Dari akar mangrove di Raja Ampat sampai pohon jeruk di dataran tinggi, alam sering kali sudah menyiapkan solusi ganda: jaga lingkungan, dapat pangan.
Di Kampung Friwen, Raja Ampat, garis mangrove tampak dari perahu seperti dinding hijau yang rapat. Bagi wisatawan, itu pemandangan. Bagi warga, itu dapur, pagar alami, dan warisan untuk anak cucu.
Mangrove : Benteng Alami Sekaligus Ruang Hidup
Fungsi ekologis mangrove sudah banyak dikenal. Akarnya menjadi tempat berlindung ikan muda, meredam abrasi dan hantaman gelombang, menjaga kejernihan air yang penting bagi terumbu karang, dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Tentu saja hal ini menjadikan keseimbangan ekologi tercipta di wilayah perairan Papua yang kaya.
Bagi warga Friwen, mangrove lebih dari itu. Ia bagian dari ruang hidup dan sumber penghidupan sehari-hari. Karena itu, pemanfaatannya harus bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya.
Pelajaran ini datang lewat kehilangan. Pada tahun-tahun awal ledakan pariwisata Raja Ampat, banyak mangrove ditebang untuk membangun homestay. Melansir dari National Geographic Channel, sekitar 60 hektar rusak, ikan yang bertelur di sana berkurang, dan kepiting bakau, sumber protein penting warga, perlahan menghilang.
Perempuan yang paling merasakan dampaknya, sebab dalam adat setempat, mangrove dan hutan pesisir adalah wilayah mereka.
Mangrove dan Sejuta Manfaatnya
Dalam webinar bersama Eco Blogger Squad, Kak Daniel Kbarek menyebutkan bahwa Raja Ampat ini adalah salah satu pemilik area mangrove yang paling utuh di dunia dan menyimpan varietas flora pesisir yang mendukung rantai makanan lokal secara berkelanjutan.
Selain itu, kawasan Raja Ampat menjadi laboratorium alam bagi manusia. Karena ekosistem di dalamnya menjadi rumah bagi biota endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga menjadikannya sebagai aset warisan dunia yang tidak tergantikan bagi ilmu pengetahuan dan lingkungan.
Tidak berhenti di situ, mangrove juga menghasilkan detritus dari guguran daun yang menjadi sumber energi utama dalam rantai makanan perairan pesirir. Serta punya fungsi menyaring sedimen dan polutan untuk menjaga kejernihan air yang krusial bagi kelangsungan hidup biota laut.
Bahkan mangrove juga bisa menjadi sumber pangan. Beberapa sumber yang saya cari, belum pernah mencantumkan bahwa mangrove ini bisa menjadi bahan pangan lho, kok bisa? Nah, di sinilah saya mendapatkan ilmu baru langsung dari praktisinya.
Ekosistem Mangrove Bisa Jadi Sumber Pangan? Kok Bisa?
Siapa sangka ekosistem mangrove ternyata punya manfaat banyak selain penjaga keseimbangan ekosistem dan pelindung biota laut? Yes, mangrove bisa dimanfaatkan sebagai berikut :
- Pengolahan Tepung Mangrove : Buah mangrove merupakan buah jenis Bruguiera gymnorrhiza bisa menjadi bahan baku tepung. Dalam hal ini bisa menjadi substitusi karbohidrat lokal. Anggota KUPS Sinya Lep di Desa Friwen dilatih untuk mengolah buah mangrove (aibon) sehingga bisa menghasilkan aneka camilan dan makanan bergizi untuk pasar lokal.
- Minuman tradisional : Sari buah mangrove bisa menjadi bahan dasar sirup dan minuman kesehatan kaya antioksidan.
- Pembuatan camilan lokal : Mama-Mama Friwen mengembangkan produk olahan berupa kue dan keripik berbasis buah mangrove lho. Hal ini menjadi bagian dari peningkatan ekonomi kreatif.
- Madu Mangrove : Warga Raja Ampat juga memanfaatkan nektar bunga sebagai sumber ekonomi alternatif yang bisa menghasilkan madu alami. Madunya mengandung antioksidan spesifik yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.
Selain mendapatkan pelatihan untuk pengembangan produk UMKM dari Mangrove, masyarakat desa Friwen juga diberi pelatihan kurasi produk untuk memastikan standar kemasan dan rasa yang dihasilkan lebih enak untuk dinikmati. Sehingga produk turunan mangrove memiliki daya saing yang kuat di industri oleh-oleh.
Program ini memberikan peran strategi bagi sekitar 35 perempuan untuk mengelola bisnis rumahan lho! Mulai dari penetapan harga hingga manajemen pesanan secara kolektif.
Mama-mama Friwen yang Bergerak
Setelah mengikuti webinar bersama Eco Blogger Squad dan Kak Daniel Kbarek dari The Asia Foundation dan Kak Steve dari Kawan Pesisir, saya jadi tahu bahwa dari kehilangan yang dirasakan oleh warga Friwen, lahirlah gerakan pemulihan.
Mama-mama Friwen lah yang menjadi aktor utama gerakan pemulihan itu. Sedikit demi sedikit rehabilitasi mangrove dilakukan sejak sekitar 2014. Restorasi ini memulihkan habitat ikan dan kepiting, sekaligus menghadirkan pangan alternatif seperti yang sudah saya sebutkan di atas.
Melansir dari laman Mongabay, adanya pendampingan Perkumpulan Kawan Pesisir, warga memperoleh penetapan Hutan Desa seluas sekitar 1.025 hektare pada 2024, yang memperkuat hak kelola sekaligus membuka peluang usaha berbasis hutan dan pesisir.n
Daniel Kbarek menyebutkan dalam webinar bersama Eco Blogger Squad kemarin bahwa kegiatan Rehabilitasi agar Mangrove tetap lestari dijalankan dengan beberapa strategi, di antaranya :
- Penegakan Hukum Adat : Masyarakat adat di Kampung Friwen menerapkan larangan pengambilan sumber daya mangrove pada periode tertentu untuk pemulihan ekosistem secara alami.
- Zonasi kearifan lokal : Mereka menentukan area sakral dan area pemanfaatan terbatas guna menjaga keberlangsungan stok pangan laut.
- Pelibatan tokoh masyarakat : Masyarakat Friwen memperkuat peran pemangku adat dalam memantau kepatuhan warga terhadap aturan perlindungan kawasan mangrove.
Pengawasan Berbasis Masyarakat (Sasi), Lestarikan Hari Ini Nikmati Bersama Esok Nanti
Hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Raja Ampat tentu tidak hanya memanfaatkan mangrove sebagai penjaga alam dan juga sumber bahan pangan mereka, tapi juga melakukan inovasi berupa pengawasan berbasis masyarakat (Sasi) untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.
Bagaimana masyarakat melakukan pengawasan?
- Kesepakatan Adat : mereka menetapkan aturan sasi bersama masyarakat.
- Patroli Rutin : melakukan pengawasan di wilayah darat dan laut.
- Pemasangan Tenda Batas : menandai area sasi di laut dan darat.
- Pencatatan dan Pelaporan : mendokumentasikan temuan dan perkembangan.
- Koordinasi Pihak terkait : bekerjasama dengan Pemerintah dan mitra untuk penegakan aturan.
Sehingga sumber daya pangan dari biota laut tetap terjaga, ekonomi mangrove dan pesisir semakin lestari, kesadaran masyarakat juga meningkat, sehingga masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang pun tampak jelas di depan mata.
Friwen yang Jadi Kawasan Ekowisata Berbasis Ketahanan Pangan
Setelah adanya pemulihan serta pemanfaatan mangrove yang sudah dilakukan oleh masyarakat Desa Friwen, muncullah ekowisata berbasis ketahanan pangan yang bisa kita contoh untuk daerah-daerah lainnya.
- Diversifikasi pendapatan nelayan dengan mengembangkan paket wisata edukasi penangkapan ikan tradisional dan pemanenan komoditas mangrove yang berkelanjutan bagi wisatawan.
- Penguatan kuliner lokal yang menciptakan sentra ekonomi kreatif dan menyajikan produk pangan olahan dari ekosistem mangrove sebagai daya tarik wisata kuliner khas.
- Edukasi Konservasi Ekosistem dengan membangun jalur tracking mangrove yang mengintegrasikan pengetahuan tentang ketahanan pangan pesisir dengan perlindungan habitat biota laut.
Adanya ekowisata ini menjadi akses pasar dan rantai pasok pun lebih mudah. Karena mulai ada pembangunan infrastruktur logistik yang mempercepat distribusi produk olahan mangrove dari pulau terpencil ke pusat pasar perkotaan.
Keren banget ya? Dari desa kecil Friwen, kita jadi tahu bahwa aibon punya segudang manfaat yang bisa kita jadikan produk unggulan Indonesia yang mendunia.
Dari Friwen, saya jadi melihat kembali desa yang ada di sekitar rumah. Namanya Tegalweru, Dau, Kabupaten Malang. Salah satu desa yang terkenal dengan buah jeruknya.
Kebun Hesperides di Malang: Satu lahan, Multifungsi
Prinsip yang sama bisa kita lihat pada kebun jeruk di Malang. Kebun ini bukan sekadar tempat menanam buah. Ia bekerja dalam dua fungsi sekaligus.
Jeruk yang punya nama latin Hesperides ini punya Fungsi lingkungan juga lho.
- Fungsi lingkungan : Pohon jeruk menutup tanah dengan tajuk yang rimbun. Tutupan hijau ini membantu menahan limpasan air hujan, menjaga kelembapan tanah, dan menambah vegetasi di kawasan berlereng. Kebun yang dikelola dengan baik menjadi bagian dari lanskap hijau, bukan lahan terbuka yang rentan tererosi.
- Fungsi pangan dan ekonomi : Jeruk merupakan buah segar yang kaya vitamin C, dan bagi banyak keluarga petani ia juga tumpuan ekonomi. Bagi petani jeruk Dau, menanam jeruk bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Di Raja Ampat, mangrove menjaga pesisir dan pangan lautnya. Di Malang, kebun jeruk menjaga lereng dan pangan buahnya. Sama-sama ekosistem yang dirawat manusia, dan sama-sama menopang dapur keluarga.
Dwifungsi Tanaman Jeruk: Menjaga Lingkungan, Menghidupi Keluarga
Kebun jeruk sering dipandang sebagai urusan ekonomi saja: tanam, panen, jual. Padahal jika dikelola dengan baik, satu hamparan kebun bisa bekerja pada tiga lapis sekaligus. Ia menjaga lahan, menyediakan pangan bergizi, dan menggerakkan ekonomi warga.
Berikut penjabarannya, dengan contoh dari sentra jeruk di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, termasuk kebun jeruk yang ada di belakang rumah saya ^^
1. Fungsi lingkungan: menjaga tanah, air, dan keragaman lahan
Melansir dari Jurnal Universitas Diponegoro, tutupan pohon jeruk melindungi tanah. Karena Pohon jeruk adalah tanaman tahunan dengan tajuk rimbun. Kajian tentang sistem agroforestri menjelaskan bahwa tajuk pohon menahan air hujan sebelum menghantam tanah.
Tutupan vegetasi ini berperan besar dalam meminimalkan aliran permukaan dan erosi, karena tanah yang tak tertutup mudah hancur agregatnya oleh tumbukan hujan. Prinsip ini sangat relevan bagi kebun di lereng seperti kawasan Dau, yang berada di dataran tinggi 800–1.200 mdpl.
Tumpangsari menambah keragaman. Kebun jeruk tidak harus berupa jeruk saja. Penelitian di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) menguji tumpangsari jeruk dengan kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan ubi jalar.
Ubi jalar menghasilkan buah jeruk dengan bobot dan volume jus lebih tinggi dibanding kacang hijau dan kacang tanah, sementara kandungan vitamin C tidak terpengaruh nyata. Secara umum, sistem campuran juga lebih tahan risiko karena kegagalan satu jenis tanaman dapat ditutup oleh keberhasilan jenis lain.
Input alami mengurangi beban lingkungan. Sebagian petani di Dau merawat kebun dengan pupuk kandang, yang lebih alami dan hemat. Petani di Desa Sumbersekar memilih jeruk karena perawatannya mudah dan berjangka panjang, serta cukup dipupuk dengan pupuk kandang. Praktik seperti ini menekan ketergantungan pada bahan kimia sintetis.
Tentu saja fungsi lingkungan ini tidak otomatis. Kebun jeruk monokultur dengan penyemprotan pestisida intensif bisa membebani tanah dan air. Dwifungsi tercapai ketika kebun dikelola ramah lingkungan: tanah tertutup, ada keragaman tanaman, dan input kimia dijaga seminimal mungkin.
2. Fungsi pangan: gizi dan ketersediaan
- Buah segar bergizi. Jeruk dikenal sebagai sumber vitamin C dan mudah dikonsumsi semua lapisan usia. Peneliti buah dari Kementerian Pertanian menyebut jeruk baby cocok bagi bayi dan anak-anak karena rasanya manis. Ketika masyarakat semakin sadar pentingnya imunitas, jeruk dicari sebagai buah segar.
- Pasokan bisa disebar sepanjang tahun. Biasanya jeruk dipanen dua kali setahun. Balitjestro mengembangkan teknik yang mengombinasikan pengelolaan kanopi, nutrisi, dan pengendalian hama, sehingga panen bisa dilakukan setiap dua sampai tiga bulan, atau lima kali setahun, dan buah tersedia sepanjang tahun.
- Pangan tambahan dari tumpangsari. Ubi jalar dan kedelai di sela pohon jeruk menambah ragam bahan pangan keluarga, tanpa membuka lahan baru. Ini sejalan dengan pendekatan program PAPeDA di Papua yang mengintensifkan lahan yang sudah ada.
3. Fungsi ekonomi: dari kebun ke kampung
- Pendapatan langsung dari buah. Di Selorejo, BUMDes setempat mencatat perputaran uang hampir Rp2 miliar pada 2020 dari seluruh unit usahanya, dan puluhan petani binaannya rata-rata memperoleh keuntungan lebih dari Rp50 juta per tahun bahkan untuk varietas berkualitas terendah. Harga di tingkat petani memang berfluktuasi. Petani di Sumbersekar menyebut kisaran Rp5 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram tergantung ukuran buah.
- Wisata petik jeruk. Kebun juga bisa menjadi destinasi. Di Desa Gadingkulon, tiket masuk petik jeruk Rp15.000 dengan tambahan Rp10.000 per kilogram untuk jeruk yang dibawa pulang, dan kunjungan memuncak pada Mei–Juni saat musim jeruk. Kebun bukan hanya menjual buah, tetapi juga pengalaman menyenangkan, sehingga pendapatan tambahan hadir tanpa menambah luas lahan.
- Hilirisasi dan UMKM olahan. Buah yang berkualitas rendah atau berlebih tidak harus terbuang. Di Selorejo, pengabdian masyarakat mengembangkan olahan dari jeruk berkualitas rendah menjadi produk bernilai dengan gizi baik. Di Poncokusumo, kelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya hingga Universitas Muhammadiyah Malang mendorong inovasi minuman jeruk untuk UMKM desa. Bahkan Desa Kucur diproyeksikan menjadi percontohan nasional hilirisasi jeruk lewat rencana pabrik tepung jeruk dan wisata edukasi.
- Limbah menjadi produk. Kulit jeruk adalah limbah organik yang masih jarang dimanfaatkan, padahal bisa diolah menjadi marmalade dan manisan kulit jeruk. Pengelolaan limbah seperti ini menutup lingkaran: yang dulu sampah menjadi sumber pendapatan, dan beban lingkungan pun berkurang.
Tiga Fungsi yang Saling Menguatkan
| Fungsi | Bentuk | Manfaat bagi masyarakat |
|---|---|---|
| Lingkungan | Tutupan tajuk, tumpangsari, pupuk organik | Tanah terlindungi, lahan lebih tahan risiko |
| Pangan | Buah segar, panen berkala, tanaman sela | Gizi keluarga, ketersediaan sepanjang tahun |
| Ekonomi | Penjualan buah, wisata petik, olahan, pemanfaatan kulit | Pendapatan berlapis, lapangan kerja, UMKM desa |
Ketiganya saling menopang. Tanah yang sehat menghasilkan buah yang baik, buah yang baik menghasilkan pendapatan, dan pendapatan yang layak membuat petani punya alasan merawat kebunnya untuk jangka panjang.
Namun, Selalu Ada Tantangannya…
Dwifungsi ini rapuh terhadap iklim. Pada 2025, seorang petani di Dau melaporkan panennya turun menjadi sekitar 2,5 ton, jauh dari 10–11 ton pada tahun-tahun sebelumnya, dan laporan itu mengaitkannya dengan iklim yang ekstrem.
Karena itu, sebagian petani mulai mengurangi jumlah pohon atau melakukan diversifikasi tanaman. Kebun yang beragam dan dikelola bijak bukan hanya baik bagi lingkungan, tetapi juga menjadi strategi adaptasi.
Dari Friwen, Malang Menuju Bangkok Climate Action Week
Pelajaran dari kebun jeruk Malang selaras dengan kisah mama-mama Friwen bahwa lahan yang dikelola bijak bisa menjaga alam sekaligus menghidupi keluarga. Jeruk menopang lereng dan pangan buah, sedangkan mangrove menjaga pesisir dan pangan laut.
Menjelang Bangkok Climate Action Week (3–11 Oktober 2026), yang menyorot klaster Food dan Nature, dua kisah ini mengingatkan bahwa solusi iklim yang paling tahan lama adalah yang memberi manfaat nyata bagi warga di sekitarnya.
Kisah Friwen dan Malang berada tepat di persimpangan dua klaster itu: pangan bergantung pada alam yang sehat, dan alam terjaga ketika masyarakat punya sumber pangan serta penghidupan yang layak.
Ada empat pesan yang bisa dibawa dari kedua tempat ini:
- Aksi iklim yang tahan lama dimulai dari komunitas. Pemulihan mangrove Friwen dijalankan warga sendiri selama bertahun-tahun.
- Hak kelola menentukan keberlanjutan. Penetapan Hutan Desa memberi warga kewenangan dan alasan kuat untuk menjaga.
- Pangan lokal adalah strategi iklim. Tepung aibon di pesisir dan buah jeruk di dataran tinggi sama-sama mengurangi ketergantungan pada pasokan dari jauh.
- Lahan yang dikelola bijak bisa berfungsi ganda. Melindungi lingkungan dan memberi makan keluarga tidak perlu dipertentangkan.
Penutup
Setiap pohon mangrove yang tumbuh di pesisir Raja Ampat dan setiap pohon jeruk yang berbuah di kebun Malang adalah investasi untuk generasi berikutnya. Menjaga hutan dan mangrove bukan berarti menolak pembangunan, melainkan memastikan meja makan hari ini tidak mengorbankan meja makan esok hari.
Kedua tempat ini berbeda ekosistem, tetapi pelajarannya sama: menjaga hutan dan mangrove berarti menjaga sumber pangan bagi generasi sekarang dan mendatang. Tulisan ini juga hadir menjelang Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, ketika kisah dari kampung layak dibawa ke panggung iklim regional.
Semoga tulisan ini bermanfaat ya!








