Ada yang bertanya-tanya ngga sih, kok bisa di tahun 1998 Indonesia mengalami krisis moneter? Ekonomi benar-benar jatuh, ambruk, seolah tak ada harapan?

Saya pikir, soal krisis moneter ini disebabkan oleh politik yang carut marut saja. Namun ternyata tidak hanya karena itu lho! Melalui informasibank.com, saya mencoba meraba-raba apa yang terjadi saat itu dan bagaimana Indonesia bisa jatuh terpuruk.

Krisis Moneter dan Masa Depan Perbankan di Indonesia

perbankan indonesia

Bagi anak generasi 90-an seperti saya, tentu sudah tidak asing dengan krisis moneter di Indonesia yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu saya masih duduk di Sekolah Dasar dan tak tahu mengapa tiba-tiba sekolah saya yang semula adalah milik Bhayangkari, digusur dan saya pun terpaksa harus pindah sekolah.

Ada apa ya? Kenapa sekolah sampe dijual-jual? Ngga paham kenapa dulu kayak gitu..

Seiring berjalannya waktu dan bertumbuhnya saya, jadi tahu bahwa krisis moneter Asia 1998 menjadi lembaran suram bagi masyarakat Indonesia secara umum, dan nasabah perbankan secara khusus. Bagaimana tidak? Keberadaan bank yang diharapkan bisa menjadi tempat menyimpan uang yang aman justru menjadi tempat pertama yang diserbu masyarakat saat itu, termasuk orang tua saya.

Banyak yang akhirnya bangkrut perusahaannya, terpaksa menjual harta benda yang mereka punya. Krisis finansial yang memukul sektor keuangan atau perbankan tersebut membuat para nasabah panik dan berbondong-bondong untuk menarik uang mereka.

Boro-boro yaa tahu kode bank yang sekarang bisa kita akses dimana saja dan kapan saja melalui informasibank.com, justru beberapa orang kehilangan hartanya di bank. Semengerikan itu! Masa-masa yang kita nikmati saat ini, kemudahan transaksi baik secara offline maupun digital, adalah salah satu yang patut disyukuri setelah kegagalan perbankan di Indonesia mempertahankan kestabilannya.

Tercatat dalam sejarah ada 16 bank terdampak bank runs yang ditutup. Di antaranya yakni Astria Raya Bank, Anrico Bank Limited, Bank Andromeda, Bank Citra Hasta Dhana, Bank Dwipa Semesta, Bank Guna Internasional, Bank Harapan Sentosa, Bank Industri, Bank Jakarta, Bank Kosagrha Semesta, dan Bank Mataram Dhanarta. Ada yang pernah mengingat bank-bank ini ngga?

Siapa sangka bahwa masa-masa tersebut dikatakan oleh banyak orang sebagai masa-masa jahiliyah perbankan. Salah satu sebabnya tentu saja karena tata kelola yang kurang baik, sistem yang belum matang dan secanggih saat ini.

Meskipun memang krisis Ekonomi Asia atau Krisis Moneter pada 1997/1998 bermula dari krisis mata uang di beberapa negara Asia, seperti Thailand bahkan hingga Korea. Krisis itu menjalar ke Indonesia dan dengan cepat menggoyang perekonomian nasional yang pondasi ekonominya rapuh.

Pondasi ekonomi Indonesia dinilai keropos karena sistem perbankan yang buruk serta besarnya utang dalam dolar AS. Dari sini kita tahu ya akarnya ternyata tidak hanya satu hal, tapi banyak hal.

krisis moneter dan perbankan di Indonesia

Krisis menjatuhkan nilai tukar rupiah dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.900 per dolar AS. Krisis juga membuat inflasi Indonesia melonjak hingga 77% sementara ekonomi terkontraksi 13,7% lebih. Bayangkan! Saya ikut merinding ketika menuliskan ini.

Berbagai imbas Krisis Moneter yang pahit ini sudah dirasakan banyak pihak, baik masyarakat berpenghasilan rendah sampai para pengusaha tersohor yang berakhir pada kebangkrutan. Mulai dari melonjaknya harga barang hingga yang paling epik adalah kejatuhan Rezim Orde Baru. Tercatat dalam sejarah kan?

Kembalinya Kepercayaan Masyarakat pada Perbankan Indonesia

Saya bersyukur sempat mengalami masa-masa gelap itu meskipun belum bisa merasakan secara langsung dampaknya. Karena yang saya rasakan saat itu, saya masih bisa makan 3x sehari meskipun dengan menu sangat sederhana (tempe, tahu, telur dibagi dua dengan adik), dan saya masih bisa jajan. Alhamdulillah.

Segera setelah kejadian pahit tersebut, Indonesia membentuk dan menguatkan LPS serta memperkuat sistem perbankan itu sendiri. Sehingga bank-bank di Indonesia sampai saat ini bisa berkinerja dengan stabil, sehat dan menguntungkan.

Kehadiran LPS pun perlahan tapi pasti turut mendukung kembalinya kepercayaan nasabah tehadap institusi perbankan. Hal ini bisa terlihat dari semakin meningkatnya simpanan nasabah dari tahun ke tahun. Hingga kita sampai di titik ini. Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dollar tak kunjung turun, tapi masih stabil lah ya.

Perekonomian di Indonesia juga masih terus tumbuh dan bahkan berkembang dari waktu ke waktu. Dilansir dari situs resmi Bank Indonesia, bahkan bisa dikatakan perekonomian di Indonesia stabil dan masih tetap kuat di tengah perlambatan ekonomi global itu sendiri.

Namun bukan berarti kita jadi lengah, tidak! Pemerintah harus terus mengawal, meningkatkan sistem perbankan di Indonesia agar kepercayaan masyarakat terus meningkat.

Terlebih ketika pandemi yang menyerang kita beberapa waktu lalu. Banyak isu yang beredar bahwa saat itu bisa saja terjadi krisis moneter untuk yang kedua kalinya di Indonesia. Alhamdulillah, segala yang dikhawatirkan tidak terjadi. Roda perekonomian yang berputar di seputar bisnis Usaha Mikro dan Menengah tersebut sampai sekarang masih bisa bertahan meskipun tertatih-tatih.

Oh iya, bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang perbankan di Indonesia bisa banget mengakses informasibank.com lho! Tidak hanya memberikan informasi tentang kode bank yang teman-teman butuhkan, tapi di sana juga dibahas tentang pengajuan kartu kredit hingga informasi lengkap tentang KPR dari berbagai bank di Indonesia, baik bank milik Pemerintah maupun bank swasta.

Setelah panjang lebar kita membahas bagaimana masa-masa kelam itu, teman-teman yang lahir di tahun 90-an ada yang pernah mengalami hal serupa ngga? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar yuk!

Semoga artikel ini bermanfaat ya!

 

Referensi:

informasibank.com

Bank Indonesia = www.bi.go.id