Loving The Wounded Soul adalah buku self improvement karya Regis Machdy. Seorang lulusan program Master of Global Mental Health dari University of Glasgow, Inggris dan merupakan co-founder Pijarpsikologi.org, sebuah startup yang berfokus pada penyediaan informasi dan konsultasi psikologi gratis untuk masyarakat Indonesia. Regis juga mengalami depresi kronis sejak masa remaja sehingga ia memerlukan konsultasi ke psikolog sebanyak 42 kali agar kondisinya membaik. Buku Loving The Wounded Soul ini adalah refleksi atas perjalanannya bersama depresi sekaligus karya akademisnya sebagai dosen psikologi di Universitas Surabaya.

Kombinasi konsep ilmiah dan curhatan

Membaca Loving The Wounded Soul seperti tidak membaca buku nonfiksi, apalagi seperti membaca teori-teori dalam psikologi yang mungkin akan susah dimengerti oleh masyarakat awam. Namun, Regis menuliskan teori tersebut beserta dengan landasan ilmiahnya dengan balutan pengalaman depresinya selama ini. Buku ini memang ditujukan sebagai jembatan antara dunia akademisi psikologi yang terlalu ilmiah mungkin? dan masyarakat yang belum paham sama sekali mengenai kesehatan mental.

Meskipun ada banyak daftar istilah ilmiah di dalamnya, Regis mampu menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Termasuk oleh saya sendiri yang tidak memiliki latar belakang psikologi. Meskipun ada sambungan-sambungannya juga dengan biologi, ilmu yang saya geluti di masa kuliah.

Tidak banyak penderita depresi mau dan mampu menceritakan apalagi mempublikasikan pengalamannya karena masih ada stigma negatif dari masyarakat tentang depresi itu sendiri. Namun tanpa malu-malu dan hirau dengan stigma itu, Regis berbagi pengalamannya selama depresi menjadi bagian dari dirinya sendiri. Bagaimana sesi konselingnya dengan psikolog, bagaimana ia menghadapi dan bertahan dari sebuah fakta bahwa pernah ada keinginan bunuh diri yang kuat dan berkali-kali dalam dirinya. Bagaimana ia sengaja menjauhi keluarga dan teman-temannya yang di masa sekolah banyak membully dirinya, dan lain-lain.

Saya sebagai pembaca banyak teredukasi dari pengalaman dan tulisan dari buku ini. Mulai dari bagaimana membedakan stres, mengatasi dan menjadikannya sebagai energi untuk lebih produktif, bagaimana saya harus memperlakukan diri sendiri dengan baik, dan masih banyak lagi ilmu yang dibagi oleh Regis dalam buku Loving The Wounded Soul ini.

Buku ini terbagi dalam beberapa bab dan tidak saling berkaitan, sehingga kita bisa membacanya acak atau sesuai dengan kebutuhan kita, mana yang lebih dulu harus dibaca. Regis juga berpesan agar boleh tidak melanjutkan sampai habis jika dirasa tidak perlu, namun akan lebih baik jika kita membacanya secara keseluruhan agar pemahaman kita tentang depresi lebih komprehensif.

Loving The Wounded Soul

Menepis Stigma

Stigma bahwa depresi disebabkan karena lemahnya iman juga dibahas dalam buku ini. Regis menjelaskan secara gamblang bahwa depresi tidak sesimple itu. Banyak juga orang yang beriman dan terlihat keshalihannya selama ini ternyata menderita depresi juga. Oleh karena itu Regis menepis stigma tersebut dengan menjabarkan seberapa kompleksnya masalah depresi itu, meskipun iman adalah salah satu faktornya. Regis menjelaskan bagaimana depresi itu dipengaruhi oleh epigenetik, lingkungan sosial, hingga luka batin di masa lalu yang belum teridentifikasi apalagi termaafkan. Termasuk juga karena hormon dan pola makan yang saya rangkum dengan tambahan informasi di sini : Otak Kedua Manusia

Bagian paling menarik dari buku ini adalah bagaimana saya belajar bahwa gen juga memengaruhi bagaimana seseorang bisa menderita depresi. Begitu juga dengan iman yang menumbuhkan harapan pada diri seseorang. Lalu dari harapan itulah orang memiliki kebahagiaan kecil yang bisa membawanya pada perbaikan-perbaikan emosi negatif.

Loving The Wounded Soul juga membahas depresi secara komprehensif. Mulai dari aspek klinis dan budaya, faktor internal dan eksternal, serta higher meaning dari kehadiran depresi itu sendiri. Tak hanya menjadi pedoman bagi orang dengan depresi, buku ini juga penting bagi pendamping dan siapa saja yang ingin memahami kompleksitas jiwa sekaligus menemukan makna sejati kehidupan.

Pesan Regis dalam Loving The Wounded Soul

Lewat pengalamannya Regis ingin mengatakan pada dunia bahwa mari membicarakan depresi dan kesehatan mental lainnya seperti kita membicarakan luka fisik yang juga bisa disembuhkan dan butuh dukungan. Ketajaman analisis Regis sebagai ilmuwan psikologi yang menyentuh perasaan pembaca dengan pengalaman konkretnya ini diharapkan dapat membantu kita semua, sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas untuk melihat depresi dari berbagai sisi dan secara komprehensif. Tidak parsial atau setengah-setengah.

Kita juga perlu tahu bahwa depresi juga bagian dari kehidupan manusia. Kehadirannya tentu mengajarkan pada manusia tentang arti kehidupan, cinta kasih, dan keikhlasan. Victor Frankl, seorang psikiater yang sempat ditahan Nazi selama tiga tahun, mewawancarai orang-orang dengan pertanyaan utama, “Mengapa Anda tidak bunuh diri?” Ayahnya, ibunya, saudaranya dan istrinya dibunuh oleh Nazi. Pengalamannya selama di tahanan dan penelitiannya mengenai orang-orang yang depresi membantunya merumuskan tiga cara manusia dalam memaknai hidup.

Cara Kreatif, yakni makna hidup yang ditemukan melalui penyaluran kreativitas dan menciptakan karya. Seperti menulis buku, melakukan penelitian, membuat lagu, mendirikan bisnis, dan lain sebagainya. Cara experiential yakni merasakan makna hidup melalui pengalaman. Merasakan cinta, terhubung dengan manusia lain, alam, atau keinginan mengunjungi suatu tempat. Cara attitudinal yaitu bersikap positif untuk memaknai hidup ini, terlepas dari apapun yang terjadi.

Bermimpi, Berkarya, dan Bahagia adalah prinsip baru yang diyakini Regis dalam hidupnya agar kita bisa memaafkan masa lalu yang kelam, menghindari depresi dan terus fokus pada masa mendatang.

 

Loving The Wounded Soul, by Regis Machdy

Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Cetakan keempat Maret 2020, 287 halaman

4/5