Beberapa saat lalu saya dan tiga orang sahabat saya yang lain sedang membicarakan tentang kegalauan pria. Terutama seorang pria yang sudah berkeluarga. Bagaimana perasaan mereka sesungguhnya saat ini?

Kami, para wanita yang kadang merasa laki-laki adalah makhluk paling egois di muka bumi ini. Kami, para wanita yang masih juga merasa tak lagi memiliki mimpi. Terkubur karena skala prioritas yang saat ini menanti. Kami, para wanita yang kadang merasa paling tidak dimengerti, oleh mereka yang disebut sebagai makhluk Mars.

Sesungguhnya pernahkah kita berpikir bahwa laki-laki juga memiliki mimpi? Bahkan jauh sebelum mereka bertemu kita.

Kegalauan Pria saat Quarter Life Crisis

Coba deh kita tanya pria yang saat ini berdiri di samping kita.

Apa sih mas impianmu?

Apa cita-citamu?

Saat ini mungkin mereka akan mengatakan, impianku ya membawa keluargaku menuju surga, bahagia di dunia dan akhirat.

Benarkah begitu? Tidak adakah hal lain yang ingin mereka capai? Impian masa kecil misalnya?

Saat ini, saya dan suami sedang berada di Quarter Life Crisis. Gamang mau ke arah mana lagi kita?

Quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial. Kalau pria yang sudah 30 tahunan, sudah pasti ia galau soal masalah karier. Jika yang belum beristri mungkin ia juga galau masalah percintaan.

Intinya sih bagi pria yang sudah menikah, ada saat dimana ia merasa gamang dan merasa galau. Kegalauan pria ini bisa jadi karena pekerjaan yang dijalaninya saat ini tidak sesuai dengan passionnya. Tidak sesuai dengan impiannya semasa kecil. Namun semua harus direlakan. Demi siapa? Tentu saja demi kita, istri dan anaknya. Hmm..

Impian Sang Suami

Dulu saya sempat bertanya pada suami, kenapa memilih Sistem Informasi dan Matematika sebagai bidang yang akan ia pelajari dan tekuni selama menempuh studi. Apakah ia memang suka matematika? Apa impiannya?

Ya, ternyata suami saya adalah seseorang yang suka dengan matematika. Dulunya ia ingin masuk ke jurusan Teknik Elektro. Namun karena keterbatasan indranya, sebut saja buta warna sebagian yang menjadi penghalang impiannya. Kalau mendengarnya begitu, saya jadi ikut sedih. Harus merelakan hal yang disukainya itu.

Ia bermimpi bisa menciptakan robot seperti Doraemon di masa depan. Ia bermimpi bisa menciptakan program dengan kecerdasan buatan yang sudah banyak dilakukan orang saat ini. Ia ingin berkarir hingga skala internasional. Tidak hanya berhenti sebagai pegawai dengan gaji UMR yang cakupan kerjanya banyak sekali. Tidak fokus. Namun harus dijalani kan, inilah hidup.

Namun apalah daya, egonya sebagai lelaki terkalahkan dengan ibanya pada seorang Ibu yang membutuhkan dirinya di masa-masa senjanya. Impian itu harus direlakan. Usianya tak lagi muda, apalagi kini ada saya sebagai istrinya dan Caca sebagai anak perempuannya. Kasih sayangnya mungkin tidak ditunjukkan, tapi kita bisa merasakannya kan? Antara sedih dan syukur. Sedih karena tak bisa ikut mendukung mimpinya saat ini, mungkin suatu saat nanti ketika kami sudah selesai dengan diri sendiri, bersyukur sekaligus juga ikut bangga dengan keputusan mulia yang diambilnya.

Sedih pasti, sesedih saya saat mengambil jurusan yang sebenarnya tidak saya inginkan. Meskipun suka, tapi melakukannya tidak membuat hati saya berdebar dan bahagia. Hanya suka saja, karena beberapa kali sempat memenangi olimpiade di sekolah di bidang itu. Jadi kalau ditanya apa saya suka Biologi? Ya saya suka, tapi tidak sesuka itu. Tidak seperti menulis, ketika saya melakukannya saja beban seolah terangkat dari pundak, apapun itu.

Mungkin saat itu saya belum menyadari apa sebenarnya yang saya sukai.

Kegalauan pria ternyata juga tidak jauh berbeda dengan wanita kok. Seputar cita-cita apalagi. Mereka ternyata juga punya cita-cita, punya impian.

kegalauan pria

sumber : instagram/bapak2id

Contohnya suami teman saya. Sebut saja H. Si H ini seorang pekerja di bidang perminyakan, teknisi lah istilahnya. Namun ternyata kegalauannya sebagai laki-laki ketika ditanya soal impian, jauh berbeda dengan pekerjaan yang digelutinya saat ini.

Pekerjaan yang kita anggap sudah mapan dan akan dinilai bodoh jika dilepaskan begitu saja hanya karena passion. Impiannya adalah menjadi pemain sepak bola. Masuk tim nasional dan menyumbangkan banyak goal untuk Indonesia di kancah internasional.

Namun pertanyaannya, jika ia nekat menjadi pemain sepak bola sekarang, apa yang mau dimakan anak istrinya? Apalagi kesejahteraan pemain bola di Indonesia juga tidak terjamin kecuali memang menjadi tim nasional yang berhasil memenangkan pertandingan. Lagi-lagi kita harus rasional dan mencoba untuk legowo melepas impian.

Kita sebagai wanita juga punya kegalauan yang sama dengan pria-pria itu. Kegalauan kita karena tidak bisa melanjutkan studi, menundanya karena ada permata hati yang harus ditemani sepanjang hari. Yuk coba tanya deh ke mereka, ke orang yang kita cintai, apa impian mereka sebenarnya? Sudahkah mereka hidup bahagia dengan kita saat ini?

Menghadapi Quarter Life Crisis

Kalau melansir apa yang dikatakan oleh para ahli di alodokter.com, sebenarnya wajar jika kita mengalami quarter life crisis. Namun, ini tidak boleh dianggap remeh, karena bila tidak dihadapi dengan bijak, quarter life crisis bisa berubah menjadi depresi. Untuk menghadapi quarter life crisis, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:

1. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang-buang waktu dan membuat diri sendiri semakin khawatir. Alih-alih memikirkan kehidupan orang lain, tyuk kita mulai cari tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup.

Namun, kita juga perlu tanamkan dalam diri bahwa jawabannya mungkin tidak akan langsung ada. Fokus saja dengan bagaimana kita bisa melewati satu hari dengan sebaik-baiknya.

2. Mengubah keraguan menjadi tindakan

Ketika kita atau suami sedang bingung akan suatu hal dalam hidup, jadikan itu kesempatan untuk menemukan tujuan baru. Yuk kita recharge energi dengan hal-hal positif untuk menemukan jawaban atas keraguan, hingga akhirnya jawaban tersebut datang dengan sendirinya.

Misalnya, kita bingung karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan. Disamping tetap menjalankan tanggung jawab dalam bekerja, kita juga bisa mulai mengisi waktu luang dengan relaksasi, menambah wawasan, mencari kelas online untuk menambah keterampilan, atau mengobrol dengan teman untuk mendapatkan solusi.

3. Menemukan orang-orang yang bisa mendukung

Berada di sekeliling orang-orang yang bisa mendukung impian dan cita-cita juga bisa menjadi cara untuk menghadapi quarter life crisis.

4. Belajar mencintai diri sendiri

Ketika sedang terjebak dalam quarter life crisis, kita mungkin akan cenderung mengabaikan berbagai kenikmatan yang sebenarnya sudah kita miliki dan kita rasakan. Padahal, untuk mencapai tujuan dalam hidup, kita juga perlu menghargai dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu.

Jadi, mulailah perhatikan kebutuhan kita, apa yang kita sukai, apa yang membuat nyaman, dan apa yang ingin kita coba lakukan. Kemudian, wujudkan mereka satu per satu dimulai dari yang kecil terlebih dahulu. Karena tanpa disadari hal-hal kecil itu akan membuat hidup lebih menyenangkan.