Siapa yang tidak mengenal Bu Tejo? Nama yang menjadi viral pada Agustus 2020 karena film pendek “Tilik” yang sukses mengundang perhatian banyak masyarakat Indonesia ini sudah menjadi perbincangan dimana-mana. Mulai dari Youtube, instagram, twitter, blog, bahkan obrolan keluarga di meja makan. Bu Tejo yang dianggap merepresentasikan banyak ibu-ibu dalam masyarakat kita ini sukses memberikan banyak pelajaran dari sindirian-sindiran yang diungkap dalam film. Bukan hanya itu, saya kembali mengingat buku yang baru saja saya seleseikan yang berjudul Tipping Point. Karya Malcolm Gladwell yang menjadi International Best Seller.

Tipping Point 

tipping point bu tejo

Tipping Point dalam buku Malcolm ini berbicara tentang sebuah gagasan yang sederhana. Gagasan tersebut berisi tentang cara terbaik untuk memahami munculnya tren mode yang tiba-tiba naik lalu surut. Misalnya sebuah buku tidak terkenal lalu menjadi buku yang sangat laris. Atau meningkatnya kebiasaan merokok di kalangan remaja, atau fenomena getok tular. Bahkan perubahan misterius lain yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti film Tilik. Gagasan-gagasan, produk-produk, pesan-pesan yang disampaikan oleh Bu Tejo, dan perilaku menyebar seperti virus dan menjadi epidemi.

Ada tiga hal yang harus kita sadari bahwa lewat kekuatan mouth to mouth sebuah gagasan atau ide, produk, bahkan sebuah habit akan dapat menyebar secara luas bak epidemi. Ya, seperti penyakit campak yang mewabah lewat sekolah, pasar, dan lain-lain. Atau seperti yang kita rasakan saat ini, seperti Covid-19 yang bahkan menjadi pandemi dan membuat perekonomian banyak negara terpuruk.

Karakteristik pertama yaitu sifat menular (contagiousness), kedua yaitu kenyataan bahwa perubahan kecil dapat bermakna besar, dan ketiga adalah perubahannya tidak bertahap tetapi dramatis. Ketiganya adalah tiga prinsip sama yang juga berlaku untuk menerangkan bagaimana penyakit flu tiba-tiba menyerang saat dingin, pun bagaimana Covid-19 menjadi pandemi. Bahkan pada kasus Bu Tejo, keviralan film Tilik dan termasuk isi film yang banyak menerangkan bagaimana Tipping Point ini bekerja.

Gosip dari Bu Tejo

bu tejo dan gosip

pict from freepik

Gosip yang terus menerus digaungkan dari mulut Bu Tejo adalah bukti nyata bagaimana seseorang di pelosok pun mengenal sosok Dian yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal. Kita digiring oleh perbincangan-perbincangan Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya di dalam truk bagaimana sosok Dian ini. Mau tidak mau, sosok Dian kita ciptakan sendiri dalam kepala dan berharap itu tidak benar. Namun, bukti-bukti yang diberikan Bu Tejo seperti foto dalam unggahan Facebook menjadi salah satu poin penting yang menjadi jejak digital Dian saat ini.

Apa yang membuat Bu Tejo begitu penting dalam memicu epidemi sebuah gosip? 

Jelas, Bu Tejo tahu banyak yang tidak diketahui oleh ibu-ibu lain. Ia membaca lebih banyak daripada ibu-ibu lain, walaupun yang dibaca adalah media sosial, hehehe. Bu Tejo bak seorang bijak bestari yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sosial untuk memicu epidemi getok tular. Namun demikian, poin pentingnya bukan pada pengetahuan yang ia miliki, namun pada cara Bu Tejo menyebarluaskan pengetahuannya itu.

Kenyataan bahwa Bu Tejo selalu ingin berjaga-jaga dari sikap Dian dan ingin membantu ibu-ibu yang lainnya, yah dengan alasan hanya ingin membantu, bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk membuat orang lain tertarik. Inilah penjelasan yang disampaikan oleh Malcolm dalam Tipping Point. Bagaimana kisah kesuksesan Hush Puppies yang keren di sebuah toko loak, dibeli oleh seorang Moven Fashion. Kemudian ia menceritakan sepatu itu kepada teman-temannya, dan selanjutnya mereka berbondong-bondong membeli sendiri sepatu itu. Karena apa? Karena ia tahu mana sepatu yang bagus dan fashionable, orang-orang memercayainya karena profesinya.

Kalau setiap informasi yang diberikan Bu Tejo dipercaya dengan mudah oleh masyarakat di sekitarnya, maka Bu Tejo lah yang berperan sebagai seseorang yang memegang kendali penting dan ia memiliki kapasitas dalam dirinya. Sehingga tak heran jika setiap perkataannya akan selalu menjadi trend. Meskipun dalam kasus ini yang benar akan menjadi gosip atau ghibah dan jika salah akan menjadi fitnah. Bagaimana akhirnya, teman bloger sudah mengetahui sendiri ya, menjadi fitnah atau ghibah.

bu tejo cover tilik

pict from tribunnews

Dunia Menurut Kaidah Epidemi

Sebuah dunia yang mengikuti kaidah-kaidah epidemi sangat berbeda dari dunia yang sekarang kita tinggali. Coba kita renungkan konsep sifat menular atau contagiousness. Dalam buku ini kita diajak untuk berpikir bagaimana konsep tersebut bisa menjadi hal yang sangat penting dan berpengaruh. Ketika kita membaca sebuah kata “menular” yang langsung terpikir oleh teman bloger mungkin adalah penyakit batuk atau pilek atau virus Covid-19 yang berbahaya. Dalam benak kita, informasi yang sudah terpatri adalah bahwa kata “menular” mempunyai makna khusus yang berhubungan dengan biologi.

Namun, dalam kenyataannya ada juga epidemi mode, epidemi kejahatan, atau epidemi sebuah produk. Pastilah dalam kejadian-kejadian tersebut ada sesuatu yang sama menularnya dengan virus. Sebagai contoh, pernahkah teman bloger berpikir tentang “menguap”? Menguap adalah sesuatu yang ternyata bisa berdampak besar. Hanya karena membaca kata “menguap” dalam dua kalimat terdahulu-dan dua lagi dalam kalimat ini-cukup banyak diantara pembaca artikel ini akan menguap dalam beberapa menit mendatang.

Bahkan, ketika saya menuliskan paragraf ini saya sudah menguap satu kali. Jika teman bloger membaca artikel ini di kantor atau di tempat umum, kemudian menguap, ada kemungkinan bahwa beberapa orang yang melihat teman bloger menguap juga akan menguap. Demikian pula seterusnya ketika orang lain lagi melihat mereka menguap.

Dapatkah virus flu berbuat seperti ini? Dengan kata lain, Malcolm mencoba menjelaskan bahwa sifat menular adalah sifat tak terduga pada segala sesuatu, dan kita harus mengingat hal ini jika kita ingin mengenali dan mendiagnosis perubahan epidemik.

Tipe Kepribadian Bu Tejo

Pada buku Tipping Point ini, Malcolm Gladwell menyelidiki dan secara brilian menjelaskan fenomen Bu Tejo dan Tipping Point yang telah mengubah cara pikir orang di seluruh dunia tentang memasarkan suatu produk dan menyebarkan ide.

Gladwell memperkenalkan kita pada tipe-tipe kepribadian orang yang secara alami bisa bertindak sebagai penyebar ide dan tren baru, orang-orang yang menciptakan fenomena word of mouth atau getok tular. Dia menganalisis tren-tren di dunia mode, acara televisi untuk anak-anak, direct mail, dan hari-hari pertama Revolusi Amerika untuk menemukan petunjuk-petunjuk tentang cara membuat suatu ide menjadi sangat menular. Termasuk kita akan menemukan jawaban mengapa Bu Tejo bisa menjadi viral.

The Tipping Point merupakan kisah petualangan intelektual yang ditulis dengan semangat yang mudah menular dalam menggali kekuatan dan kebahagiaan dari berbagai ide baru. Yang paling penting, buku ini juga adalah sebuah peta penunjuk jalan menuju perubahan, dengan pesan penuh harapan-bahwa orang yang imajinatif, asalkan memasang tuasnya di tempat yang benar, tidak mustahil mampu menggeser bumi ini dari kedudukannya, untuk mengubah dunia.

 

The Tipping Point, Oleh Malcolm Gladwell

Penerjemah : Alex Tri Kantjono Widodo

Cetakan ke-14, Maret 2020, 325 halaman.

Penerbit Gramedia, Jakarta

3.5/5

Baca Juga Every Body Lies, Review