Managemen Stress saat pandemi ini saya tulis berdasarkan banyaknya orang-orang sekitar seperti sahabat, orangtua, relasi, bahkan orangtua saya yang mengaku cukup tertekan dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan. Bahkan ada guyonan dari seorang teman, bertahan hidup di tengah pandemi ini saja sudah cukup. Sanggup melewati 2021 dengan kondisi sehat saja kita sudah hebat.

Begitulah. Sebegitu hebatnya dampak pandemi bagi kita. Tidak hanya urusan ekonomi dan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental yang tak kalah pentingnya.

Bersama dengan adik saya seorang lulusan Sarjana Psikologi kami berdiskusi banyak hal. Termasuk soal bagaimana mengelola stres atau managemen stress saat pandemi seperti ini. Sehingga kita bisa beradaptasi di era yang benar-benar baru, berdampingan dengan virus. Karena teman-teman tentu tahu, seleksi alam terus berjalan kan? Siapa yang bisa beradaptasi, itulah yang bisa bertahan.

manajemen stress saat pandemi

Managemen Stress Saat Pandemi

Disamping kesehatan fisik, kesehatan mental belakangan ini menjadi salah satu bagian yang akhirnya dianggap penting dalam meraih optimalisasi kehidupan manusia. Tentu saja kami turut senang dengan perkembangan pemikiran manusia yang satu ini. Mengapa? Karena pada dasarnya kita tidak bisa memisahkan perhatian antara kesehatan fisik dengan psikis. Keduanya memiliki keterkaitan.

Ada istilah yang dinamakan mind-body connection, dimana pikiran, perasaan perbuatan kita mempengaruhi kesehatan fisik.

Bahkan jika kita perhatikan, sebenarnya permasalahan psikologis maupun fisik bersumber dari pikiran kita. Entah karena kita merasa takut atau cemas akan hal yang terjadi di masa mendatang atau mengenai trauma dari pengalaman masa lalu yang masih menghantui pikiran.

Banyak saya jumpai pada relasi dan orang disekitar yang mengalami penurunan produktifitas di masa pandemi Covid 19. Merasa kurang memiliki kebermaknaan hidup karena dirasa terkekang. Ia merasa punya keterbatasan dalam melaksanakan kegiatan pada situasi pandemi. Adaptasi di era new normal memang tidak mudah dilakukan. Namun tidak berarti itu menjadi kemustahilan.

Respon yang mungkin terjadi ketika kita mengalami guncangan akibat pandemi Covid 19 dengan pemberlakuan new normal (memakai masker, terbatas kegiatan diluar hingga tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain). Namun di lain sisi manusia sebagai makhluk sosial tentu membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Adanya pembatasan kegiatan terutama berhubungan dengan kehidupan sosial mendatangkan respon – respon pada setiap orang.

Ada yang merasa cemas, khawatir, perasaan depresi dan stress karena ketidakmampuan dalam melakukan kontrol pada diri sendiri. Berbeda kondisi apabila seseorang mampu beradaptasi terhadap perubahan di era new normal ia dapat menjalani kehidupannya dengan tenang.

 

Its Okay to Not be Okay

Sebenarnya tidak masalah jika kita merasa perasaan atau tubuh kita tidak baik-baik saja “its okay to not be okay”. Karena pada dasarnya apabila kita membicarakan kesehatan mental, kita akan mengalami up and down dalam perjalanan hidup kita. Setiap orang akan mengalami konflik baik internal maupun eksternal, dengan catatan apakah kita bisa survive dengan konflik yang kita hadapi tersebut, atau ikut terkikis karenanya.

Salah satu respon stres menurut Caspi, Bolger dan Ecken (Yusuf, 2018) yang disebut dengan The General Adaption Syndrome yaitu respon tubuh terhadap stres dengan mengaktifkan alarm atau tanda bahaya, adanya resistance (perlawanan) dan juga exhaustion (kelelahan) yang dialami seseorang.

Ketika pemicu stres masuk, tubuh akan memberikan respon emosional dan respon fisiologis. Respon emosional yang muncul berupa suasana hati yang diliputi rasa kecewa, marah, cemas, takut, murung hingga duka cita. Sedangkan secara fisiologis akan timbul respon flight and flight respons yakni tubuh akan memberi reaksi terhadap ancaman atas ketidaknyamanan dengan memobilisasi tubuh untuk fight (melawan) atau flight (melarikan diri). Respon fisiologis ini terjadi pada sistem saraf autonomik tubuh.

its okay to not be okay

Bagaimana Cara Memanage Stress?

Penjelasan diatas akan menimbulkan pertanyaan, lantas bagaimana supaya kita terhindar dari stres dan mampu menjaga kesehatan mental di masa pandemi Covid 19 ini? Beberapa upaya untuk menjaga diri untuk stabil secara emosi diantaranya adalah :

  1. Regulasi diri, yaitu melakukan kontrol atas berbagai stimulus untuk mengatur dan memperbaiki diri serta mempunyai tujuan atau target yang ingin dicapai.
  2. Menjalin interaksi dan komunikasi dengan orang-orang terdekat. Tersedianya gadget dan sosial media mampu membantu kita untuk tetap terhubung dengan orang terdekat kita. Berkomunikasilah secara berkala, dimulai dari keluarga, sahabat, teman dan seterusnya. Hal ini akan memberi manfaat pada diri kita untuk saling memberi motivasi dan penguatan dalam menghadapi stres di masa pandemi.
  3. Melakukan aktivitas fisik dan mengkonsumsi makanan bergizi lengkap. Meskipun hanya bisa beraktivitas di dalam rumah, aktivitas fisik sangat penting seperti berjemur di pagi hari, olahraga ringan atau sekedar menjaga kebugaran tubuh. Begitupun dengan konsumsi makanan bergizi, Menurut Freeman (dalam Latipun & Moeljono ) asupan makanan akan meningkatkan fungsi biologis sehingga mendorong fungsi mental yang baik pula.
  4. Melakukan aktivitas yang bermanfaat secara rutin sesuai dengan hobi atau bakat minat masing-masing. Bahkan jika perlu bisa mendatangkan peluang usaha ditengah pandemi seperti memasak, bercocok tanam/urban farming dan sejenisnya.
  5. Menghilangkan kebiasaan buruk yang bisa mendatangkan dampak negatif pada kehatan fisik maupun psikis.
  6. Mendekatkan diri pada Tuhan

Yang terakhir mungkin terdengar klise, namun ini penting juga lho. Karena kalau kita sudah punya pegangan, punya satu hal yang bisa kita jadikan tumpuan, insyaAllah stress kita akan berkurang. Kita akan mengimani bahwa segala sesuatu yang datang pada kita, entah itu baik maupun buruk merupakan atas kehendakNya. Tentu saja tidak menafikan bagaimana ikhtiar kita untuk selalu mendapatkan yang terbaik.

Namun percayalah, Tuhan tidak memberikan masalah pada manusia melebihi batas kemampuannya. Saya selalu meyakini semua sudah punya porsinya masing-masing. Teman-teman kita yang saat ini sedang berduka, saya yakin sedang ditempa oleh Tuhan menjadi manusia yang lebih kuat dan hebat. Tak mudah memang, tapi kita pun harus percaya, sebagai masyarakat Indonesia yang meyakini Pancasila sila pertama, bahwa Tuhan akan selalu ada bersama kita.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Managemen stress saat pandemi yang saya tuliskan di sini juga bermanfaat. Jika teman-teman merasa belum cukup dan kurang puas, sekarang ada lho aplikasi bantuan untuk mental health yang menampung dan memberikan solusinya tentunya tentang keluh kesah kita.

aplikasi managemen stress

Merasa stress, tertekan atau bahkan ada tanda-tanda depresi dalam diri kita? Saya merekomendasikan solusi lengkap untuk menjaga kesehatan mentalmu. Konseling dan meditasi online lebih mudah dimana saja dan kapan saja. Teman-teman juga bisa dapatkan hidup lebih bahagia dan tenang karenanya. Yuk segera konsultasikan masalahmu di sini.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya 🙂

 

Referensi Pendukung tentang teori Managemen Stress :

Notosoedirjo, Moeljono dan Latipun. (2016) Kesehatan Mental Konsep & Penerapan edisi keempat.

Yusuf, S. (2018). Kesehatan Mental Perspektif Psikologi dan Agama.