Bapak-Bapak Wajib Baca! Kim Ji Yeong, Review

Kim Ji Yeong sama sekali tidak sedih. Yang tidak tahan dihadapinya adalah saat-saat seperti itu. Kim Ji Yeong ingin berkata bahwa ia sangat sehat, tidak butuh vitamin apa pun, dan ia ingin membahas rencana keluarganya dengan suaminya sendiri, bukan dengan kerabat-kerabat yang baru pertama kali ditemuinya. Namun yang bisa dikatakannya hanya, “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

(halaman 133)

Karena aku tidak menonton filmnya, kupikir kisah dalam buku ini adalah kisah nyata. Meskipun sudah ada label “Novel” di bagian belakang buku. Tapi tetap saja membacanya hingga akhir masih merasa bahwa Ji Yeong adalah sosok yang nyata  di dunia ini. Tidak hanya di Korea, tapi juga di Indonesia.

 

Cho Nam Joo juga mengatakan hal yang sama karena tokoh Ji Yeong sangat mirip dengan teman-teman wanitanya. Begitu pun aku, merasa banyak sekali kemiripan yang ada pada Ji Yeong dan diriku. Ketika ia harus berbagi kamar dengan saudara perempuannya, ketika akhirnya kakak perempuannya memilih jurusan sesuai keinginan orang tuanya saat kuliah, hingga saat Ji Yeong tak kunjung hamil. Justru ketika aku merasa baik-baik saja dengan melewatkan waktu berdua saja setelah enam tahun pernikahan, banyak orang di luar menghakimi dengan berbagai opini mereka.

 

Mengapa kau menunda hamil?”
“Tidak baik lho menunda keturunan.”

Endebra endebre yang lain. Rasanya ingin kujawab, Mengapa semua orang ribut tentang keturunan? Ini kan masalahku dengan suamiku. Mengapa mereka begitu ingin tahu apa yang sedang terjadi padaku hingga tidak bisa memiliki keturunan sampai usia pernikahan hampir mencapai sepuluh tahun lamanya?

 

Mereka tidak akan mengerti karena mereka tidak pernah berada di posisi yang sama denganku. Atau mungkin mereka mengerti, hanya saja mereka tak memiliki empati. Justru inilah bagian menyakitkan : Mendengar berbagai macam komentar orang ketika mereka mulai menghakimi.

 

Satu kejadian lain paling menohok yang dialami Ji Yeong adalah ketika ia minum kopi di taman, dengan stroller bayi di tangan kirinya dan segelas kopi di tangan kanannya. Beberapa orang mengomentarinya yang sedang duduk-duduk di taman dengan menikmati kopi.

 

Aku juga mau punya suami yang bekerja sehingga aku bisa berjalan-jalan santai sambil minum kopi.”

“Ibu-ibu kafe memang beruntung.”

 

Rasanya ingin kutumpahkan kopi panas yang dipegang Ji Yeong ke bibir mereka semua. Katakanlah harga kopi itu sepuluh ribu rupiah. Mereka juga minum kopi yang sama. Atau bahkan mungkin jika aku minum kopi seharga satu juta rupiah. Bagaimana aku ingin menghabiskan uang suamiku adalah urusanku, bukan urusan mereka. Aku juga tidak mencuri uang mereka. Aku sudah susah payah merawat bayi merah ini dari lahir hingga bisa tumbuh sehat sebesar ini. Aku melepaskan hidupku, impianku demi membesarkan anak ini. Tapi mulut-mulut kotor orang-orang itu malah menganggap ibu-ibu yang ingin menikmati kopi adalah seperti serangga.

 

Pada kenyataannya waktu santai seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak kecil berusia 0 sampai 2 tahun adalah sekitar 4 jam 10 menit setiap hari, dan waktu santai seorang ibu yang menitipkan anaknya ke DayCare adalah 4 jam 25 menit. Hanya selisih 15 menit. Ini berarti menitipkan anak ke institusi tidak berarti seorang ibu rumah tangga bisa beristirahat. Perbedaannya hanyalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa menggendong anak atau sambil menggendong anak. Apalagi dengan ibu pekerja? Kapan waktu istirahat mereka?

 

Lalu mereka masih menuntut banyak hal dari kita seorang ibu. Kami sadar bahwa sudah kodratnya tugas seorang ibu memang demikian. Namun lupakah bahwa Rasulullah juga mencontohkan bagaimana beliau membantu pekerjaan rumah istrinya? Meringankan pundak istrinya?

 

Kim Ji Yeong benar-benar tokoh yang hidup. Kim Ji Yeong adalah kita semua. Hanya saja Kim Ji Yeong belum beruntung. Semuanya terlambat ketika ia akhirnya terjebak dalam tekanan mentalnya hingga berujung depresi. Kita semua yang seperti itu mungkin saja akan berakhir seperti Ji Yeong yang malang. Oleh karena itu, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua pria yang ada di dunia ini. Agar mereka mengerti dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hingga pada akhirnya banyak Ji Yeong-JI Yeong baru yang lahir. Jika sudah seperti itu, tidak ada lagi masa depan, kan?

 

 

Kim Ji Yeong, Lahir tahun 1982 by Cho Nam Joo

192 halaman, Penerbit Gramedia, Cetakan Kedua Desember 2019.

3,5/5

Leave a Reply