Macam Stress dan Cara Mengatasi kali ini akan sedikit saya bahas dari sudut pandang biologis dan psikologis.

Beberapa waktu yang lalu ada banyak sekali keluhan teman-teman sekalian yang mengaku stres karena sudah terlalu bosan di rumah. Stres menjadi sesuatu yang akhirnya sering diucapkan oleh banyak orang, terutama ketika dalam situasi pandemi seperti ini. Begitu pun saya, pada akhirnya memvonis diri sendiri sedang stres. Ada yang begitu juga?

Oleh karena itu beberapa saat lalu ketika teman-teman di sebuah komunitas membaca ngobrol tentang stres, seketika saya terbangun dari kantuk yang teramat sangat. Namanya juga komunitas baca, segala sesuatu yang sedang dibicarakan pasti akhirnya terkoneksi dengan buku. Lalu seorang teman pun merekomendasikan bacaannya yang berjudul Loving the Wounded SoulNah, ini pas banget nih. Batin saya saat itu. Karena saya merasa akhir-akhir ini juga mudah sekali stres.

Loving The Wounded Soul adalah buku hasil karya dari Regis Machdy. Buku nonfiksi dengan jenis self improvement ini berhasil menduduki predikat National Best Seller. Ternyata di dalamnya ada begitu banyak ilmu psikologi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan Regis sebagai ahli psikologi. Salah satunya tentang Stres yang membuat saya ingin berbagi dengan teman-teman sekalian. Mengenai macam-macam stres dan bagaimana Regis memberikan saran untuk mengatasinya.

Eustress dan Distress

stress dan macam-macamnya

Mengutip tulisan Regis mengenai stres, dikatakan bahwa ketika suatu peristiwa atau kabar sudah kita terima sebagai tantangan atau ancaman, stresor tidak lagi netral karena berhubungan dengan kita. Kalau ancaman atau tantangan itu netral di mata kita, maka tidak akan menjadi soal karena tidak akan berubah menjadi stress. Macam-macam stress sebenarnya tentang dua hal ini.

Regis juga menuliskan tentang perbedaan Eustress dan Distress. Ada dua jenis stres yang dikenal dalam literatur psikologi tentang eustress dan distress.

Eustress adalah ketika stres yang kita terima membuat diri menjadi lebih tangguh, dewasa, dan ahli dalam mengerjakan sesuatu. Contohnya menulis. Tidak semua orang bisa diberi tugas menulis, atau senang melakukan kegiatan menulis. Baik itu karya ilmiah maupun karya populer. Bahkan ada yang sangat antipati ketika diberi tugas menulis di kelas oleh seorang guru. Sampai-sampai ia tak bisa menulis barang satu paragraf pun. Ia selalu benci ketika disuruh menulis apalagi mengarang indah. Demi mengatasi stres tersebut, kita akan berlatih puluhan kali hingga kita yakin akan kemampuan diri. Pada akhirnya, kita akan terpacu oleh stres positif itu untuk berlatih dan mengembangkan diri.

Sama seperti saat saya mulai membiasakan diri untuk membuat satu hari satu tulisan di blog, Tantangannya luar biasa. Pada akhirnya stres karena terlalu banyak di rumah ini berdampak positif pada diri saya sehingga bisa lebih produktif di rumah. DA blog naik, Alexa juga mengiringi, mulai menerima job di blog, dan lain-lain.

Berbeda dengan eustress, Distress adalah stres negatif yang menyebabkan kita sedih dan merasa tidak berdaya. Distress membuat kita tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Misalnya saja stres karena putus dengan kekasih atau mendengar berita duka dari kerabat.

Jika kita bisa menganggap semua stresor sebagai tantangan yang mendewasakan, tentu saja hidup akan terasa menyenangkan. Namun, jika kita menerima stresor sebagai distres yang tak kunjung henti, itu akan menciptakan sebuah kondisi bernama stres kronis yang membahayakan diri kita.

Stres Kronis dan Kortisol

Pernah dengar istilah kortisol kan? Itu lho hormon yang aktif ketika seseorang mengalami stres. Kita pernah belajar mengenai hormon ini pada mata pelajaran Biologi saat SMA. Jadi, kortisol ini berada dalam tubuh dan meningkat saat kita mengalami stres. Baik itu eustress maupun distress.

Walter Cannon seorang ahli fisiologi dari Amerika pada tahun 1915 menjelaskan bahwa pada umumnya manusia memiliki dua respons dalam menghadapi tantangan, yakni respon melawan (fight) atau lari/kabur (flight). Keluarnya hormon kortisol dari kelenjar adrenal merupakan bagian dari mekanisme respon tersebut.

Hayo, kamu lebih sering yang mana nih? Fight atau flight?

Nah, ketika dalam kondisi terancam seperti inilah tubuh mengeluarkan glukosa yang berlebih di dalam tubuh sebagai strategi untuk melawan atau berlari. Ketika kita memilih untuk kabur dan berhasil, kortisol akan turun secara otomatis, begitu juga saat melawan. Lalu digantikan dengan munculnya hormon serotonin di otak yang mengindikasikan perasaan bangga dan senang.

Apa yang terjadi jika kortisol menumpuk? Ia akan menjadi stres kronis hingga akhirnya berkembang menjadi berbagai gangguan kesehatan seperti migrain, sakit dan kaku di sekujur tubuh, bahkan penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Lebih parah lagi jika sampai pada gangguan mental yang lebih dahsyat, yaitu depresi.

Batas Ambang Toleransi Stres Yang Berbeda

stres

pict from unsplash.com/@spacemonkey

Setiap orang memiliki stresor (pemicu stres) yang berbeda. Ada yang kita anggap sebagai hal remeh, ternyata itu menjadi salah satu stresor seseorang di luar sana. Oleh karena itu kita harus lebih peka dan menyadari bahwa stresor tiap orang berbeda-beda.

Meskipun stres terdengar berbahaya, namun kita tidak bisa menolak bahwa hidup ini akan selalu dipenuhi oleh ujian dari Allah, dan kita tidak bisa hidup tanpa stres itu sendiri. Ada waktunya ketika kita merasa punya stresor yang sangat besar saat ini, kelak ia tidak akan berarti apa-apa lagi di depan kita. Tanpa kehadiran stres, kita tidak akan bisa menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir, merasakan sesuatu dan menjadi orang yang lebih bijaksana.

Jadi, siapkan energimu untuk melawan stres itu sendiri. Kita tidak punya pilihan lain selain menghadapi dan menaklukannya, bukan?

Baca juga : Jangan Abaikan, 5 Cara Mencegah Depresi

Pengendalian Emosi ala Stoic

Refrensi : Loving The Wounded Soul by Regis Machdy.