Aku udah nyerah ngajarin anakku baca, yang ada malah bertengkar terus! Akhirnya ngga mau belajar lah dia.
Sama banget, anakku juga gitu. Kalau aku yang ngajarin yang ada malah kayak perang. Bukannya belajar malah adu mulut.
Perbincangan di atas adalah yang terjadi ketika saya dan seorang teman mengeluhkan susahnya mengajari anak membaca. Dulu saat saya masih TK, sepertinya kok membaca itu mudah sekali dan untuk bisa memahami kalimat juga bukan hal yang butuh effort. Tapi begitu merasakan menjadi seorang Ibu, kok susah sekali ya ngajarin anak belajar membaca?
Ternyata perasaan saya divalidasi oleh seorang sahabat yang juga memiliki pengalaman yang sama. Ditambah anak kami sama-sama perempuan, juga sama-sama sekolah di TK yang berada di bawah satu yayasan yang memang tidak mengajarkan calistung secara intens.
Dulu kami mencari TK yang membiarkan anak tumbuh sesuai fitrahnya. Namun ketika anak sudah kelas B, jadi takut nanti kalau di Sekolah Dasar masih belum bisa membaca, gimana? Ada yang punya problem seperti saya ngga Ibu-Ibu?
Perjalanan Mencari Tempat Les Membaca dan Menulis
Awalnya saya mencari-cari tempat kursus membaca yang cocok untuk metode belajar anak saya Isya selama ini. Tapi belum juga bertemu les membaca yang cocok dan sesuai.
Sampai pada suatu ketika Kumon memberikan kesempatan untuk uji coba gratis di bulan Agustus beberapa waktu lalu. Setelah punya pengalaman bersama Kumon sejak bulan Juni di subyek Matematika, tanpa pikir panjang saya pun langsung mendaftar Uji Coba Gratis les membaca anak bersama Kumon di subyek Bahasa Indonesia.
Jangan tanya, Isya yang sejak awal sudah merasa cocok dan bahagia bersama Kumon beberapa bulan sebelumnya, tanpa pikir panjang meng-iya-kan tawaran saya untuk menambah satu subyek, yakni Bahasa Indonesia. Yes. Saya tahu Isya bukan anak yang fast learner, juga bukan anak yang rajin, tapi saya percaya bahwa Isya bisa melalui tantangan literasi tingkat awal ini. Yakni mengenali huruf, mengeja suku kata hingga mampu memahami kalimat demi kalimat.
“Tidak masalah seberapa lambat seorang anak belajar selama kita mendorong mereka untuk tidak berhenti. – Robert John Meehan
Kalimat Robery John Meehan tersebut memberikan saya semangat untuk tetap membersamai Isya seburuk apapun kondisinya. Tentu saja kita berharap yang terbaik untuk anak-anak yaa.
Mempercayakan Kemampuan Literasi Anak Bersama Bahasa Indonesia Kumon
Setelah uji coba gratis subyek Bahasa Indonesia Kumon selama dua minggu, saya diberi kesempatan untuk berkonsultasi dengan Kakak Pembimbing Kumon.
Sudah sampai mana level membaca Isya, apa yang menjadi kelebihan serta kekurangannya dan juga saran agar Isya mampu melampaui target literasinya sebagai seorang anak umur 5,5 tahun.
Selama dua minggu penuh Isya mulai menambah subyek pelajarannya ketika belajar. Alhamdulillah ngga ada tantrumnya.
Saya sendiri salut banget dengan Ibu-Ibu yang bisa membersamai anaknya ketika belajar, mengajari dan mendidiknya dengan baik.
Karena saya sendiri tidak bisa mengajari Isya dengan baik, oleh karena itu saya membutuhkan bantuan orang lain. Daripada Isya harus menghadapi ketidaksabaran saya dan amit-amit malah jadi trauma untuk belajar, saya pikir kursus membaca anak di Kumon bisa membantu kami.
Apalagi setelah progres baik di subyek sebelumnya di Kumon, wah saya makin penasaran, akan seperti apa nanti setelah Isya mencoba untuk les membaca dan menulis di Kumon.
Dari Satu Huruf ke Semesta Kata : Perjalanan Literasi Bersama Bahasa Indonesia Kumon
Sebagai orangtua, saya merasa cocok banget dengan metode belajar yang diterapkan di Kumon. Saya pikir metode dari Jepang ini juga pernah diterapkan di tahun-tahun ketika Oom dan tante saya sedang belajar di salah satu SMA di Malang. Namanya SMA PPSP. Jadi belajarnya mereka tuh belajar mandiri dengan paket.
Misalnya saya bisa menyelesaikan satu paket pelajaran dalam waktu 3 bulan, maka setelah itu baru boleh mengambil paket berikutnya. Jadi anak berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sayangnya ketika saya memasuki SMA tersebut sudah tidak diterapkan lagi metode seperti itu, padahal menurut saya bagus banget lho.
Berikut beberapa hal yang menurut saya menjadi kelebihan les membaca anak Kumon dan menjadi tempat yang saya percaya untuk menemani anak belajar :
1. Melatih Kemandirian Anak
Nah di Kumon sendiri, metode belajarnya juga belajar mandiri guys. Anak-anak meletakkan tasnya sendiri, mengambil “paket yang harus dikerjakan di hari tersebut” sesuai loker masing-masing, dan mengerjakan latihan secara mandiri. Jika ada yang tidak dimengerti, barulah ditanyakan.
Untuk anak seusia Isya sih belajarnya masih ditemani di awal-awal. Sampai akhirnya Isya terbiasa apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan selama belajar.
2. Meningkatkan Konsentrasi Anak
Jadi begitu anak datang, pastikan anak sudah dalam kondisi siap belajar. Sudah kenyang dan tidak mengantuk. For your information, tidak boleh membawa makanan maupun minuman ke dalam kelas. Lho? Kenapa?
Yes, semua itu untuk menjaga konsentrasi anak dan menjaga habitnya ketika belajar. Duduk sikap sempurna, tegak, memegang pensil dengan benar, tidak disambi makan dan minum, pokoknya saat belajar anak harus fokus.
Jauh banget dengan kebiasaan Isya ketika belajar sambil ngemil, emaknya juga sih. Ternyata metode ini efektif banget diterapkan ketika anak belajar. Saya bersyukur bisa bertemu dan punya kesempatan untuk memasukkan Isya ke Kumon. Karena akhirnya kebiasaan belajar Isya ini bisa terbentuk dengan baik, begitu juga dengan daya tahannya saat belajar.
Isya jadi mudah berkonsentrasi saat belajar dan juga perlahan mengerjakan satu lembar kerja Matematika dengan jumlah 80 soal selama kurang dari 10 menit. Tentu saja progres ini melalui perjalanan yang tidak mudah.
Jujur, tempat les Kumon-nya Isya ini sekitar 9km dari rumah kami. Namun jaraknya dari sekolah ke les Kumon hanya sekitar 3 km saja. Kok milih tempat yang jauh sih? Karena sekalian sepulang sekolah langsung les Kumon, lalu lanjut beristirahat di rumah Yangti-nya (jarak 3 km juga) sampai Bapaknya pulang kerja.
Isya juga harus melawan rasa tidak nyamannya ketika harus masuk ke tempat les sendiri, tidak boleh diantar sampai ke dalam, mencoba mengumpulkan PRnya ke Kakak-kakak Kumon sendiri, mengambil PR sendiri, dan tentu saja berlatih untuk bertanya jika ada hal-hal yang tidak ia mengerti. Ini adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri, karena Isya anaknya pemalu buangeeeeet.
Tapi alhamdulillaah semua terlampaui dengan baik dan Isya bertahan dengan segala keterbatasan dan kesulitannya.
3. Melatih Konsistensi dan Kedisplinan
Selain itu, anak-anak juga harus mengerjakan PR dari Kumon setiap hari. Tanpa satu hari pun terlewat. Ini yang saya sukai. Membentuk “habit” tidak semudah itu, tapi saya bersyukur tiga bulan belakangan Isya bisa melaluinya dengan baik tanpa drama.
Ada sih satu momen dia mogok tidak mau masuk ke Kumon. Katanya sih ngantuk kwkwkw, dan Isya memang mengambil hari Senin dan Sabtu (jamnya bebas pokoknya sebelum Kumon tutup), dan saat itu kami berangkat kesiangan, jadi sepertinya Isya ngga moodnya karena jadwal Kumon-nya bentrok dengan jadwal main :p
Terus kenapa sih harus mengerjakan PR setiap hari? Jawabannya seperti yang ada pada buku pantauan akademik milik Isya dari Kumon bahwa:
Mengerjakan PR setiap hari semata untuk memperkuat pondasi akademik setelah kebiasaan belajar dan kedisiplinannya terbentuk.
Dalam metode Kumon, sangatlah penting bagi siswa untuk menyelesaikan lembar kerja setiap hari secara mandiri. Seperti dalam olahraga atau musik, untuk membentuk pondasi yang kuat diperlukan latihan setiap hari. Setelah kebiasaan belajar di rumah dan di kelas terbentuk dengan baik, siswa akan ammpu meningkatkan kemampuan akademiknya.
Benar saja, tanpa diminta akhir-akhir ini setiap hari Isya justru minta mengerjakan PR Kumon. Sudah tumbuh kebiasaan dalam dirinya dan itu semua terjadi secara sukarela, tanpa saya paksa.
Oh iya, saat belajar, anak-anak juga diberi waktu ya teman-teman. Untuk Isya ini memang ditarget untuk satu paket lembar kerja yang 10 halaman itu maksimal 10 menit. Biasanya Isya bisa menyelesaikannya dalam waktu 6-7 menit. Bahkan juga pernah dalam waktu 5 menit saja. Alhamdulillah.
Kakak-kakak di Kumon juga menyarankan pada orangtua untuk menentukan Kumon Time di rumah. Misalnya setelah salat maghrib atau setelah mandi sore. Sehingga anak-anak akan jadi terbiasa dan secara alami menjadi rutinitasnya yang sayang untuk dilewatkan.
Ternyata kebiasaan belajar yang dibentuk oleh Kumon melalui metode belajarnya ini diaminkan oleh kakak saya yang sedang studi di Jepang dan membawa anak-anaknya juga. Mirip banget! Ya gimana engga, Kumon kan memang dari Jepang hehe..
Bahkan saat musim panas yang liburnya sekitar 40 hari pun anak-anak harus mengerjakan PRnya setiap hari wkwkwk. Lega deh akhirnya ada yang satu frekuensi perihal pembentukan habit belajar.
Bagaimana Bahasa Indonesia Kumon Membangun Kemampuan Literasi Anak?
Saat anak tumbuh dan belajar, kita pasti akan menyaksikan mereka mencapai banyak perkembangan penting di tahun-tahun awalnya. Salah satu pencapaian penting tersebut adalah pengembangan keterampilan motorik halus.
Melansir dari laman Kumon Indonesia, disebutkan bahwa keterampilan ini khususnya melibatkan fungsi otot kecil yang mengontrol tangan, jari, dan ibu jari. Keterampilan motorik halus akan membantu anak kita belajar bagaimana melakukan tugas-tugas penting secara mandiri seperti menulis, menggambar, dan mengancingkan pakaian.
Nah untuk anak seusia Isya atau yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak, mengembangkan keterampilan menulis tangan yang kuat pada usia dini merupakan bagian penting untuk membaca, menulis, dan komunikasi. Para ahli sering menyebut keterampilan motorik halus sebagai faktor kunci lain dari kesiapan masuk ke sekolah.
Inilah cara Kumon untuk membantu mengembangkan keterampilan motorik halus anak dan memberi mereka kepercayaan diri saat masuk ke sekolah dan mulai belajar.
1. Mengembangkan Otot & Keluwesan Tangan
Saat awal masuk Kumon, Isya dinilai menempati level paling dasar, yaitu level 5A Matematika dan juga ada tambahan lembar kerja “Zun-Zun” agar motorik halusnya lebih tajam dan melatih ketangkasannya juga ketika menuliskan huruf atau angka di atas kertas.
Adapun untuk Bahasa Indonesia, Isya masuk ke level paling dasar yaitu level 6A. Untungnya keterampilan menulis sudah diasah di subyek Matematika. Nah, untuk level 6A Bahasa Indonesia ini Isya langsung diajak untuk memperbanyak kosa kata dan menghafalkan huruf-huruf yang menyusun sebuah kata tersebut.
Seperti game flashcard, Isya mulai membaca satu kata, lalu dua kata, tiga kata, dan sekarang Isya sudah sampai di level 5A yaitu membaca sebuah kalimat sederhana.
Selain keterampilan membaca, anak-anak juga diajarkan untuk menguatkan otot dan juga keluwesan tangan. Saat pertama kali masuk Kumon, Isya diberi pensil khusus untuk mempertajam motorik halusnya. Yaitu pensil timah yang lebih lembut 6B atau 4B.
Setelah otot-otot kecil yang mengendalikan tangan siswa menguat, mereka akan memiliki kendali lebih baik atas pensil dan mampu menggambar garis yang lebih panjang. Lembar kerja beralih dari bentuk yang relatif lebar dengan garis pendek ke garis yang semakin panjang dan tipis.
Semua ini sudah dirancang oleh Kumon untuk membantu anak-anak menjadi nyaman dengan menggerakkan tangan mereka ke berbagai sudut dan arah.
2. Belajar Membaca dan Mengikuti Petunjuk Arah
Saat siswa mengembangkan keterampilan pensil yang tepat, mereka diperkenalkan pada keterampilan pra-membaca saat mengikuti arahan. Meskipun siswa tidak diharapkan untuk membaca secara mandiri pada tingkat ini, mereka akan mulai mengembangkan keterampilan asosiasi kata saat menghubungkan petunjuk arah ke ilustrasi warna-warni di lembar kerjanya.
3. Membangun Stamina
Setelah beberapa bulan ikut Kumon, kini Isya menjadi lebih percaya diri dan mandiri. Soft skill yang dimiliki oleh anak-anak ini akan memperkuat staminanya untuk menulis.
Sehingga segera dapat menyelesaikan sepuluh lembar kerja dengan mudah dan menambah waktu penyelesaian mereka. Setelah menyelesaikan level, anak-anak dapat menggambar garis yang kuat dan tepat.
4. Stimulus Motorik yang Maksimal
Mirip dengan matematika dan lembar kerja membaca, ekspektasi menulis meningkat secara bertahap melalui tingkat Keterampilan Memegang Pensil. Setelah anak-anak menjadi lebih nyaman dengan pegangan pensilnya, mereka akan mulai melatih tekanan pensil yang tepat.
Mereka juga akan mempelajari jumlah kekuatan tangan yang diperlukan untuk menggambar garis dengan menghubungkan dua objek. Nah di sinilah anak-anak akan mulai berlatih arah menulis dengan menggambar dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.
5. Tidak Hanya Sekadar Membaca, Tapi Juga Memahami Maknanya
Dalam perkembangannya, saya bisa merasakan bagaimana Isya mulai dilatih untuk membaca sambil memahami apa yang ia baca. Jadi Kumon tidak hanya memberikan stimulus untuk mengenali huruf, bagaimana mengeja kata, juga bagaimana membaca sebuah kalimat, tapi juga bagaimana memahami arti dan maknanya.
Isya juga jadi lebih suka bercerita, mengemukakan pendapat dan meningkatkan jumlah kosa kata yang ia miliki. Dua bulan yang menakjubkan sih menurut saya. Andai dari dulu saya masukkan Isya ke Kumon Bahasa Indonesia, hehehe..
Beberapa orang mungkin mengatakan metode ini monoton dan tidak menghibur. Namun sebenarnya, anak justru dilatih untuk keluar dari zona nyaman. Apa yang diajarkan melalui Kumon sejalan dengan visi misi keluarga kami untuk membentuk mental anak yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Jika sudah begitu, anak secara otomatis memiliki soft skill dari kebiasaan yang sudah terbentuk karena metode ini.
Jadi ketika banyak orang menyebut generasi strawberry yang empuk dan mudah “pecah” itu adalah generasi yang sekarang, saya pikir hal itu tidak berlaku untuk anak-anak kita yang sudah terasah sejak kecil kedisiplinan serta konsistensinya untuk mencapai sebuah tujuan.
Pernahkah Anak Bosan Belajar?
Tentu saja ada rasa bosan ketika Isya mengerjakan PR Kumon setiap harinya. Apalagi Isya memulainya dari dasar banget, berhitung dari angka 1-20 dan sekarang Isya sudah bisa penjumlahan setara anak SD alhamdulillah, progres yang menurut saya tidak bisa saya lakukan sendirian tanpa bantuan Kumon dan atas izin Allah tentu saja.
Dulunya Isya masih mengenal huruf-huruf saja, namun sekarang perlahan ia sudah mulai bisa membaca kata per kata. Hingga kalimat yang tersusun atas dua, tiga bahkan hingga empat kata. Tentu saja tidak sekadar membaca, tapi juga memahaminya dengan sangat baik.
Saat bosan, Isya pernah berkata seperti ini:
Buk kok aku ngerjakan ini terus? Ngga ada pengurangan?
Karena beberapa temannya memang sudah bisa pengurangan wkwkwk (ini usia TK ya, dan sekolahnya tidak mengajarkan calistung secara intensif, sesuai kurikulum lah ya), tapi banyak Ibu-Ibu yang mengajarkan anaknya calistung di usia-usia seperti Isya, jadinya mungkin dia ketrigger juga hehehe.
Lalu saya jawab :
“Nak, kalau diulang terus bukan berarti Isya ngga bisa, tapi biar Isya terbiasa dan teringat lebih lama. Isya jadi tahu dasarnya dan nanti pas ada soal yang lebih sulit, Isya jadi lebih paham caranya Nak. Ndakpapa yang sekarang memang bikin bosen, tapi coba deh Isya lihat nanti, pasti Isya jadi lebih pinter.”
Alhamdulillah Isya mendengarkan saya dan mau melanjutkan lagi untuk mengerjakan PRnya. Ya begitulah, ada saat-saat dimana anak pasti merasa bosan dan jenuh.
Kalau saya sih ngga memaksa anak harus kerjakan PR saat itu juga meskipun dia bosan. Tapi biasanya saya beri jeda, saya bolehkan bermain handphone selama 15 menit misalnya. Lalu setelahnya, Isya sudah fresh dan mau mengerjakan PRnya meskipun seharian main di luar.
Kembali lagi pada kita sebagai orangtua, jangan sampai ikut menyerah yaa.
Terimakasih Pahlawan Literasi Anak, Kumon Indonesia!
Saya kumpulkan beberapa lembar kerja yang dikembalikan oleh tutor Kumon, kira-kira segini nih PR yang sudah dikerjakan Isya selama kurang lebih empat bulan ini :
Jadi anak benar-benar dibuat untuk memahami terlebih dahulu sebelum pindah ke konsep berikutnya. Kalau di sekolah kan ngga, paham ngga paham ya lanjut ke konsep berikutnya.
Ini yang menurut saya masih menjadi kelemahan sistem pendidikan di Indonesia. Padahal anak butuh pemahaman mendasar yang kuat sebelum bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya agar tidak kesulitan di kemudian hari.
Doakan Isya istikamah yaa teman-teman dan jadi kompleter Matematika dan Bahasa Indonesia di Kumon.
Saya sendiri sih tidak pernah merasa sayang dengan biaya pendidikan untuk anak. Karena menurut saya pendidikan adalah warisan termahal dari orangtua untuk anak-anaknya.
Semangat membersamai anak-anak yaa Ibu-Ibu, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kesabaran, serta umur yang panjang agar bisa mendampingi tumbuh kembang anak-anak.
Yuk tingkatkan literasi anak kita bersama Kumon Bahasa Indonesia 🙂
“Whoever neglects learning in his youth, is lost for the past and is dead for the future.” (Euripides)
Referensi :
Kumon Indonesia
Related Posts:
- Alasan Mendaftarkan Anak ke Kumon, Kupas Tuntas…
- Menumbuhkan Minat Baca Sebagai Bagian dari Gaya Parenting
- Nafas Baru untuk Lagu Anak Indonesia : Hoala dan Koala
- Rekomendasi PAUD Montessori Albata, Selami Ilmu…
- Simak Aktivitas Seru Untuk Anak Agar Jadi Lebih…
- Tips Jadi Ibu yang Bahagia dari Perusahaan Ramah Keluarga
Baru ya mbak. Setau aku dulu kumon hanya MTK dan Bahasa inggris. Anakku soalnya dua2nya kumon dari SD sampai SMP
Ya benar baru mbak dan memang pas banget dengan kondisi anak Indonesia yang minim baca dan sebagai orang tua bisa pilih Kumon nih sebagai pilihan meningkatkan literasi mereka
memang sudah biasa kejadian, kalau anak diajari belajar orang tua, pasti ada saja drama. Apalagi kalau andalan utamanya menangis, maka kelar sudah belajarnya hahaha.
Jadi memang bagus anak dileskan atau belaar dibimbingan belajar. Termasuk kumon. Materi dan proses belajarnya sudah pas untuk anak-anak.
Mengajari anak agar bisa membaca itu challenging banget Mbakk. Semangat ya Isya, semoga lesnya lancar dan akhirnya mahir calistung.
Dulu kukira Kumon hanya les matematika ternyata ada les baca juga ya.
Program Kumon Bahasa Indonesia ini memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa kita. Semoga semakin banyak anak yang mendapatkan kesempatan belajar di sini.
Kirain Kumon cuma buat belajar Matematika. Ternyata ada bahasa juga.
Btw, pembelajaran di TK dan SD memang seperti ada semacam jurang pemisah. Di TK nggak boleh belajar calistung, tapi di kelas 1 SD wajib udah bisa calistung. Semoga Menteri yang baru memperhatikan hal ini.
bener banget mba, jadi bingung kan kita hahaha. di SD blm bisa calistung nti ketinggalan jauh, sementara di TK katanya isinya cuman main, hmm
temanku anaknya juga les kumon ini dan memang jadinya cepat banget ngerjain matematika. trus disiplin juga ngerjain tugasnya setiap hari. tapi aku baru tahu kumon juga ada buat les membaca pastinya membantu banget ya mbak dalam melatih anak kita belajar membaca. ini juga aku pusing banget ngajarin anak keduaku membaca kok nggak segampang yang dikira, hihi
Wah kudet diriku, ta pikir di Kumon hanya belajar matematika, ternyata ada bahasa Indoensia dan bahasa Inggris ya. Membentuk habit belajar ini yang tidak mudah jadi harus dibiasakan sejak kecil
Setuju kak, lewat les di kumon anak² bisa belajar mandiri, berani dan percaya diri. Soalnya daku pernah menjadi asisten pembimbing di Kumon hehe.
Kalau tahu metode nya ternyata malah jadi lebih mudah ya. Membaca dan menulis mengajarkan malah lebih sulit menulis kalau menurut saya. Hehehe…
Kumon banyak membantu banget ya. Alhamdulillah
Wah banyak banget poin yang bikin angguk-angguk setuju mba Jihan hahaha.. Kalau pengalamanku kemarin ajarin anak baca di rumah mba. Ga pakai target muluk2 sih, kalau memang sampai batas waktu ternyata anak belum bisa, baru aku carikan les. Alhamdulillah bisa. Bisa dibilang ini gara2 covid ya mba wkwk dimana semuanyaaaa bener2 terbatas huhu. Jadi mau ga mau ibuknya harus ikut les dulu biar punya ilmu buat ajarin baca hihi. Btw, aku juga kepikiran buat daftar ke kumon sih, nanti coba cari info. Aku sepakat banget tentang habit disiplin yang perlu ditanamkan sejak kecil.
Btw, a day in my life-ku kayaknya samaan deh sama mba Jihan. Aku kalau siang juga di tempat kakung karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Baru balik setelah anak pulang les ngaji, pas sama jam pulang bapaknya wkwkwkw
Bring Sucsess, Kumon! Wkwk.. Memang ya anak zaman sekarang tuh agak syulit diajarin baca.
Dan ternyata, membaca bisa sekaligus ngajarin nulis dong ya, biar seiring sejalan bisanya.
Jujur aku baru tahu kalau Kumon ada program khusus Bahasa Indonesia loh Mbak. Karena dulu terkenalnya jika les di Kumon itu pelajaran matematikanya yang pasti melesat. Menarik ya, sekarang ada program ini, jadi anak-anak pun bisa lebih memahami bahasa Indonesia dengan baik.
Memang dalam mendidik anak itu nggak bisa sendirian ya mbak, malah jadi emosyeenn dan adu mulut, jadi perang deh, wkwkwk. Butuh tutor yang sesuai dengan yang anak butuhkan. Kumon jadi pahlawan bagi anak, bener-bener memandu anak dalam sistem belajarnya. Nggak memaksa apalagi sampai harus selalu lanjut ke konsep berikutnya padahal anak belum paham.
Wah, kalau Kumon ini adalah nama tempat bimbel yang udah nggak asing lagi. Keren sih programnya, jadi nggak cuma ngajari anak membaca dan menulis saja. Tapi juga mengajari anak literasi secara luas. Segala motorik dan kefokusan anaknya juga diperhatikan dan dimasukkan dalam program.
Koq samaan ya, ketika anak udah di kelas TK B, kita jadi lebih aware dengan sudah bisakah dia membaca. Coz masuk SD sekarang kalau belum bisa baca dianggap aneh dan memang pelajaran kelas satu SD-nya sudah belajar pemahaman teks, bukan belajar membaca lagi.. haduuh
Aku dulu pernah ngajar di Kumon, hehehe.. tapi untuk anak SD.
Dan pastinya beda targetnya kalau anak TK yaa.. Meski di kumon tuh levelling dan sistemnya mandiri, tapi ajaibnya memang bisa membangkitkan semangat anak-anak daripada belajar dengan tema seperti di sekolahan. Mungkin karena anak-anak merasa bisa dan level serta waktunya terpantau yaa…jadi seperti main games.
Buat yang targetnya bisa membaca dan paham, kudu banget ikutan kelas Uji Coba Gratis les membaca anak bersama Kumon di subyek Bahasa Indonesia.
Owh sekarang Kumon ada les bahasa Indonesia juga ya….dulu pas anakku les di Kumon baru ada matematika dan bahasa Inggris aja. Dengan adanya Kumon, sekarang lebih mudah ya emak-emak ngajarin baca.
Kedua anakku ikut Kumon Matematika dan Bahasa Inggris dari TK – SMP..Memang membantu sekali pelajaran di sekolah. Diajarkan pula kedisplinan dll.
Senang sekali saat ini Kumon ada les Bahasa Indonesia juga tentu akan makin membantu anak dan ortu pastinya