Mari kuceritakan sebuah kisah dari buku yang baru selesai kubaca. Elegi sendok garpu.

Memasuki awal cerita, kita akan dibuat bertanya-tanya perihal kehidupan tiga bersaudara : Benjamin, Han dan si bungsu Editia.

Ketiganya memiliki seorang nenek yang dititipkan pada panti jompo karena semua anak serta cucunya tak peduli lagi pada kotoran serta air seni yang berceceran nyaris setiap hari di dalam rumahnya. Tak peduli lagi bagaimana hidupnya, meskipun sang nenek meminta maaf berkali-kali atas kealpaannya.

Panti jompo menjadi tempat yang paling tidak diinginkan seseorang saat senja menyapa. Bagaimanapun, tempat tinggal paling nyaman adalah rumahnya sendiri. Bagaimanapun, masa tua adalah waktu singkat yang ingin dihabiskan bersama keluarga.

Namun apalah daya seorang tua renta untuk menolak atau bahkan memberontak sebuah keputusan dari anak-anaknya sendiri yang berjanji akan menjenguknya satu minggu sekali. Nyatanya bulan-bulan berlalu pun tidak ada yang datang untuk melihatnya. Sekadar mendengar cerita dan keluh kesahnya.

Seorang teman nenek di panti jompo mengatakan, “Satu hal yang pada akhirnya akan kita ketahui, dan terlambat menyadarinya : bahwa anak-anak yang kita besarkan pada akhirnya akan jadi setan!” katanya suatu kali, dalam gemetar dan gigi palsu yang kadang ia copot dan balut dengan sapu tangan.

Nenek hanya diam. Sudah bertahun-tahun dia menderita insomnia akut. Obat yang diberikan suster kini hanya mampu membuatnya tidur selama dua jam saja. Selebihnya dia akan melamun dan mempertanyakan nasibnya. Hingga suatu malam, ia mengumpulkan butir-butir obat yang dia dapatkan dari perawat untuk mengatasi insomnianya. Ia berhasil mengumpulkan puluhan obat tidur dlm genggamannya. Ia masukkan semua obat itu dalam mulutnya. Kemudian menelannya, dengan bantuan air. Sebentar kerongkongannya tercekat, namun ia tetap menelan puluhan obat itu.

Di waktu yang sama, ketiga cucunya tengah menyambut nasib yang sedemikian tragis juga. ⭐⭐⭐
.
@30haribercerita
#30hbc1904 #30haribercerita #oneweekonebook #bookreview #38HBC19