Hahaha ya emang sekolah anakmu sekolah pinggiran, terbelakang.

Meskipun diucapkan dengan nada becandaan, entah mengapa kalimat tersebut membekas banget di hati saya. Istilah sekolah pinggiran adalah sekolah terbelakang hampir tidak pernah saya dengar setelah menjadi seorang Ibu. Lalu ketika anak saya memasuki usia lima tahun, kalimat itu kembali terdengar dan membuat saya tertawa getir.

Ibu, Setiap Tempat Adalah Sekolah

sekolah pinggiran

salah satu kegiatan anak saya di sekolah, Panen Karya dan Bazar

Saat itu saya sedang berkumpul bersama beberapa teman, entah membahas apa tiba-tiba kita sedang membahas bagaimana orang tua di sekolah anak masing-masing. Kebetulan banget para orang tua di sekolah anak saya ini orangnya santai semua, atau memang saya yang menganggapnya demikian.

Dikatakan santai tuh maksudnya ya jarang kumpul bareng lalu membahas enaknya besok anak-anak pentas mau menampilkan apa, enaknya di hotel mana? Atau arisan para orang tua nih mau dimana? Masih banyak lagi sepertinya. Alhamdulillah para orang tua di kelas anak saya (setidaknya yaa, dan setahu saya di kelas lain juga sama) tidak seperti itu.

Setiap Ibu sudah sibuk dengan urusan domestik atau pekerjaannya masing-masing. Kami hanya berkumpul saat sekolah memang ada event yang membutuhkan bantuan wali murid. Jadi arisan, perkumpulan paguyuban sambil ngopi atau ngemil cantik tidak pernah ada.

Maka wajar jika kami memang saling panggil Mama A atau Ibu A. Saya memang selalu menekankan agar dipanggil Ibu saja, bukan Mama. Berkali-kali kalau absen untuk listing di Grup saya selalu sematkan “Ibu Isya” di sana, bukan “Mama XX” seperti yang lainnya. Ya semata karena panggilannya Ibu, bukan karena pick me, dan saya lebih nyaman dipanggil demikian.

Karena itu semua sekolah anak saya dibilang terbelakang. Karena emak-emaknya tidak ada yang suka arisan dan ngumpul ngomongin masa depan anak TK. Sayangnya saya bahagia sekali dengan itu, tidak ada kumpul-kumpul yang tidak perlu, karena hakikatnya yang sekolah kan anak, bukan emaknya. Tapi entah mengapa kebahagiaan saya jadi terusik karena sekolah anak saya dianggap berbeda.

Padahal meskipun sekolah anak kita di dasar jurang sekalipun, tempat itu tetaplah sekolah. Seperti kata Roem Topati Masang : Setiap buku adalah ilmu, setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.

Istilah Sekolah Pinggiran

istilah sekolah pinggiran

Memilih sekolah yang dianggap terbelakang oleh orang-orang itu adalah kemauan saya. Sekolah itu adalah TK Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang yang terletak tidak jauh dari rumah Ibu saya. Hanya 10 menit berjalan kaki atau 3 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.

Tempatnya di belakang toko buku Wilis dan memang agak masuk ke gang sempit yang menjadi persimpangan antara jalan besar dan gang kecil yang menghubungkannya dengan rumah-rumah warga yang berdempetan.

Meskipun begitu, di TK tersebut ada 5 kelas, 1 ruang kepala sekolah, guru dan TU, 1 gudang, halaman yang menyejukkan dilengkapi dengan banyak permainan, 1 ruang untuk Tempat Penitipan Anak, dan 4 kamar mandi yang berfungsi dengan baik. Semuanya dihuni oleh anak-anak yang setiap harinya melantunkan asmaul husna, dzikr pagi, hafalan Al Quran, hingga salat Dhuha berjamaah.

Saya bersama enam saudara kandung lainnya semua sekolah di sini. Kakak saya yang pertama saat ini menempuh sekolah doktoral di salah satu universitas negeri di Malang, lalu kakak kedua saya menempuh doktoral di Jepang bersama keluarganya, lalu adik saya yang jadi anak keempat adalah salah satu pegawai perusahaan swasta di Karawang, adik nomor 5 menempuh Master di bidang ekonomi, adik nomor 6 juga sedang menyelesaikan master di bidang Psikologi Klinis, serta adik nomor 7 sedang menempuh S1 di Universitas Al Azhar Mesir.

Mereka semua produk TK ABA 24 Malang 🙂 Bukan TK internasional, bukan pula TK yang dianggap unggul dan mewah. Namun saya bangga dengan itu.

Bangga dengan Sekolah Pinggiran yang Memupuk Empati dan Rasa Syukur

sekolah pinggiran dan terbelakang

Melihat berbagai macam background dari teman anak saya di TK ABA 24 memang 50% cukup memprihatinkan. Ada yang single mom, single dad, ada yang secara finansial sangat membutuhkan bantuan, ada yang bahkan tinggal dengan neneknya saja kecuali di akhir pekan.

Sungguh menuliskan ini membuat hati saya teriris. Melihat bagaimana miniatur kondisi Indonesia ada di depan mata saya. Beginilah kita. Inilah bangsa kita.

Anak-anak kerap menjadi korban orang dewasa dan tak jarang mereka harus melaluinya sendirian. Namun kalau mereka masih dicap sebagai anak sekolah pinggiran dan terbelakang, bukankah itu sangat menyakitkan hati mereka?

Saya justru bersyukur anak saya sekolah di tempat yang mengajarkan anak saya untuk jadi anak yang pandai bersyukur, mudah berempati dengan temannya yang mungkin hanya bisa membawa bekal satu macam saja di antara sekian banyak macam jenis bekal yang estetik.

Saya justru bersyukur anak saya sekolah di sekolah pinggiran dan dianggap terbelakang yang bahkan untuk bayar SPP saja mereka tak punya, tapi keinginan untuk sekolah begitu kuatnya hingga anak harus diantar oleh ibunya sambil berjalan belasan kilometer.

Saya justru bersyukur anak saya sekolah di sekolah pinggiran dan katanya terbelakang yang memberikan keleluasaan untuk wali murid memilih nominal SPP untuk anak-anaknya. Memangnya, masih ada ya SPP Rp 50.000 untuk anak KB dan TK di Malang? Di sinilah jawabannya.

Jika orang tua memang tak mampu, boleh banget dicicil, dibayar semampunya, namun mereka tetap mendapatkan pelayanan yang sama seperti anak-anak lainnya yang SPP nya di atas seratus ribu rupiah.

Saya justru bersyukur bisa membawa anak saya ke sekolah yang tidak pernah memandang latar belakang orang tua. Semua guru yang dibayar juga di bawah 500 ribu rupiah untuk guru honorer, namun semuanya ikhlas memberikan ilmu dan juga mendidik anak-anak hingga bisa mendoakan orang tuanya.

Anak saya juga berlatih untuk berempati pada teman yang harus mendapatkan penanganan khusus, karena sekolahnya tak menolak untuk mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka saling berbagi dan juga bermain bersama.

Saya bangga anak saya bersekolah di sana meskipun mungkin ada banyak orang yang menganggap sebelah mata. Bagaimana saya dan anak saya menghafal Al Fatihah, menghafal surat pendek, berlatih untuk membiasakan salat fardhu, berbagi sembako untuk warga sekitar, doa untuk orang tua, doa menuntut ilmu, itu semua adalah kebiasaan yang terbentuk dari sekolah pinggiran dan yang dikatakan terbelakang.

Wahai Ibu, hati-hati dengan lisan yang mungkin dapat menyakiti orang lain. Hati-hati dengan mindset yang terbentuk karena gaya hidup hedonis, karena setiap tempat sesungguhnya adalah sekolah. Karena manusia akan selalu belajar hal baru di sana.

Semoga Ibu-Ibu yang menyekolahkan anaknya dengan SPP minimum namun perjuangan maksimum tidak berkecil hati dan menganggap anak-anaknya “kalah” dengan anak-anak lain yang sekolahnya bermewah-mewah.

Semua itu adalah pilihan yang harus sama-sama dihormati, pilihan terbaik seorang Ibu untuk anaknya agar mendapatkan pendidikan terbaik untuk keberuntungan di dunia maupun di akhirat kelak, aamiin.

 

PS : saya sudah mencoba melupakan kalimat yang memang konteksnya “bercanda” itu, dan mungkin bisa dianggap sepele oleh yang mengucapkan. Tapi entah mengapa itu membuat saya terganggu jika tidak menuliskannya di sini, semata-mata bukan untuk membandingkan dengan sekolah lain, tulisan ini murni curhat dan juga sebagai katarsis hehe.. siapa tahu dengan tulisan ini, saya tak lagi menyimpan hal-hal negatif di dalam pikiran.