“Orang tanpa pengetahuan tentang sejarah, asal usul, dan budaya adalah seperti pohon tanpa akar.” – Marcus Garvey

Siapa sangka kain tenun yang pernah kita jumpai di pameran-pameran, khususnya kain tenun dari suku Dayak Iban memiliki makna mendalam di dalamnya?

Lebih dari Sekadar Kain Tenun

Hari itu, saya dan teman-teman Eco Blogger Squad berkesempatan untuk mengikuti online blogger gathering bersama Kak Margareta Mala dari Srikandi Pelestari Tradisi dan Konservasi suku Dayak Iban. Juga kak Novita Tourisia dari Cintabumiartisans.

Kak Margareta Mala dalam sesi pertama memberikan penjelasan tentang salah satu warisan budaya yang luar biasa dari suku Dayak Iban yaitu tradisi menenun.

Bukan sekadar kain biasa, tenun Dayak Iban adalah simbol identitas, cerita leluhur, dan bukti keahlian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Siapa sangka di tengah hamparan hutan hujan tropis Kalimantan, masyarakat Dayak Iban sudah sejak dulu dikenal sebagai suku pengembara dan pejuang tangguh. Namun, di balik kehidupan mereka yang dekat dengan alam, tersimpan keterampilan seni yang luar biasa: menenun kain.

Hasil dari yang mereka tenun itu tentu bukan kain sembarangan. Tenun ini tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Para wanita Dayak Iban menenun dengan penuh ketelitian, mengikuti pola yang diwariskan dari leluhur. Setiap motif dalam tenun ini memiliki makna khusus, sering kali terinspirasi dari mimpi, legenda, dan hubungan manusia dengan roh-roh alam.

Kain tenunnya juga berasal dari lembaran-lembaran benang yang telah diwarnai dengan pewarna alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan di sekitar lingkungan mereka. 

Proses Menenun yang Sakral dan Penuh Makna

prosesi nakar di Suku Dayak Iban

prosesi nakar di Suku Dayak Iban

Bagi suku Dayak Iban, dengan menenun, berarti kita ikut berperan serta dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi suku Dayak Iban, khususnya Nenun.

Apalagi jika proses nenun mereka ini menggunakan pewarna alami. Sehingga ini menjadikan proses nenun sebagai upaya konservasi terhadap jenis-jenis tumbuhan pewarna alam dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarna sintesis pakaian yang kebanyakan digunakan di sekitar kita.

Menenun bagi perempuan Dayak Iban bukan sekadar keterampilan, tetapi bagian dari perjalanan spiritual. Bahkan, dalam tradisi lama, seorang perempuan baru dianggap dewasa jika sudah bisa menenun dengan baik.

Proses penenunan juga dijelaskan oleh kak Margareta sebagai berikut :

1. Pemanenan Tanaman Pewarna Alam

Proses menenun diawali dengan pembuatan pewarna alam untuk mewarnai benang yang akan digunakan dalam menenun.

Sebagai contoh proses pemanenan rengat padi, menguku akar dan juga engkerebai untuk pewarna alam.

2. Proses Pembuatan Warna

Untuk pembuatan warna biru, kita bisa menggunakan Rengat Padi dengan cara merendam daun dan ranting tanaman Rengat Padi selama 24 jam.

Setelah itu warna biru akan muncul pasca perendaman. Jika warna sudah muncul, kita bisa menambahkan kapur sirih/kapur gamping untuk merangsang agar warna birunya mau keluar dan pekat.

Endapan atau pasta warna biru yang terbentuk itulah yang siap digunakan untuk proses pewarnaan benang.

3. Proses Pewarnaan Benang

Mula-mula, benang direndam terlebih dahulu dengan air deterjen. Lalu dibilas dan bisa dimulai dengan perendaman benang dengan cairan pewarna.

Setelah dicampur dengan cairan pewarna, pengeringan benang bisa dilakukan dengan cara diangin-anginkan.

4. Nakar atau Perminyakan

Setelah proses pewarnaan, yang tidak kalah pentingnya adalah proses nakar. Yakni proses pemberian protein pada benang dengan tujuan mengikat warna agar mampu bertahan lama dan memiliki warna yang lebih kuat pada kain serta membuat kain menjadi lebih tahan lama.

Bahan-bahan untuk nakar di antaranya seperti : lemak labi-labi, lemak ular, lemak ikan, kemiri, buah kelapa busuk, buah kelampai, buah jelemuk, buah kedondong, buah kepayang, kayu pohon jangau, lemak ayam, biji-bijian dan bunga-bungaan.

membuat kain tenun di suku Dayak Iban

prosesi nakar di Suku Dayak Iban

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Proses Nakar

Meskipun di mata kita nakar adalah kegiatan untuk memberikan minyak pada benang, namun perlu kita ketahui bahwa di suku Dayak Iban, nakar di sini memiliki arti yang mendalam. Oleh karena itu ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan ketika melakukan nakar, di antaranya seperti :

  • Nakar tidak boleh dilakukan pada saat ada orang meninggal karena benangnya akan mudah rapuh dan putus, sehingga kualitas kain tidak akan bagus.
  • Yang mencampur ramuan nakar harus orangtua yang sudah beruban (usia 60 tahun atau lebih).
  • Wanita yang sedang menstruasi dan hamil tidak boleh melakukan upacara nakar.
  • Upacara Nakar tidak boleh dilakukan di dalam rumah
  • Benang yang sudah dinakar harus dimasukkan ke dalam rumah betang dan dijaga sepanjang malam, tidak boleh dibiarkan tanpa ada yang menjaganya.

Adapun jenis kain tenun yang dihasilkan dari proses yang panjang tersebut adalah kain pile, sidan, songket dan juga pilih.

Motifnya pun bermacam-macam dan setiap motif memiliki arti tersendiri dan harus diperlakukan khusus. Beberapa motif sakral seperti manusia, ular, bunga-bunga, dan juga perahu memiliki nilai penting dan menjadi kain dengan motif yang sakral bagi suku Dayak Iban. Sehingga jika dijual atau dipakai sendiri, ada bagian-bagian tertentu dari motif  sakral tersebut di atas yang tidak boleh dipotong sembarangan.

Banyak juga beredar mitos yang entah bisa dipercayai atau tidak bahwa beberapa motif hanya boleh ditenun oleh perempuan yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam spiritualitas mereka.

Meski begitu, tantangan terbesar adalah melestarikan tradisi ini di tengah arus zaman. Semakin sedikit generasi muda yang tertarik untuk belajar menenun, padahal keahlian ini adalah warisan yang tak ternilai harganya. Untungnya, banyak komunitas dan pengrajin yang tetap gigih mempertahankan tradisi ini, bahkan mempromosikannya ke kancah internasional seperti kak Margareta. Salut banget!

Belajar Memanfaatkan Alam Untuk Sandang yang Berkelanjutan Bersama CintaBumiArtisan

ecoprinting bersama Cinta Bumi Artisan

ecoprinting bersama Cinta Bumi Artisan

Setelah tahu bagaimana rumitnya proses menenun dari suku Dayak Iban, sesi kedua online gathering Eco Blogger Squad Jumat lalu dilanjutkan dengan presentasi dari Cinta Bumi Artisans yang langsung disampaikan oleh kak Novieta Tourisia.

Cinta Bumi Artisans sendiri berfokus pada edukasi pada masyarakat tentang penciptaan karya seperti aksesoris dan juga sandang yang menggunakan bahan-bahan alami di lingkungan sekitar. Selain itu juga memberikan edukasi pada masyarakat tentang pentingnya memperhatikan apa yang kita kenakan.

Kami juga mempraktikkan bersama-sama step by step dari Ecoprinting yang hasilnya bikin pengen jualan ajaa hahaha..

Untuk teman-teman yang belum bisa mengikuti secara live kemarin, ini nih langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam proses pembuatan Ecoprinting dan juga bahan-bahan yang dibutuhkan.

ecoprinting bersama Cinta Bumi Artisan

pewarna alami dari biji alpukat

Bahan dan Peralatan yang Dibutuhkan

Bahan dan peralatannya sendiri bisa juga kita dapatkan dari Dye Kit dari Cinta Bumi Artisans :

  • Calico Cotton Totebag yang sudah dimordant.
  • Daun dan bunga kering yang bisa mewarnai (daun jambu, ketapang, kesumba, serutan kayu secang, bunga marigold)
  • Stik kayu untuk menggulung
  • Tali goni untuk mengikat gulungan
  • Peralatan dapur untuk mengukus yaitu kompor dan panci kukus (sebaiknya panci yang digunakan tidak sama dengan panci untuk memasak makanan).

Berikut langkah-langkahnya :

1. Scouring 

membuat ecoprinting totebag

Tahap pertama dimulai dengan pencucian menggunakan air panas dan sabun ramah alam seperti lerak, sabun minyak kelapa atau kemiri. Hal ini berguna untuk membuka pori serat dan meluruhkan lapisan kanji pada kain.

Oh iya perlu diingat bahwa dalam proses pembuatan ecoprinting ini, kita menggunakan kain berbahan alami ya guys, di antaranya seperti : sutra, linen, katun, tencel/lyocell, rami, hemp, dan lain-lain).

2. Mordanting

Tahap kedua dimulai dengan proses mordanting atau memampukan serat kain agar bisa menyerap dan mengikat pewarna alami secara optimal. Ada beragam bahan mordant ya teman-teman, namun yang umum digunakan adalah garam, alum, tunjung, dan daun loba.

3. Ecoprinting

membuat ecoprinting totebag

Nah, ini nih gonknya, proses ecoprinting atau pewarnaan dan cetak alami tumbuhan pada kain, kertas maupun benang.

Untuk pewarna alaminya, kemarin dicontohkan bisa menggunakan biji alpukat (ternyata bisa terbentuk warna pink darinya lho!), lalu bisa juga menggunakan kulit bawang merah yang nantinya bisa menghasilkan warna kuning emas yang berkilau.

Ada juga warna hijau dari berbagai macam dedaunan kering yang bisa kita kumpulkan dari lingkungan sekitar. Seru kan?

membuat ecoprinting totebag

4. Finishing

Nah setelah ecoprint, kain diberi jeda 5-7 hari sebelum proses finishing dan bilasan terakhir.

Jadi deh~

membuat ecoprinting totebag

Penutup

Banyak sekali hal yang saya dapatkan dari kegiatan online blogger gathering Jumat lalu, termasuk kebudayaan di balik lahirnya kain tenun yang indah itu. Karena ternyata tidak sekadar kain, tapi sebuah warisan budaya yang sarat makna dan filosofi.

Keindahan motifnya bukan hanya enak dipandang, tetapi juga menyimpan cerita leluhur yang layak untuk terus dilestarikan. Jadi, kalau kalian suatu saat berkunjung ke Kalimantan, jangan lupa untuk melihat langsung keindahan dan keunikan tenun Dayak Iban tadi yaa. Siapa tahu, kalian jadi tertarik untuk membawa pulang selembar kain yang penuh sejarah ini.

Begitu juga dengan praktik Ecoprinting yang mengesankan bersama Cinta Bumi Artisans. Sudah selayaknya kita mulai dari diri sendiri untuk lebih aware dengan sustainability fashion, jadi nilai plus kalau kita bisa mengamalkan ilmunya pula!

Semoga artikel ini bermanfaat yaa!