Ada momen-momen dalam perjalanan saya sebagai penulis dan pembicara di mana kata-kata yang biasanya mengalir lancar tiba-tiba tertahan di tenggorokan. Momen itu terjadi belum lama ini, saat saya mendapat kehormatan menjadi narasumber bedah buku “Narasi Gurunda” karya saya sendiri di Radio Republik Indonesia (RRI) Malang.
Awalnya, saya datang dengan persiapan profesional sebagai seorang penulis. Saya telah mencatat poin-poin penting yang ingin saya sampaikan dan bagaimana saya merajut kasih sayang seorang Ayah sekaligus guru bagi semua jamaah dan murid-muridnya di sekolah maupun universitas dalam barisan kalimat yang puitis namun bernyawa.
Namun, begitu lampu tanda “On Air” menyala dan presenter mengajukan pertanyaan yang menurut saya menyedihkan, mikrofon mulai menangkap getar suara saya, segalanya berubah.
Sosok Guru yang Hidup Kembali
Buku “Narasi Gurunda” bukan sekadar kumpulan teks. Ia adalah cermin besar yang memaksa saya menatap kembali wajah-wajah tulus para Ayah, juga pendidik yang telah membentuk siapa saya hari ini. Saat seorang di sebelah saya mulai membedah bab demi bab yang mengisahkan pengabdian tanpa tanda jasa, memori saya justru terbang melampaui sekat ruang siaran.
Saya teringat akan ketulusan seorang Ayah sekaligus guru idiologis yang tetap tersenyum meski beban hidupnya berat, atau tangan dingin mereka yang memoles bakat saya hingga saya berani menyebut diri sebagai seorang penulis.
Saya berusaha memotret sisi paling manusiawi dari seorang “Gurunda” yaitu sisi yang sering kali kita lupakan dalam hiruk pikuk dunia pendidikan yang kaku.
Saat Frekuensi Menjadi Saksi Bisu
Puncaknya adalah ketika saya mencoba membacakan atau mengutip salah satu bagian paling menyentuh dalam buku tersebut. Di sana, di tengah keheningan studio RRI yang dingin, suara saya mulai bergetar. Ada sesak yang tiba-tiba menyerang dada.
Saya mencoba menarik napas panjang, berusaha tetap profesional. Namun, bayangan Ayah saya yang sekarang tengah berjuang melawan kankernya terlalu jujur untuk dilawan dengan logika. Pertahanan saya runtuh. Air mata hampir jatuh begitu saja, untung saja tidak membasahi naskah yang saya pegang.
Untuk beberapa detik, hanya ada jeda dan tawa kecil untuk menyembunyikan betapa pedihnya saya saat itu. Meskipun mungkin tertangkap oleh telinga para pendengar setia RRI di luar sana. Saya tidak malu, karena pada saat itu saya menyadari satu hal: Buku yang baik bukan hanya buku yang selesai dibaca, tapi buku yang mampu mengembalikan kemanusiaan kita.

Mengapa Kita Harus Membaca “Narasi Gurunda”?
Pengalaman emosional saya di RRI hari itu adalah bukti otentik bahwa Narasi Gurunda adalah sebuah “surat cinta” yang wajib dibaca. Buku yang tulus saya selesaikan untuk kado agar jejak kebaikan Ayah saya tetap abadi. Buku ini adalah pengingat bahwa di balik setiap kesuksesan seseorang, ada doa dan air mata Ibu dan istri yang tak pernah putus.
Bagi saya, bedah buku kali ini adalah perjalanan spiritual singkat. Ia mengajarkan saya bahwa memahami Narasi Gurunda dari sudut pandang orang lain, yaitu pembedah yang juga guru SD saya dulu bukan hanya soal membedah teknik menulis, tapi soal merasakan detak jantung di balik setiap kata.
Terima kasih RRI telah memberi ruang, dan terima kasih Bapak Panjilmo Putro telah membedah Narasi Gurunda dan memberikan sudut pandang baru, sehingga apa yang selama ini hanya tersimpan di palung hati kami yang terdalam akhirnya bisa dirasakan kehangatannya oleh seluruh pendengar.










