Namanya sampah pikiran, maka sebagaimana namanya “sampah” maka hal terbaik untuk memperlakukannya adalah dengan membuangnya pada tempatnya. Jika tidak, maka ia bisa meracuni tubuh dan jiwa kita sebagaimana racun yang masuk ke dalam aliran darah lalu membuat lumpuh sel-sel saraf kita.

Ketika kita berpikir seperti : “aku tidak terlihat menarik sama sekali,” atau “orang lain pasti menertawakan diriku”, “tidak ada yang bisa kuajak berbicara,” dan yang sejenisnya. Itulah yang dinamakan sampah pikiran. Selaiknya sampah, maka harus kita buang. Namun kebanyakan sampah-sampah tersebut malah kita timbun dalam kepala dan dibiarkan membusuk dan menguarkan bau tak sedap darinya. Atau bahkan kadang kita tidak tahu bahwa itu semua adalah sampah dalam pikiran.

Intinya, sampah pikiran laiknya pola pikiran negatif atau suatu keyakinan yang memicu munculnya pikiran negatif. Bisa jadi dari masa lalu yang mungkin menjadi penyebab terbentuknya keyakinan pemicu hal negatif tersebut.

Sampah pikiran tidak untuk dipendam

sampah pikiran psikologi

Seperti halnya sampah, tentu saja ia akan mengganggu keseharian kita jika dibiarkan menumpuk. Begitu pun pada sampah pikiran. Ia turut memengaruhi cara kita bersikap serta memberi pandangan terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Kondisi emosi kita juga ikut terganggu karena adanya keyakinan yang salah dalam diri. Apabila kadar emosi negatif dalam diri kita sangat kuat, maka kita akan merasa semakin sakit dan mengalami disfungsi dalam kemampuan berpikir efektif dan penyelesaian masalah.

Penelitian pun menyatakan bahwa permasalahan psikologis seperti cemas dan depresi bukan disebabkan oleh situasi, kondisi atau tindakan yang terjadi, tetapi disebabkan oleh cara seseorang menyikapi atau memandang situasi tersebut. Persis sekali dengan apa yang dikatakan oleh suami saya yang hampir tidak pernah marah, juga memendam emosi negatif (menurut pengakuannya). Menurut penuturannya, ia sadar bahwa tidak ada orang yang diciptakan di dunia ini sempurna. Pasti semua punya kekurangan masing-masing. Lalu jika kekurangan itu menyakiti hati atau membuat orang lain tidak nyaman, maka solusi terbaik adalah melihat dalam diri sendiri terlebih dahulu.

Bahwa kita pun tidak lepas dari kesalahan. Tidak pula manusia sempurna yang tidak pernah menyakiti hati atau membuat orang lain merasa tidak nyaman. Lalu yang tidak kalah penting adalah itu semua diluar kendali kita. Hal-hal diluar kendali seharusnya cukup berhenti di situ saja. Tidak perlu kita bawa dalam pikiran dan hati.

Cara Membersihkan Sampah Pikiran

Berikut beberapa hal yang saya rangkum bagaimana cara membersihkan pikiran dari buku Yang Belum Usai, Mengapa Manusia Punya Luka Batin karya para tim Pijarpsikologi yang juga menjadi karya Regis Machdy setelah Loving The Wounded Soul. 

1. Menulis 

Mulai membiasakan diri untuk menuliskan pengalaman yang membuat kita tertekan adalah salah satu cara membersihkan pikiran kita dari segala jenis sampah yang meracuni jiwa dan tubuh kita. Pengalaman yang membuat kita tertekan ini juga biasanya memancing sampah pikiran untuk hadir dan memenuhi diri. Lalu meracuni pikiran dan akan berimbas pada kerja organ dalam tubuh kita. Namun tentu tidak sembarang menulis ya. KIta harus fokus pada emosi yang bersentuhan dengan pengalaman yang dialami lalu menuliskan pengalaman sesuai dengan fakta yang benar-benar terjadi.

Menulis pengalaman tidak mengenakkan tersebut akan mengurangi ketegangan yang dirasakan dan melepaskan emosi yang mengganggu dalam diri kita. Sehingga emosi negatif tidak sampai menjadi racun yang membahayakan. Melepaskan emosi lebih baik daripada harus menahannya karena akan membuat kita semakin terluka nantinya.

2. Grattitude Journal

Grattitude Journal merupakan jurnal yang berisikan tentang semua hal baik yang terjadi, ucapan syukur serta terima kasih untuk diri sendiri, orang lain ataupun hal lain. Tentu saja rasa syukur pada Tuhan yang telah memberikan kesempatan pada kita adalah yang utama. Bentuk grattitude lainnya yang dapat kita coba yaitu menuliskan nama orang yang membuat kita berterima kasih kepadanya.

Apabila seseorang terbiasa menulis grattitude journal maka ia akan mengalami peningkatan dalam suasana hati serta produktivitasnya (menurut J,D Kelly dalam Your Best Life : Breaking the Cycle : The Power of Grattitude. Clinical orthopaedics and related reserach. Saya pun sudah mencobanya. Grattitude Journal ini mampu menyalurkan emosi negatif saya pada berbagai hal yang memicu stress negatif. Lalu mengubahnya menjadi stress positif dan menjadi lebih produktif. 

3. Menjadi Teman Baik Untuk Diri Sendiri

Menurut C Wilding dan A. Milne (2008) dalam Cognitive Behavioural Therapy, cara menghillangkan sampah pikiran yang menjadi racun dalam tubuh adalah dengan menjadi teman baik untuk diri sendiri. Caranya, pilihlah tiga hal negatif tentang diri kita atau tiga situasi yang memicu munculnya sampah pikiran. Setelah itu, tuliskan satu per satu di atas kertas. Kemudian coba kita bayangkan diri kita sebagai sosok teman baik yang kita punya. Kita memperkirakan bagaimana teman kita merespons atau menggambarkan tiga hal negatif ini ke dalam diri kita. Lalu di bagian akhir, kita bisa membayangkan apa yang akan kita respons setelah mendengar ucapan teman baik kita. Melalui latihan ini, apakah ada perspektif baru yang muncul dalam diri kita? Apakah sampah pikiran yang selama ini menyelimuti perlahan terkikis dengan pikiran yang lebih adaptif?

sampah pikiran psikologi

unsplash.com/@gary_at_unsplash

Mengikis sampah yang menjadi racun ini memang tidak mudah. Karena kita berhadapan dengan diri sendiri yang selama ini terjebak dalam kebenaran semu yang terus menggema dalam pikiran kita. Butuh proses yang tidak instan untuk bisa merangkul dan mengikis sampah pikiran dalam diri kita agar tidak menjadi racun yang mematikan. Kelak, ketika sampah itu terkikis sampai habis kita akan merasa lebih nyaman untuk melangkah dalam kehidupan.

Jadi, yuk mulai hari ini dengan syukur dan senyum. Bahasakan emosi negatif yang mengganggu lewat tulisan, lalu jadikan kebiasaan. Sehingga kita tidak akan punya waktu untuk meladeni segala hal-hal negatif yang menyelimuti pikiran kita. Semoga harimu membahagiakan, teman! 🙂

 

Referensi :

Yang Belum Usai by Pijarpsikologi

Wilding, C, & Milne, A. (2008). Cognitive Behavioural Therapy, US : The McGraw-Hill Company