap positive thinking dan memutuskan untuk tidak memberitahu Ayah dan Ibu terlebih dahulu sampai diagnosa tersebut tegak.

Perjalanan Mencari Penegakan Diagnosa

Setelah CT Scan awalnya Ayah menolak untuk rawat inap. Namun saya, kakak, dan juga Ibu memaksa untuk Ayah segera dirawat inap. Karena tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya kan? Apalagi kondisi punggung Ayah yang nyerinya luar biasa itu sudah tidak bisa kami tangani sendiri di rumah. Ayah sampai menangis kalau nyerinya tersebut kumat.

Pada saat CT Scan dengan zat kontras, memang sudah tampak ada bercak-bercak putih di paru-paru Ayah. Mulanya Ibu langsung bertanya pada dokter radiologi, namun untungnya dokter mengatakan agar menunggu konsultasi dengan dokter spesialis paru kami, dr. Siti Sajariah, Sp.P.

menemani cancer survivor
kiri : Ayah dan Ibu pasca CT Scan menunggu sekitar 15 menit untuk observasi. kanan : sebelum rawat inap, kami mengajak Ayah dan Ibu makan soto dulu di samping Rumah Sakit.

Setelah makan soto di samping Rumah Sakit, alhamdulillah Ayah mau untuk rawat inap. Agar kondisi tubuhnya terpantau dengan baik oleh perawat dan dokter.

Sore itu juga dokter Siti visit dan menjelaskan hasil CT Scan, dan memang benar ada benjolan atau tumor di dalam paru-paru Ayah. Untuk memastikan apakah itu kanker atau bukan harus dilakukan bronkoskopi atau pengambilan sample jaringan. Hari itu juga Ibu akhirnya tahu sakit apa sebenarnya Ayah kami. Namun kondisi tersebut belum kami sampaikan ke Ayah untuk menjaga psikisnya.

menemani cancer survivor
Kondisi Ayah di hari pertama rawat inap (beberapa staff, direktur dan juga kerabat datang menjenguk). Ayah masih bisa mengangkat tangan kanan dan makan sendiri

Saat itu Ayah hanya tahu bahwa ada bercak di dalam paru-parunya yang harus diobati dan harus dipantau oleh dokter.

Saya dan kakak saya sudah memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Ayah. Namun sampai hari kedua Ayah di Rumah Sakit, belum ada yang berani untuk menjelaskan pada Ayah perihal sakitnya tersebut. Oleh karena itulah Ayah ngotot untuk pulang karena merasa dirinya baik-baik saja.

Padahal saat itu Ayah diinfus pereda nyeri full selama di Rumah Sakit. Kami membayangkan bagaimana jadinya kalau di rumah dan tidak ada infus pereda nyeri? Begitulah. Sampai akhirnya dokter Siti memutuskan untuk merujuk Ayah ke Rumah Sakit tipe A, yaitu di RSSA dan menemui dokter Ungky yang ahli di bidang onkologi thorax.

perjalanan pejuang kanker
saat dokter berkunjung (tengah), setelah jemput Isya langsung nungguin Ayah di Rumah Sakit sampai maghrib (kanan)

Sebagus-bagusnya Rumah Sakit, memang lebih nyaman di rumah sendiri. Meskipun fasilitas lengkap, penunggu juga nyaman, namun yang namanya Rumah Sakit tetap saja tidak akan menjadi tempat yang kami inginkan untuk bermalam, meskipun satu hari saja.

Ayah mendapatkan bantuan banyak dokter spesialis dan dokter rekanan, hingga akhirnya setelah dirawat di Rumah Sakit Islam Aisyiyah kesayangan kami selama 4 hari, Ayah harus dipindahkan ke RSSA. Karena memang di RSI Aisyiyah Ayah tidak bisa mendapatkan pengobatan sebelum diagnosanya bisa tegak dan lebih meyakinkan jika diambil sample jaringan di dalam paru-parunya itu.

Menurut hasil CT Scan, jenis tumornya adalah tumor ganas (indikasi yang mengarah ke kanker) dan takutnya sudah stadium lanjut karena hasil USG tulangnya pun juga tampak bahwa sel-sel abnormal tersebut sudah menyebar ke bagian tulang belakang.

Hari ke-empat kami harus meninggalkan RSI Aisyiyah menggunakan ambulance menuju RSSA. Agar bisa menggunakan BPJS, maka kami harus menggunakan jalur masuk melalui UGD meskipun nantinya kami minta perawatannya naik kelas di Grand Paviliun RSSA.

Ibu, kakak, saya dan adik-adik sudah sepakat untuk patungan dan menanggung berapapun biaya yang dibutuhkan sampai Ayah saya pulih dan selesai melalui pengobatan demi pengobatan yang disarankan oleh dokter.

Jangan ditanya bagaimana perasaan kami. Saat tahu diagnosa awal melalui tes darah CEA dari suami saya sudah menangis sesenggukan. Membayangkan terjalnya jalan yang harus kami lalui, membayangkan bagaimana Ayah harus disuntik sana sini, dimasukkan alat ke dalam tubuhnya dan bagaimana Ayah bisa bertahan membuat kami sangat terpukul.

Kakak kedua saya yang sedang studi Doktoral di Jepang memutuskan untuk segera pulang meskipun hanya bisa menemani Ayah 2-3 minggu saja. Pun dengan adik saya yang sedang menyelesaikan studinya di Al Azhar, Mesir, ia pun kami minta untuk pulang untuk menemani Ayah.

Baru di momen inilah keluarga kami benar-benar lengkap, berkumpul, saling menguatkan dan mendoakan untuk kesembuhan Ayah. Nanti saya sambung lagi ya bagaimana kemoterapi yang harus dilalui dan berapa biaya yang dibutuhkan yang tidak ditanggung oleh BPJS. Semoga artikel ini bermanfaat ^^

Yang jelas saat itu, yang kami tahu adalah, kami anak-anaknya harus kuat, bersemangat dan saling membahagiakan.

 “You never know how strong you are until being strong is your only choice.” — Bob Marley

 

 

1 thought on “Perjalanan Menemani Pejuang Kanker, Sehat Itu Mahal!”

  1. Melting. Doa saya sama seperti ketika mengunjungi keponakan yang ranap juga. “Yang sakit sudah dalam pantauan dokter, yang menjaga harus jaga kesehatan sendiri. Jangan sampai ikutan sakit juga,” Semoga Ayah mbak Ji segera pulih ya. Amiinn

    Reply

Leave a Comment