Judulnya mungkin sedikit membuat senewen beberapa aliran. Karena sudah sering sekali “akal sehat” dijadikan sebagai brand berbagai macam pemikiran. Berislam dengan Akal Sehat adalah buku yang menurut saya banyak materi pengayakan di dalamnya. Lah, udah kayak anak sekolah aja ya ada materi pengayakan, hehehe

Maksudnya, diantara kita pasti sudah banyak yang tahu beberapa keilmuan tentang keislaman dicantumkan di dalamnya. Namun, yang menjadi nilai tambah dalam buku ini adalah pembaca diajak untuk mengembangkan jalan berislam yang kritis rasional yang bermoral dalam memahami dan mempraktikkan warisan-warisan Rasulullah. Karena hanya melalui jalan ilmu yang bermoral dan bertanggung jawab itulah Islam akan senantiasa hadir dengan wajahnya yang ramah, humanis, sekaligus dinamis.

Berislam dengan Akal Sehat mengajak kita untuk bersifat moderat pada seluruh realitas di negara kita, termasuk kemajemukan dan kemanusiaan. Inilah kiranya makna yang disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Sajian Kisah Penuh Hikmah

berislam dengan akal sehat

Buku “Berislam dengan Akal Sehat” tidak hanya memuat poin-poin penting yang harus dipahami kita yang mengaku sebagai umat Muslim, lalu bagaimana menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya itu. Namun di dalamnya juga menghadirkan kisah-kisah sarat makna. Hampir-hampir di setiap babnya penulis tidak kehilangan ceritanya.

Salah satu cerita yang saya sukai dari buku ini ada pada Bab Ampunan Itu Semata Mutlak Wewenangnya. Pada bab ini ada satu kisah tentang pelarian Nabi Musa As dan rombongannya.

Pada satu riwayat, dalam pelarian Nabi Musa As dan rombongannya, mereka kehausan di tengah jalan, di padang pasir yang kerontang. Nabi Musa lalu berdoa pada Allah meminta turun hujan. Allah menjawab bahwa Dia takkan menurunkan hukan karena ada satu orang ahli maksiat selama 40 tahun di dalam rombongannya.

Nabi Musa As kemudian mengabarkan hal tersebut pada rombongannya dan meminta seseorang yang dimaksud Allah keluar dari barisan dengan penuh kesadaran demi kemaslahatan seluruh rombongan.

Orang tersebut bergetar hatinya. Ia sadar dirinya penuh dosa dan karenanya pula Allah sampai enggan menurunkan hujan buat rombongannya yang sangat kehausan. Tapi rasa malu begitu hebatnya sebab bila ia keluar dari barisan, niscaya semua orang akan tahu seketika bahwa dialah si ahli maksiat selama 40 tahun itu. Ia menekuk kepala dan menangis memohon ampunan kepada Allah.

Hujan pun turun tiba-tiba. Nabi Musa heran dan bertanya pada Allah terkait turunnya hujan tersebut. Padahal belum ada satu orang pun ahli dosa yang keluar dari barisannya.

Allah pun mengatakan pada Nabi Musa bahwa si ahli maksiat tersebut telah bertaubat dengan hati yang sungguh-sungguh, menangis, maka diampunilah dosa=dosa bermaksiatnya selama 40 tahun. 

Begitu saja, mudah bagi Allah mengampuni siapa saja yang Ia kehendaki. Peristiwa di atas mengingatkan pada saya khususnya untuk tidak menilai dosa-dosa orang lain, sebesar apa pun yang kita tahu, apalagi dengan lancangnya mengatakan akan diazab oleh Allah dan ahli neraka. Naudzubillah. Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang disisipkan di dalamnya. Bacanya pelan-pelan sambil melakukan evaluasi diri. Ini penting banget. Meskipun kita tahu penulisnya tidak satu “aliran” dengan kita, tapi penting untuk membaca secara lengkap dan penuh ketawadhuan.

Ikhwal ada kelompok yang dengan mudahnya menggolongkan kelompok lain yang tidak sejalan dengannya dalam hal Fiqh misalnya, sebagai kelompok yang sesat, mungkin mainnya kurang jauh, hidupnya kurang greget, dan kurang banyak bergaul dengan orang lain. Opini saya ini nyata. Karena saya pun pernah menjadi salah satu diantara mereka. Namun di satu titik saya tersadarkan bahwa Islam itu memudahkan, tapi tidak juga menggampang-gampangkan urusan. Ia tetap tegak berdiri sebagai agama yang sempurna hingga detik ini bahkan hingga hari kiamat kelak karena Islam rahmatan lil ‘alamin.

Pesan dari QS. Al-Anbiya ayat 107

berislam dengan akal sehat

Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Dan kami tidak mengutusmu, wahai Muhammad SAW selain untuk membawa rahmat kepada alam semesta ini.

Sebagai seorang Muslim, kita semua tahu bahwa Al-Quran adalah sumber pertama dan utama segala praktik hidup seorang Muslim. Kita pun juga sepakat bahwa Rasulullah Muhammad adalah penafsir pertama sekaligus suri tauladan paling kafah terhadap seluruh ajaran Islam yang dimaksudkan Allah.

Seluruh jalan dan cara berIslam kita kini, dalam segala keragaman mazhab serta alirannya, tentu sama-sama memaksudkan untuk menetapi Islam sebagaimana yang diwariskan Rasulullah tersebut. Tapi, tepat di masa yang sama pula, bentangan jarak dan masa yang luar biasa jauhnya antara kehidupan kita dengan masa awal Islam itu serentak menisbatkan kekhasan, keunikan, dan perbedaan yang sebenarnya normal-normal saja. Karena hal itu adalah suatu hal yang alami dan biasa.

Oleh karena itu di tangan setiap kita sebagai umat Muslim inilah, wajah Islam yang watak aslinya adalah menebarkan welas asih dan kasih sayang serta kemaslahatan dan kemanusiaan kepada semesta ini menjadi sangat ditentukan.

Wajah ramah penuh senyum dari sebuah rahmat Islam akan menguar jika kita paham dan cara berIslam kita pun ramah, dan sebaliknya. Jika kita berIslam dengan cara yang egois, menang-menangan, benar-benaran, atau keras kepala terhadap sunnatullah kemajemukan dan dinamika zaman dan kahanan, Islam pun akan tampil dengan wajah yang pemarah.

Tentu saja saya sendiri masih belajar agar bisa menampilkan wajah Islam yang ramah. Oleh karena itu buku Berislam dengan Akal Sehat menjadi bacaan pertama saya di bulan Juli 2020 ini agar bisa berislam sesuai harapan dan cita-cita Ayah dan Ibu saya yang kehidupannya tak lepas dari dakwah. Meskipun dulu sempat menjadi aliran yang keras kepala, lebih percaya pada mereka yang keras-kerasan, menang-menangan, dan mudah men-tahdzir. Akhirnya saya sadar bahwa ilmu saya masih sangat dangkal. Tidak ada seujung kuku ilmu yang dimiliki oleh para guru, ulama’ bahkan orang tua saya sendiri.

Berislam dengan Akal Sehat memberikan saya sudut pandang lain dan semakin memantapkan jalan saya untuk lebih lunak, lebih ramah, lebih toleran, dan tentu saja lebih rasional dan kritis yang bermoral dalam memahami dan mempraktikkan warisan-warisan Rasulullah dalam spirt kajian ilmu, utamanya ilmu Ushul Fiqh yang dulu pernah saya pelajari selama dua tahun di Mahad.

Karena hanya melalui jalan ilmu yang bermoral dan bertanggung jawab, Islam akan senantiasa hadir dengan wajahnya yang ramah, humanis, sekaligus dinamis kepada seluruh realitas, kemajemukan dan kemanusiaan.

Berislam dengan Akal Sehat, oleh Edi AH Iyubenu

Cetakan Pertama April 2020, Diva Press Yogyakarta, 352 halaman

3/5

Baca juga : Agama adalah Cinta, Cinta adalah Agama