Please twitter do your magic!

Seperti Harry Potter yang mengucapkan mantra dengan tongkat Elder miliknya, media sosial pun seperti tongkat yang diharapkan bisa menjadi penolong bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Tentu teman-teman sering sekali mendengar kalimat tersebut di atas. Salah satu kalimat yang juga disebut mantra oleh jagat dunia maya. Mantra yang selalu saya baca sampai habis jika itu berupa thread. Biasanya orang-orang yang menyebut mantra itu karena sangat membutuhkan pertolongan orang-orang di dunia maya. Harapannya apa yang menjadi permasalahan yang dikeluhkannya di media sosial bisa ditemukan solusinya.

Seperti sifat asli kebanyakan orang Indonesia yang selalu mudah berempati dan ikut campur urusan orang lain, bim salabim! Mantra itu jadi penolong bagi si empunya postingan. Entah ketika dia membutuhkan pertolongan untuk menghabiskan dagangan emaknya, atau pertolongan menemukan adiknya yang hilang bertahun-tahun.

jejak kebaikan di media sosial

Kekuatan Media Sosial Laksana Tongkat Elder Milik Harry Potter

Ada begitu banyak suara negatif yang kita baca maupun dengar tentang dampak media sosial. Salah satunya efek tsunami informasi yang akhirnya membuat kita sebagai pengguna sosial media menjadi lebih pesimis dan juga khawatir ketika pandemi melanda negeri ini.

Sebenarnya semua hal yang kita lakukan dan berkaitan dengan alat atau “perantara” untuk mencapai suatu tujuan, bisa memiliki dampak positif maupun negatif. Seperti dua sisi mata pisau yang bisa digunakan untuk membunuh dan juga memasak. Keduanya berasal dari “alat” yang sama bukan?

Namun sebagai masyarakat yang cerdas tentu kita tidak ingin terus menerus terperangkap dalam aura negatif atau hal-hal yang membuat kita terpuruk. Termasuk ketika kita menggunakan media sosial yang sebenarnya membawa banyak manfaat untuk kita di tengah pandemi.

Media sosial juga memiliki peran percepatan dan pelipatgandaan informasi dalam dunia digital. Itu artinya informasi yang sudah diunggah melalui media sosial akan berpotensi untuk lebih cepat menyebar dalam waktu singkat.

Masih ingat kan bagaimana kasus pelecehan seksual yang dialami oleh salah satu pegawai KPI Indonesia yang beberapa waktu lalu ramai diviralkan melalui media sosial dan juga diberitakan di berbagai kanal informasi?

 

kasus pelecehan seksual

Kasus Pelecehan Seksual yang akhirnya mendapat titik terang

Mungkin korban tidak akan mendapat keadilan jika ia tidak mengunggah suratnya untuk netizen Indonesia dan meminta pertolongan.

Masih ingat juga kan seorang anak yang hilang akhirnya ditemukan setelah beberapa tahun karena kakaknya mengunggah foto di twitter dan meminta pertolongan pengguna media sosial di Indonesia? Dalam sekejap, melebihi kemampuan polisi untuk melakukan pencarian, lagi-lagi media sosial membantu memecahkan masalah orang lain. Sang kakak akhirnya bisa menemukan adiknya.

Masih ingat juga kan viralnya kasus Baim Wong yang dinilai netizen Indonesia sebagai perlakuan yang tak menyenangkan pada Kakek Suhud? Siapa sangka lewat media sosial pula keduanya menemui benang merah dan menegaskan titik temu dari permasalahan yang sempat ramai dibicarakan oleh netizen Indonesia di jagat maya. Melalui media sosial, kakek Suhud pun mendapatkan banyak bantuan serta simpati dari masyarakat Indonesia.

baim wong dan kakek suhud

Bahu Membahu Lewat Media Sosial

Melalui media sosial pula para generasi Z hingga Alpha bisa melakukan kegiatan mulia di tengah pandemi. Bahu membahu saling meringankan beban sesamanya.

Ada banyak sekali gerakan gotong royong yang dilakukan di media sosial dan akhirnya bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

gotong royong era 5.0

Mungkin generasi saat ini tidak mengikuti gugur gunung, tidak pula grebeg Suro atau tayuban. Namun dengan segala keterbatasan, mereka siap menyebarkan kebaikan, bergotong royong bersama dengan yang lainnya untuk membantu yang membutuhkan, meski hanya dengan kuota dan hati yang lapang. Tidak sedikit pula orang-orang yang terbantu berkat mereka semua.

Karena menurut mereka, tak ada yang bisa mengalahkan senyuman dari orang-orang yang dagangannya dibeli habis, dari orang-orang yang akhirnya bisa menikmati nasi padang yang mewah, dari orang-orang yang bisa membeli seragam sekolah untuk anaknya, dan masih banyak lagi gerakan kebaikan di negeri ini melalui media sosial.

Cara Kami Memanfaatkan Sosial Media di Tengah Pandemi

Sudah banyak yang mengetahui dan merasakan bahwa pandemi tidak hanya melumpuhkan sektor ekonomi dan pembangunan, tapi juga pendidikan, kesehatan, dan banyak lagi. Pandemi membuat yang lemah semakin tak berdaya. Membuat yang berdaya akhirnya tumbang dan lumpuh.

Banyak kenalan, tetangga, dan juga beberapa kawan harus merelakan pekerjaannya karena kebijakan pengurangan tenaga kerja di lingkungan pekerjaan mereka. Tidak sedikit yang akhirnya banting setir menjadi tukang ojek, pengantar makanan, memulai usaha sendiri dari rumah, pekerjaan apa saja yang baik dan menghasilkan. Asal keluarga di rumah tidak menahan lapar.

Oleh karena itu dalam waktu satu tahun terakhir ini, saya bersama dengan teman-teman yang satu visi misi merealisasikan keinginan untuk membantu meringankan beban mereka. Dimulai dari yang terdekat seperti tetangga, kerabat, atau sahabat.

beramal lewat media sosial

galang dana melalui media sosial

Meski jumlahnya mungkin tidak sefantastis gerakan amal lain, namun saya punya prinsip bahwa tidak harus menunggu kaya untuk bersedekah atau membantu sesama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hanya butuh hati untuk menggerakkan tangan-tangan kita agar bisa memberikan waktu, energi hingga bantuan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan gerakan beramal hanya dengan sepuluh ribu ini saya sebarkan melalui media sosial komunitas kami. Karena kekuatan media sosial itu sendirilah kami mendapatkan banyak bantuan untuk disalurkan pada mereka yang membutuhkan. Siapa sangka dalam satu hari saja kami mendapatkan begitu banyak tanda cinta dari jagat dunia maya.

Kami membagi bahan makanan mentah, seperti minyak, telur, sayur, dan lauk protein. Meskipun hanya untuk kebutuhan makan di hari tersebut, namun menurut mereka “makan enak” tentu tidak bisa setiap hari sebagaimana yang telah kita rasakan.

media sosial

kekuatan media sosial dapat mengumpulkan tanda cinta dari para dermawan

 

Bagaimana rasanya? Tentu saja dengan duduk bersama dengan orang yang kurang mampu dan kurang beruntung bisa menghilangkan rasa egois dan kesombongan di dalam hati saya. Lalu menyadari begitu banyak kasih sayang Tuhan pada kita semua. Semua itu bisa dilakukan melalui media sosial.

Agar Jejak Kebaikanmu Menjangkau Lebih Banyak Orang di Media Sosial

Melalui strategi digital marketing yang pernah saya pelajari dari Coach Faizal Alfa dan Coach Fahmi, serta beberapa digital marketing specialist lainnya ada beberapa hal yang harus kita ketahui agar digital marketing yang kita tekuni bisa menjangkau lebih banyak lagi pengguna media sosial. Sehingga apa yang menjadi tujuan kita pun bisa lebih cepat tercapai.

Sebelum masuk ke media sosial, kalau niatannya untuk menebar kebencian, berita bohong, dan lain sebagainya, kita hanya akan dapat angka. Jadi, pastikan niat kita baik. Menebar kebaikan dan manfaat di dunia maya.

(Pungky Prayitno, Blogger & Digital Marketing Specialist, 2020)

Jleb banget ngga tuh? Jadi untuk netizen yang menggunakan medsos khusus untuk mendebat orang lain, mencari sensasi, bahkan menebar kebencian dengan berita bohong, ada baiknya renungkan kembali kalimat dari Mbak Pungky di atas. Karena sejatinya kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika niatnya buruk.

Jelas sekali ya, hukum alam bekerja. Siapa menanam, mengetam. Siapapun yang menanam kebaikan maka ia pun akan memeroleh kebaikan pula. Begitu juga sebaliknya, siapa menanam keburukan, maka jangan pernah berharap kebaikan datang padanya.

jejak kebaikan di tengah pandemi

 

Setelah kita menentukan tujuan kita dalam bersosial media, perlu juga diingat bahwa hasil unggahan kita ke sosial media tidak akan pernah hilang. Kalau dihapus gimana tuh? Bisa kok dihapus, dan mungkin akan hilang di timeline kita. Namun perlu diingat bahwa ada yang namanya screenshoot, sekali posting, lalu ada follower yang mengambil gambar unggahan kita di internet, maka selamanya tidak akan bisa kita tarik lagi.

Unggahan kita di media sosial tentunya hasil dari pemikiran yang sudah matang. Maka jika sudah diunggah, kita harus bertanggung jawab atasnya. Apa yang kita unggah sebaiknya melalui hasil kurasi dari diri sendiri. 

Berbicara soal hits and reach, sebenarnya perlukah kita memikirkan algoritma media sosial?

Nah, seringkali saya yang masih awam ini banyak menanyakan pola algoritma media sosial yang “katanya” berubah dari waktu ke waktu. Algoritma media sosial selayaknya ilmu science yang terus menerus update dan berkembang dinamis. Diantara yang perlu kita perhatikan yakni :

Engagement : Mereka ingin kita membangun kehidupan sosial baru di sana. Bukan hanya posting lalu BYE! Mereka ingin tahu apakah kita beneran ada dan hidup di sana?

Interest : apa yang muncul di beranda pengikut/teman kita adalah apa yang sesuai dengan behavior kita.

Timeline : posting konten saat Golden Time. Jangan posting saat orang sedang tidur. Postinglah pada saat orang masih hidup di sana. Kalau menurut Buku 3D Marketinggolden time posting di media sosial, kita ambil contoh instagram ya. Sesi pertama adalah ketika orang-orang baru saja memasuki kantor, sekitar pukul 7 hingga 9 pagi. Lalu sesi kedua saat jam makan siang atau istirahat, jadi sekitar pukul 12 hingga jam 2 siang. Sesi terakhir di malam hari yaitu sekitar pukul 6 hingga 9 malam.

 

infografis optimasi media sosial

Meskipun ada juga waktu-waktu tersendiri di luar jam tersebut di atas yang bisa dilihat dari insight media sosial kita. Pukul berapa orang-orang banyak melihat postingan dan berusaha untuk berinteraksi dengan kita.

Tentu saja algoritma di atas tidak serta merta bisa dijadikan patokan terus menerus. Karena sekali lagi, algoritma akan selalu berubah. Oleh karena itu, boleh-boleh saja memikirkan algoritma media sosial. Namun, jangan sampai kita melupakan “manusia” yang berinteraksi dengan kita di sana. Boleh saja memenuhi perhitungan mesin pintar, namun jangan lupa bahwa kita juga punya audience yang tidak memusingkan algoritma mana saja.

Maka untuk itulah perlunya membangun hubungan dengan audience/follower. Sebisa mungkin balas comment dan like mereka di setiap postingan kita. Karena mereka juga butuh waktu untuk membaca apa yang kita unggah, lalu memberikan komentarnya. Mereka memberikan waktunya pada konten kita. Maka hal yang bisa kita lakukan untuk “membina” dan menyuburkan hubungan itu adalah dengan sebisa mungkin membalasnya. Sehingga terjadilah interaksi yang dapat menambah nilai engagement kita.

Jangan takut dibilang kurang kerjaan nih balesin comment orang-orang. NO. 

Justru membangun bounding dengan follower adalah hal penting yang harus kita alokasikan sendiri waktunya. Siapa sih yang mau “berteman” dengan robot? Yes, kalau kata Mbak Pungky, perlakukan follower selayaknya manusia, bukan robot yang auto like/comment. Kalau kita senang saat comment dibalas, begitu pula perasaan mereka.

Sebar yang Baik Bersama Indozone Untuk Ekosistem Media Sosial yang Sehat dan Bermanfaat

Sebagai penutup, sebagai pengguna sekaligus digital content creator di media sosial saya ingin mengajak teman-teman untuk menjadi pengguna media sosial yang bijak. Perluas pengetahuan dengan banyak membaca dan bergaul. Sehingga media sosial tidak akan menimbulkan bubble effect di kepala kita.

Bubble effect dalam bermedia sosial adalah satu efek yang ditimbulkan karena algoritma media sosial yang hanya menampilkan sesuatu yang “kita sukai”. Ia hanya akan menampilkan kegiatan dan juga apapun yang terjadi tentang “circle kita” saja. Mereka tidak akan pernah menampilkan apa yang tidak kita sukai.

Sehingga kita akan menjadi pengguna media sosial yang berpikiran sempit. Kita hanya akan bisa melihat hal-hal baik “versi” kita. Padahal ada hal-hal baik di luar sana berdasarkan “versi” orang lain yang dapat kita ambil pelajarannya. Sehingga tak jarang kita akan terjebak dalam pemberitaan yang tidak berimbang, hiburan yang itu-itu saja, hingga ikut menebar kebencian bahkan berita bohong.

sebar yang baik

Oleh karena itu, sesekali cobalah keluar dari circle kita saat ini. Keluar dari kelompok yang membatasi kita dari dunia luar. Sehingga kita akan menjadi pribadi yang berpikiran luas yang punya peran penting dalam membentuk ekosistem media sosial yang sehat dan juga bermanfaat.

Salah satu caranya adalah sering-sering update berita dari kanal informasi yang akan selalu menyampaikan pesan secara berimbang, dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, mengedukasi, menghibur, menerapkan pendekatan persuasif, mensosialisasikan program-program kebaikan dan hal-hal baik lainnya yang bisa kita jadikan sandaran seperti Indozone.

Yuk dukung ekosistem digital Indonesia yang sehat, jujur dan penuh tanggung jawab bersama Indozone.

Semoga jejak kebaikan kita di dunia digital, khususnya media sosial bisa menjadi pengingat sekaligus penyemangat untuk selalu berbuat baik yaa!

Jika harimau mati meninggalkan belang, maka manusia mati meninggalkan jejak digital

Referensi :

Indozone