Pengalaman saat pandemi Covid-19 serta ketika salah seorang yang saya cintai menjadi satgas Covid 19 sejak Maret 2020 rasanya nano-nanoAda duka dan bahagia. Semuanya membawa hikmah dan pelajarannya masing-masing.

Apalagi bagi saya dan keluarga. Terlebih saat suami saya menjadi satgas Covid 19. Tugas yang beliau emban bermula pada bulan Maret hingga Juli 2020. Hal ini membuat suami saya akhirnya tumbang di tengah-tengah pekerjaannya di rumah sakit. Beban pekerjaan yang menjadi tiga kali lipat sejak pandemi itu akhirnya membuat daya tahan tubuh suami saya lemah.

Empat hari menunggu hasil dari swabtest akhirnya mimpi buruk itu datang pada keluarga kecil kami. Suami saya dinyatakan positif Covid-19 sejak 19 Agustus 2020. Meskipun gejala-gejalanya sudah nampak sejak 4 atau 5 Agustus 2020. Intinya sih Pengalaman Saat Pandemi COVID-19 adalah salah satu pengalaman tak terlupakan yang akan saya ingat sampai jadi kakek nenek.

Pengalaman Saat Pandemi COVID-19 yang memberikan banyak pelajaran bagi saya. Pelajaran kesabaran, solidaritas, serta bagaimana menata hati di tengah ujian pandemi. Mudah-mudahan pengalaman saat pandemi Covid-19 yang saya tulis ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.

pengalaman saat pandemi Covid-19

10 Hari Pertama Sebelum 20 Agustus 2020

Hari itu, suami saya tumben banget pulang cepat. Biasanya dia memang pulang sekitar jam 3 atau 4 sore. Namun sejak pandemi, beban kerjanya lebih banyak tiga kali lipat dibanding sebelumnya. Ada proyek yang baru saja ia rintis bersama teman-temannya di rumah sakit untuk menggantikan salah satu aplikasi layanan pengiriman obat ke rumah pasien rawat jalan.

Belum lagi urusan pekerjaan inti. Ditambah lagi ia dimasukkan ke dalam susunan relawan tim satgas Covid 19 di rumah sakit tempatnya bekerja.

Jadi saya maklum kalau setiap hari ia pulang malam. Paling cepat selepas maghrib. Tidak jarang juga ia baru sampai rumah pukul 11 hingga 12 malam. Lalu keesokan paginya juga tak jarang menerima panggilan dari rumah sakit di Subuh hari. Saya dan juga keluarga Tim relawan sangat mengkhawatirkan keadaan ini. Apalagi RS tempatnya bekerja adalah rumah sakit rujukan Covid-19.

Namun saya tidak pernah berpikir buruk. Saya ingin optimis bahwa segalanya akan baik-baik saja. Meski di luar sana banyak yang tidak mengindahkan bahayanya virus ini.

Sampai pada suatu hari, ia pulang cepat dan mengeluh sedang tidak enak badan. Sepulang kantor ia langsung mandi, mengganti baju dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut tebal. Padahal biasanya ia tidur tanpa selimut, apalagi di siang hari. Saya pun mengira ia demam biasa. Sore itu saya membeli obat untuknya di apotek. Memberikan asupan nutrisi seperti buah, madu, sampai vitamin dan susu. Malam itu ia menggigil dan demam.

Ternyata demamnya tidak kunjung turun dalam waktu dua hari. Barulah hari ketiga, demamnya turun. Namun ia mengeluh badannya seperti remuk. Sakit semua kalau dipakai untuk bergerak. Hari keempat saya sudah mulai was-was. Pasalnya di hari pertama ia demam, tetangga saya dijemput oleh Puskesmas setempat dan dibawa ke Safe House untuk dikarantina. Karena ia terbukti positif Covid 19 setelah beberapa hari juga demam dan batuk seminggu lebih.

Banyak pikiran tak karuan saat itu, namun saya mencoba optimis. Hingga hari ketujuh, demamnya pun sudah turun. Namun badannya tetap lemas dan selalu menggigil di malam hari. Udara di kamar yang menurut saya hangat, menurutnya masih sangat dingin. Saya pun menganjurkannya untuk periksa ke klinik. Hari ketujuh, ia pergi ke klinik dan tidak ada diagnosa yang mengarah ke Covid 19.

“Mungkin hanya kecapekan,” begitulah dokter meyakinkan suami saya. Ia pun diberi obat anti nyeri (untuk badannya yang pegal-pegal), obat lambung (beberapa hari ini selalu sendawa terus-terusan), dan obat penurun demam.

Melarang Suami Menjadi Satgas Covid 19

Hari ke-8, karena tidak kunjung ada kemajuan apapun, maka pihak Rumah Sakit memerintahkan suami untuk melakukan rapid test. Meskipun setiap kali saya membicarakan kemungkinan terburuk, ia selalu menghindar. Selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal saya melihat sorot matanya yang seakan mengatakan, “benarkah ini Covid 19?” Namun ia selalu meyakinkan saya bahwa ia hanya kecapekan.

Setelah suami saya melakukan rapid test, hasilnya non reaktif. Namun tidak menutup kemungkinan ia bebas dari Covid. Karena di hari itu juga, suami mendengar kabar bahwa di rumah sakit tempatnya bekerja sudah ada 9 orang yang dinyatakan poisitif Covid-19. Ditambah tetangga rumah kami sudah ada 2 orang yang positif. Hal ini tidak bisa dibilang main-main.

Tidak puas sampai di situ, akhirnya diputuskan untuk foto thorax dan tes darah lengkap di hari ke-9.

Betapa leganya hati ketika dikatakan bahwa paru-parunya bersih. Tes darah yang sudah dijalaninya pun normal. Saya bersyukur sekali dan memberi semangat padanya untuk segera sembuh dan segera makan yang banyak (selama sakit, makannya sangat sedikit). Namun usai periksa paru-paru dan tes darah keseluruhan, batuk menerjang suami saya. Ya, tepat di hari ke-9.

Batuk tidak berdahak yang durasinya semakin hari semakin intens dan sudah mengganggu. Hingga pada hari ke-11, batuknya belum menampakkan tanda-tanda membaik. Sementara itu seorang kepala ruangan pinere (ruangan khusus isolasi pasien covid) menghubungi suami saya lewat telepon di hari yang sama. Ia menanyakan kabar suami saya dan keluhan apa saja yang sedang dirasakannya saat ini.

Suami saya menceritakan semuanya dan pada akhirnya, dokter akan segera menjadwalkan swab test pada suami saya di hari ke-14. Pemerintah memang sedang benar-benar menyeleksi mana yang harus didahulukan untuk segera swab test berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Namun saya lebih menyukai pemikiran bahwa kami sedang terpapar dengan gejala ringan dan akan segera berakhir di hari ke-14.

Saya pun mengambil inisiatif untuk melengkapi karantina mandiri kami hingga hari ke-14. Karena saat itu kondisinya memang lebih baik dibanding beberapa hari yang lalu. Namun tetap saja saya was-was. Karena banyak diantara teman sejawatnya di rumah sakit berstatus positif, namun mereka adalah orang-orang tanpa gejala atau bergejala ringan.

Hal yang paling membuat saya khawatir adalah menularnya virus ke bocah yang baru berusia 1,5 tahun dan tentu saja tidak bisa tidur sendirian. Saya takut membawa bahaya padanya, pun dengan suami. Namun kami tak punya pilihan lain. Sehingga satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat itu adalah berdoa agar kami semua dilindungi oleh Allah.

Sempat terpikir dalam benak saya untuk melarangnya menjadi relawan dalam tim Satgas Covid 19 di rumah sakit tempatnya bekerja. Namun jawabannya membuat hati saya luluh, lalu terdiam.

Bismillah ya. Kalau kita lakukan semua ini ikhlas karena Allah, insyaAllah keluarga kita juga ditolong Allah. Rumah Sakit kekurangan orang banget. Jadi bersabar dulu ya. InsyaAllah suamimu ini ngga kenapa-napa.

20 Agustus 2020, Catatan Hari Pertama Karantina Mandiri Satgas Covid 19.

Sebenarnya saya sudah membuat catatan harian satgas Covid 19 ini sebelumnya. Namun belum selesai secara sempurna. Ceritanya masih sepotong-sepotong. Sebenarnya agak khawatir juga jika tulisan saya dinilai untuk menarik simpati.

Namun, saya sadar apa yang saya tulis kalau memang untuk menyebarkan kebaikan tentu harusnya saya tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan orang nantinya. Terlebih saya selalu merasa lebih baik ketika menuliskan semua yang ada dalam pikiran. Writing for healing memang benar adanya.

Sejak suami saya dinyatakan positif lewat saluran telepon yang terhubung dari rumah sakit, seketika itu air mata saya tumpah. Meskipun saya sangat ingin menahannya. Suami yang melihat saya menangis segera berkata, “jangan nangis, aku ngga apa-apa.” Yah, saya rasa setiap Satgas Covid 19 akan mengatakan hal seperti itu di depan keluarganya.

satgas covid 19

pict from freepik

Saya segera melihat si kecil yang sedang asyik bermain dengan kertas dan pensil warnanya. Ketika saya memeluk suami dengan dada yang sesak, air mata yang bercucuran, dan hati yang tak keruan, si kecil seketika itu juga ikut menangis. Saya pun menyadari bahwa saya harus kuat saat itu juga.

Saya segera meraih si kecil dalam gendongan dan menciuminya, ingin berbisik di telinganya bahwa segalanya akan baik-baik saja meskipun pada akhirnya tidak mampu terucap lewat lisan. Suami segera memakai masker N-95nya, lalu ditambah lagi dengan masker medis biasa.

Saya ikut menyiapkannya baju-baju yang harus dibawa ke rumah sakit besok. Segala macam vitamin, madu, roti, hingga susu. Padahal di rumah sakit sudah tersedia lengkap. Namun saya tetap saja khawatir. Suami saya memilih menonton film malam itu ketimbang membicarakan apa yang harus dilakukan besok. Melihat di lantai satu, orangtua dan keluarga kakak saya sedang berbahagia, ikut merayakan ulang tahun ibu saya yang ke-60. Namun malam itu saya merusak kebahagiaan mereka dengan kabar yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga memukul hati semua orang di ruangan itu.

Sebisa mungkin saya menahan air mata agar tidak jatuh saat mengucapkan bahwa besok suami harus dibawa ke rumah sakit untuk isolasi. Namun, air mata itu tetap tumpah di depan ayah dan ibu saya yang tengah berbahagia. Bahagia karena 16 Agustus kami lewati bersama-sama. Bahagia karena menantunya sudah sembuh dari sakit selama berhari-hari, foto thorax normal, rapidtest nonreaktif, darah pun normal. Siapa sangka hasil swab hari itu positif?

Ketika adik saya bertanya, apa yang saya takutkan dari vonis itu? Apakah saya takut dengan tatapan masyarakat sekitar yang pasti akan menjauh dari kami meskipun sudah sembuh? Tidak. Sama sekali tidak. Saya takut meninggalkan suami saya dalam keadaan sakit. Kalau boleh menemaninya di sana, tentu saya akan menemani dia.

Meskipun suami sudah diberi acc untuk isolasi mandiri di rumah, namun kami lebih memilih isolasi di rumah sakit. Selain mempertimbangkan keberadaan si kecil yang pasti tidak akan pernah bisa lepas dari sang Bapaknya, juga keberadaan ayah dan ibu kami yang masih satu rumah meskipun beda lantai. Maka jalan terbaik adalah melakukan isolasi di rumah sakit.

Ternyata suami saya tidak sendiri. Beberapa tim dari Satgas Covid 19 juga dinyatakan positif beberapa hari setelah suami saya masuk ke ruang isolasi.

Malam pertama saat suami diisolasi, saya tidak bisa tidur. Ketika berhasil terlelap, saya pikir sudah tertidur cukup lama, ternyata baru satu jam saya tidur. Lalu mencoba untuk tidur lagi, hal yang sama terus berulang hingga subuh pun tiba. Saya bangun seperti mimpi. Benarkah ini benar-benar terjadi pada keluarga saya? Pada suami saya? Benarkah kami akan benar-benar menambah 14 hari lagi untuk karantina mandiri? Saya hanya berharap kondisi mental ayah dan ibu saya baik, sehingga mereka tidak akan ikut stres karena hal ini. Ah, betapa banyak keinginan di tengah cobaan.

Yah, rasanya belum bisa percaya dan tidak ingin percaya memang. Namun saya sadar, jangan mengaku orang beriman jika tidak pernah diuji. Mungkin Allah memang ingin kami lebih mendekat, kembali menyerahkan segala urusan padaNya, memberikan segala harapan dan menggantungkan diri hanya padaNya. Menerima segala takdir, baik dan buruk dengan ikhlas dan lapang dada. Karena hanya Allah sebaik-baik tempat kembali, hanya Allah sebaik-baik tempat pengharapan.

Malam itu saya berdoa agar suami segera diberi kesembuhan, diberi waktu berkumpul bersama dengan keluarga. Begitu pula dengan tim Satgas Covid 19 lainnya yang telah dan masih mengabdi hingga saat ini. Ya Allah, nikmat mana lagi yang kami dustakan?

satgas covid 19

Vaksin Covid-19 dan Masalah Kemanusiaan

Kira-kira empat minggu suami saya menghabiskan waktunya untuk karantina di Rumah Sakit. Setelah sembuh, saya tidak lagi melarang suami untuk menjadi salah satu relawan Satgas Covid-19. Rasanya berbagai kejadian yang telah kami lewati membawa saya pada perasaan legowo dalam Bahasa Jawa atau bisa diartikan “menerima takdir dengan lapang dada”. Yang akan terjadi maka terjadilah.

Kebahagiaan tersendiri ketika suami saya dinyatakan memiliki antibodi yang cukup untuk mendonorkan plasma darahnya. Meskipun sempat khawatir namun semua perasaan buruk akhirnya bisa ditepis dengan keyakinan suami saya agar bisa memberi manfaat bagi banyak orang.

Berbulan-bulan setelah suami dinyatakan negatif dari Covid-19 akhirnya Vaksin Covid-19 masuk ke Indonesia. Hal yang sangat saya nantikan. Padahal dulunya saya termasuk orang yang tidak aware soal vaksin.

Karena banyak juga media yang membahas tentang keefektifan vaksin ini di Indonesia, yang katanya belum mencapai 90% namun sudah diberikan pada masyarakat. Hingga akhirnya banyak juga pertanyaan yang hadir di tengah-tengah kita.

Benarkah vaksin Covid-19 berbahaya?

Bersyukur beberapa minggu kemarin saya sempat memoderatori sebuah acara Live Instagram dengan tema Vaksin Covid-19. Bersama dengan saya saat itu dokter Frida Neila Rahmatika. Seorang dokter sekaligus aktivis sebuah organisasi perempuan. Beliau juga termasuk dalam Satgas Covid-19 di sebuah rumah sakit swasta di Kota Malang.

Dokter Nila, begitu beliau akrab disapa saat itu juga menyampaikan poin-poin perihal vaksin Covid-19 yang sudah diinjeksikan dalam tubuhnya sebagai petugas kesehatan.

Sebelumnya, kalau berbicara tentang keefektifan sebuah vaksin, apalagi Vaksin Covid-19 yang virusnya tergolong masih baru ditemukan ya, ini prosesnya sangat panjang. Regulasi yang dikeluarkan oleh WHO sama rumitnya atau bahkan lebih rumit dibanding dengan izin beredarnya makanan atau minuman.

Vaksin Covid-19 ini harus melalui beberapa persyaratan yang harus lolos sebelum diberikan pada masyarakat. Satu diantaranya dinamakan uji klinis. Nah, uji klinis ini prosesnya panjang, tidak hanya memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga puluhan tahun. Misalnya saja vaksin campak, polio, DPT, dan lain-lain. Mengapa? Ya karena ilmu pengetahuan memang membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mendapatkan prosesnya.

Dulunya penyakit campak, polio hingga Tuberculosis yang belum ada vaksinnya tentu dianggap sangat berbahaya. Bahkan hingga saat ini. Namun ketika ada vaksin, campak dan polio yang dulunya dianggap berbahaya saat ini tidak, berkat adanya vaksin itu sendiri. Kemudian jika saat ini ada yang lebih baru bisa jadi dulunya dianggap aman namun sekarang tidak.

Lalu persoalan vaksin bukan hanya persoalan sample yang berhasil dan tidak. Namun juga persoalan kemanusiaan. Ketika didistribusikan ke masyarakat tentu WHO dan BPOM akan memastikan aman terlebih dahulu baru didistribusikan ke masyarakat. Barulah kita bisa berbicara soal efektivitas dan efikasi.

Yang disebut-sebut sebagai efektivitas Vaksin Covid-19 itu sendiri adalah kemampuan seseorang agar tidak mudah tertular setelah diberikan vaksin. Sedangkan efikasi adalah kemampuan tubuh untuk mencegah gejala yang ditimbulkan oleh virus tidak terlalu buruk. Keberadaan vaksin memang tidak menjamin seseorang akan bebas dari rantai penularan. Namun adanya vaksin ini untuk meringankan gejala yang muncul sehingga tidak akan terlalu berat ketika terinfeksi. Sehingga risiko ke arah kematian pun menjadi lebih kecil.

Lalu bagaimana dengan perbedaan efektivitas Vaksin yang berbeda-beda di setiap negara?

Hal itu lumrah terjadi. Bagaimana tidak? Bahkan sample yang diambil pun berbeda-beda di tiap negara. Ada negara yang melibatkan lansia untuk menerima vaksin Covid-19 sebagai sample usia lanjut. Ada juga yang tidak. Seperti di Indonesia, hanya mengambil sample pada rentang usia 18 hingga 59 tahun tanpa cormobid (orang tanpa penyakit penyerta).

Lalu tentu saja hal ini juga berkaitan dengan laju penularan yang memengaruhi sample juga.

Namun untuk saat ini Vaksin Covid-19 Sinovac sudah mengeluarkan sebuah statement bahwa vaksin Covid-19 saat ini sudah aman untuk lansia (berdasarkan kondisi di Brazil). Distribusi ini tidak akan terlepas dari perbedaan interval penelitian dan berujung pada keluarnya izin dari BPOM.

Yang jelas, berbicara soal vaksin ini bukan hanya berbicara soal keselamatan dan kesehatan diri sendiri. Tapi juga tentang orang lain. KIta berbicara soal kemanusiaan. Dalam tanya jawab Vaksin Covid-19 ini dokter Frida menjelaskan dengan sangat jelas, gamblang, mudah dipahami dan tentu saja bisa masuk ke dalam hati dan pikiran saya.

Ketika orang sudah mau divaksin, maka ia juga menyelamatkan orang lain dari risiko penularan virus. Maka salah jika dikatakan, “anak saya ngga kenapa-napa kok ngga divaksin.” Sejatinya memang Allah telah memberikan kesehatan pada anak tersebut melalui temannya yang telah divaksin. Temannya yang sudah divaksin ini melindungi teman-temannya yang lain dari risiko tertular. Kembali lagi pada fungsi vaksin tersebut di atas bahwa vaksin akan membuat tubuhnya memiliki kemampuan untuk tidak mudah tertular dan juga tidak memiliki gejala berat kalaupun dia tertular.

Maka dengan adanya vaksin Covid 19 ini kita juga bisa mengambil kesempatan agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya? Apa yang kita lakukan saat ini, yaitu bersedia diberikan vaksin adalah salah satu hal yang dulu juga pernah dilakukan oleh nenek moyang kita ketika menghadapi flu, polio, campak, dan penyakit lainnya. Lalu hasilnya kita manfaatkan saat ini, sehingga penyakit-penyakit tersebut bisa ditekan laju penularannya sehingga menyelamatkan nyawa banyak orang sampai saat ini.

Begitu juga dengan vaksin Covid 19 ini. Apa yang kita lakukan saat ini adalah untuk masa depan ilmu pengetahuan serta kesehatan anak cucu kita kelak. Jika tak ada seorangpun yang bersedia untuk divaksin, sampai kapan Covid 19 akan menjadi momok di setiap sendi kehidupan kita. Jadi, jangan lagi takut divaksin ya. Sebagai generasi muda kita harus memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Tidak serta merta membenarkan pendapat orang yang bahkan sama sekali tidak tahu apa yang dikatakannya.

Tanyakan pada ahlinya, serahkan pada ahlinya.

 

Disclaimer :

Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021