Sebagai seorang ibu sekaligus perempuan yang menyukai berbagai kegiatan, menjaga kebugaran tubuh adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Di tengah padatnya rutinitas harian, mengolah tubuh bukan hanya soal membakar kalori, melainkan cara terbaik untuk melepas penat, menjaga kesehatan mental, dan tentu saja menciptakan momen-momen berkualitas bersama keluarga.
Biasanya, saya memiliki dua jadwal olahraga wajib yang sangat saya nanti-nantikan setiap minggunya. Pertama, kelas Zumba yang enerjik bersama teman-teman komunitas setiap pertengahan pekan.

Kedua, menemani si kecil berlatih badminton di lapangan bulu tangkis pada akhir pekan. Kedua momen ini punya arti tersendiri bagi saya. Zumba adalah ruang ekspresi dan pelepas stres, sementara momen menemani si kecil bermain badminton adalah ajang bonding ibu dan anak yang sangat berharga.
Namun, siapa sangka di balik riuhnya alunan musik Zumba dan serunya tepukan raket di lapangan, ada satu gangguan kecil yang sempat merusak segalanya. Sebuah gangguan yang awalnya saya anggap sepele, namun ternyata berdampak besar pada performa dan kebahagiaan momen tersebut. Yes, Gejala Mata Kering.
Momen Zumba yang Berubah Menjadi Tak Nyaman
Hari itu adalah hari Rabu sore. Suasana studio Zumba sudah riuh oleh alunan musik latin pop yang membakar semangat. Saya mengambil posisi di barisan belakang, bersiap mengikuti setiap gerakan instruktur di depan panggung. Hembusan AC yang cukup kencang untuk menetralkan hawa panas tubuh belasan orang yang sedang bergerak aktif.
Awalnya, semuanya berjalan lancar. Lagu pertama dan kedua sukses membuat keringat bercucuran. Namun, memasuki lagu ketiga saat gerakan mulai makin cepat, saya mulai merasakan ada sesuatu yang aneh pada mata saya.
Perlahan tapi pasti, mata saya terasa sangat SEpet (sepet) dan gatal, seolah-olah ada butiran pasir halus yang tersangkut di balik kelopak mata. Setiap kali saya berkedip, rasa mengganjal itu makin menjadi-jadi. Hembusan angin dari salah satu blower dan juga AC studio yang langsung mengenai wajah rupanya membuat lapisan air mata saya menguap lebih cepat dari biasanya.
Saya mencoba bertahan dan mengedipkan mata berkali-kali dengan harapan air mata alami bisa membasahinya kembali. Bukannya membaik, mata saya justru mulai terasa PErih (perih) seperti tersengat sabun, lalu disusul rasa LElah (lelah) yang membuat pandangan agak kabur. Kombinasi rasa SEpet, PErih, dan LElah ini benar-benar menyiksa.
Bayangkan, di saat instruktur mengarahkan gerakan melompat dan berputar yang membutuhkan fokus penuh, saya justru sibuk memicingkan mata dan mengusap sudut mata. Gerakan saya yang semula lincah berubah menjadi kaku dan terlambat beberapa ketukan. Saya kehilangan fokus, kelelahan lebih cepat dari biasanya, dan akhirnya memilih mundur ke belakang sebelum lagu usai karena rasa perih yang tak tertahankan. Momen Zumba yang harusnya menyenangkan hari itu ditutup dengan rasa kecewa.
Lapangan Badminton dan Tangisan Si Kecil
Rupanya penderitaan saya belum berhenti di studio Zumba. Minggu paginya, saya menjadwalkan diri untuk menemani si kecil berlatih badminton di lapangan indoor lokal. Si kecil sangat antusias karena hari itu ia ingin memamerkan teknik pukulan lob baru yang dia pelajari dari pelatihnya.
![]()
Suhu udara pagi itu agak kering dan berdebu. Saat si kecil memanggil, “Ibuk, lihat pukulan aku yang ini ya!”, saya berdiri di pinggir lapangan dengan penuh rasa bangga. Namun, baru sepuluh menit berada di area lapangan, Gejala Mata Kering yang sempat menyerang beberapa hari lalu kembali kambuh dengan skala yang lebih mengganggu.
Mata saya kembali terasa SEpet dan sangat LElah akibat memandang ke arah shuttlecock yang bergerak cepat di bawah pendar lampu sorot lapangan. Ditambah lagi, rasa PErih membuat mata saya berair secara refleks—bukan berair yang melembapkan, melainkan air mata iritasi yang justru membakar sudut mata.
Puncaknya terjadi ketika si kecil melakukan pukulan yang sangat bagus dan menoleh ke arah saya untuk melihat reaksi ibunya. Naas, pada detik yang sangat krusial itu, mata saya sedang terpejam rapat karena rasa perih yang teramat sangat. Saya tidak melihat pukulan terbaiknya.
Ketika saya membuka mata, saya melihat wajah si kecil berubah murung. “Ibuk kok malah merem sih? Ibu gak merhatiin aku ya?” tanyanya dengan bibir cemberut dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Rasa bersalah langsung merayapi dada saya. Momen penting yang sudah dinanti-nantikan si kecil seminggu penuh harus ternodai hanya karena saya tidak bisa menahan rasa tidak nyaman pada mata sendiri. Di situlah saya sadar: tajuk #MataSePeLeJanganDisepelein adalah sebuah kebenaran yang nyata. Gejala mata yang sering kita anggap remeh ternyata bisa merusak momen-momen emosional yang tak akan bisa diulang.
Memahami Gejala Mata “SE-PE-LE” dan Pelajaran Berharga
Pengalaman pahit di kelas Zumba dan lapangan badminton menjadi teguran keras bagi saya. Saya mulai mencari tahu mengapa mata saya sering kali mengalami reaksi dramatis saat beraktivitas. Dari berbagai informasi kesehatan yang saya pelajari, saya akhirnya memahami bahwa apa yang saya alami adalah tanda-tanda klasik mata kering, yang sering disingkat dengan istilah SE-PE-LE:
SEpet: Kondisi di mana mata terasa mengganjal, kering, gatal, atau seperti ada pasir yang tertinggal karena berkurangnya lapisan kelembapan alami.
PErih: Rasa panas atau tersengat pada permukaan mata akibat iritasi dan gesekan antara kelopak mata dengan kornea yang kering.
LElah: Rasa berat pada kelopak mata, penglihatan kadang kabur secara memudar, dan membuat mata ingin terus dipejamkan karena otot mata bekerja ekstra keras.
Faktor pemicunya sangat dekat dengan kehidupan harian kita: terpaan angin AC, kipas angin, debu di ruang terbuka, penggunaan gawai berlebihan, hingga kurangnya frekuensi berkedip saat kita sedang berfokus pada suatu hal. Termasuk saat menulis blog seperti saat ini.
Tips Praktis Mengatasi Mata Kering Saat Beraktivitas
Dari pengalaman tersebut, saya merangkum beberapa langkah pencegahan yang selalu saya terapkan sebelum dan saat berolahraga:
Atur Posisi dari Terpaan Angin Langsung: Saat berada di kelas Zumba atau ruang gym, hindari berdiri tepat di depan aliran kipas angin atau hembusan AC.
Gunakan Pelindung Mata yang Tepat: Jika berolahraga outdoor atau berada di tempat berdebu, gunakan kacamata olahraga ringan untuk meminimalkan terpaan debu dan angin.
Lakukan Trik Berkedip 20-20-20: Setiap 20 menit beraktivitas fokus (termasuk saat menonton si kecil bertanding atau menatap layar laptop), alihkan pandangan ke objek berjarak 20 kaki selama 20 detik dan berkedip secara sadar beberapa kali untuk memicu produksi air mata alami.
Jaga Hidrasi Tubuh: Selalu minum air putih yang cukup sebelum dan sesudah berolahraga. Kebiasaan dehidrasi tubuh sangat berpengaruh pada efisiensi produksi air mata.
Solusi Nyata: Momen Menemukan Insto Dry Eyes
![]()
Meskipun tips pencegahan di atas sangat membantu, ada kalanya lingkungan tempat kita beraktivitas tidak bisa sepenuhnya dikontrol. Oleh karena itu, saya membutuhkan pertolongan pertama yang praktis, aman, dan langsung menyasar pada akar masalah mata kering.
Atas rekomendasi seorang kawan di komunitas olahraga yang juga kerap mengalami keluhan serupa, saya berkenalan dengan obat tetes mata Insto Dry Eyes. Kawan saya berpesan singkat: “Jangan ditahan-tahan kalau mata udah mulai sepet dan perih. Langsung Tetesin insto dry eyes aja biar matanya kembali segar.”
Tanpa berpikir panjang, saya membeli Insto Dry Eyes di Indomart terdekat. Kemasannya yang ringkas dan praktis membuat botol kecil ini sangat mudah dimasukkan ke dalam tas olahraga maupun kantong celana.
Efeknya benar-benar terasa nyata pada sesi latihan badminton berikutnya. Sebelum mulai mendampingi si kecil di pinggir lapangan, saya meneteskan 1-2 tetes Insto Dry Eyes pada masing-masing mata.
Sensasi dingin dan lembutnya langsung bekerja seketika. Rasa SEpet yang biasanya mulai membakar dalam hitungan menit sama sekali tidak muncul. Bahan aktif di dalamnya berfungsi sebagai air mata buatan yang melapisi dan melumasi permukaan mata secara merata, sehingga rasa PErih akibat gesekan kelopak mata sirnah seketika, dan mata terbebas dari sensasi LElah.
Pengalaman menggunakan Insto Dry Eyes benar-benar mengubah segalanya. Sekarang, saya bisa menikmati setiap dentuman musik dan gerakan Zumba tanpa perlu mengusap mata berulang kali. Dan yang paling penting, di lapangan badminton, saya tidak lagi melewatkan satu pun pukulan hebat si kecil. Saya bisa bersorak bangga, bertepuk tangan, dan menatap senyum lebarnya dengan mata yang segar dan jernih.
Jangan Biarkan Momen Berharga Terganggu
Mata adalah jendela utama kita untuk menikmati setiap detil keindahan hidup dan momen manis bersama orang-orang tersayang. Jangan biarkan rasa tidak nyaman yang tampak sederhana merenggut kebahagiaan tersebut. Ingatlah selalu bahwa #MataSePeLeJanganDisepelein!
Begitu gejala SEpet, PErih, dan LElah mulai terasa, segera berikan perhatian yang tepat. Selalu sediakan tetes mata yang tepercaya di dalam tas Anda. Dengan mengandalkan #InstoDryEyes, kini saya dan Anda bisa melangkah percaya diri, aktif berolahraga, dan menyambut setiap momen kebersamaan dengan mata yang sehat dan #BebasMataKering.
Semoga bermanfaat ya!








