كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertaubat”. [HR Tirmidzi, no. 2499; Ibnu Majah, Ahmad, Darimi; dari sahabat Anas bin Malik].

 

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani]

 


 

“Alhamdulillah Mbak, habis Idul Fitri saya bebas.” Senyumnya sumringah, lalu membuka mushaf Quran nya dengan semangat.

“Kemarin sampe sini yah Mbak,” lanjutnya kemudian seraya menunjukkan mushafnya kepadaku.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan hafalannya tetap terjaga ya Bu nanti. Iya betul sampai sini.” Aku memberinya isyarat untuk segera memulai membaca Quran karena antrean di belakangnya sudah mulai mengular.

 

Teringat cerita beliau tentang masa lalunya yang kelam, tidak mengenal apapun selain madang, macak, manak, begitu katanya. Kehidupannya hampir tak tersentuh tentang aqidah, iman apalagi fiqh. Mengapa beliau bisa berada disini selama puluhan tahun adalah karena hawa nafsu tak terbendung untuk membunuh suaminya yang selingkuh. Yah, seperti kisah di layar kaca memang, namun sungguh tragedi ini terjadi di sekitar kita. Konsekuensinya beliau harus  menghabiskan masa-masa produktifnya di dalam penjara.

from unsplash.com

 

Bagaimana beliau bisa berubah sedemikian rupa? Karena sistem penjara yang kian hari kian baik saat ini. Beliau hidup seperti anak kecil yang memulai kehidupan barunya di sebuah pondok pesantren. Belajar tata cara salat, mengaji mulai dari alif, ba, ta, tsa. Bertaubat sebetul-betulnya taubat, bersimpuh mengharap ampunan dan kasih sayang Allah. Dan berdirilah beliau disini di usia sekitar 60 tahun yang sebentar lagi akan mereguk segarnya udara di luar sana. Bertemu anak cucu yang sudah ditinggalnya selama bertahun-tahun.

 

 

Kisah lain adalah tentang seorang narapidana narkoba yang cantik jelita. Diantara yang lain, dialah primadonanya, kalau boleh saya sebut seperti itu. Wajahnya bersih terawat daripada narapidana yang lain. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik yang mengerti akan persoalan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Namun kasus yang menjerat untuk kedua kalinya ini akhirnya membuat dia jera. Penjara menjadikannya pribadi yang lebih baik. Lebih penurut, taat, dan pengetahuan agamanya tentu saja meningkat. Alhamdulillah.

 

 

“Udah kapok Mbak, ngga lagi-lagi saya ngobat pinginnya seperti Mbak nantinya, pakai jilbab yang bener biar dapat jodoh yang bener juga, hehe… begitulah yang dikatakannya padaku saat aku duduk mengajarinya membaca Al Quran.

 

 

“Insya Allaah, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula Mbak.” Aku menambahkan potongan ayat dalam Quran untuk memotivasinya menjadi wanita yang lebih baik.

 

 

Sudah dua tahun selama aktif dalam organisasi keperempuanan, aku banyak mendapatkan pengalaman berharga. Termasuk di dalamnya ketika bertemu para Narapidana di sebuah Lapas Wanita kelas II di kotaku, mendengar banyak curhatan dari mereka. Mendengar lebih banyak masalah dari mereka yang akhirnya harus menghabiskan beberapa tahun waktunya di penjara. Mulai dari kasus narkoba, pencurian, hingga pembunuhan. Meski tak semua mau mengaji, namun melihat mereka yang banyak bertaubat memotivasiku juga untuk melakukan hal yang sama. Siapa yang menjamin taubat seseorang diterima, kan? Allah memasukkan seorang pelacur ke surga karena amalan baiknya pada seekor anjing. Allah memasukkan seorang wanita baik-baik ke neraka karena membiarkan kucingnya mati dalam kandang tanpa makanan dan minuman. Lalu, masihkah kita jumawa dosa kita sudah diampuni?

 

Belajar bersama mereka membuatku banyak bersyukur dan menampar diri ketika mulai kufur. Aku mulai mengenal kerasnya kehidupan di luar sana yang banyak dialami oleh para narapidana. Aku mulai mendorong diriku sendiri untuk selalu memperbaiki keimanan yang bisa melenceng kapan saja. Aku belajar mengedepankan prasangka baik pada seseorang. Karena tidak ada yang bisa menghalangi hidayah Allah yang akan datang menyapa kita, bisa jadi orang yang kita temui lebih baik ibadah dan amaliyahnya daripada kita.

 

Dua Ramadan terakhir, aku memiliki banyak porsi dan frekuensi untuk berbagi bersama mereka dalam membaca dan menghafal kalimat-kalimat Allah dalam Al-Quran. Kebanyakan dari mereka sangat antusias, bahkan tidak jarang dari mereka meminta untuk disimak hafalannya. Masya Allah. Ibarat kuda yang tengah berpacu mencapai garis finish, aku merasa kalah start dengan mereka. Sungguh, hari-hari mereka diisi dengan hal-hal bermanfaat selama Ramadan ini. Mungkin aku yang merasa “baik-baik saja” selama ini bahkan jarang meminta ampun secara tulus dan khusyu’ kepada Allah atas dosa yang telah kulakukan. Doa-doa yang kulangitkan sebatas keseharian yang sudah mendarah daging, jarang kudalami dan kutekuri betul-betul maknanya, mengakui dosa-dosa yang bahkan mungkin belum terampuni. Naudzubillah.

 

Berbeda dengan wanita-wanita hebat di Lapas ini, mereka menyadari bahwa mereka berbuat dosa, untuk itulah kemudian mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh. Menambal berbagai kekurangan di masa lalu dengan ibadah dan doa yang tak pernah putus. Saling menolong dengan sesama teman, meskipun keduanya juga berada dalam kondisi yang kesusahan. Menyedekahkan seluruh hartanya meskipun dirinya sendiri serba kekurangan.

 

unsplash.com

 

Pada akhirnya benar apa kata pepatah bahwa siapapun dirimu di masa lalu, bukan berarti dirimu tidak berhak menjadi muslim/muslimah yang baik. Sudahkah kita  bertaubat? Sudahkah secara khusus kita menghadirkan raga dan jiwa kita untuk mengharap ampunan Allah? Ataukah waktu yang kita punya akan berlalu begitu saja? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Jangan tunggu nanti karena bisa jadi hari ini adalah hari terakhir kita.