I Want To Die But I Want to Eat Tteokpokki adalah kisah yang ditulis Baek Se Hee tentang distimia yang dideritanya. Bagaimana ia bisa melalui dan menghadapinya?

Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima?

Apa benar kau ingin mati?

Perjalanan seorang distimia tentu tidak mudah. Menekan perasaan-perasaan negatif agar tidak keluar dari pikirannya tentu sangatlah sulit. Akhir-akhir ini banyak dijumpai artis-artis Korea yang mengalami depresi hingga bunuh diri. Dari kalangan bukan artis pun bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan bunuh diri. Kecemasan luar biasa yang mereka alami, serta bagaimana mereka memandang hidup ini sangat rumit untuk diselami. Tidak seperti kita orang-orang Indonesia yang dikenal sebagai orang paling woles bin santuy.

i want do die but i want to eat tteokpokki

Kisah Baek Se Hee dalam I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki

Baek Se Hee adalah seorang lulusan sastra dari sebuah universitas yang cukup ternama di Korea Selatan. Sejak kecil ia punya rasa rendah diri yang berlebihan, akibat dari bullying dari beberapa temannya di sekolah. Saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Selama lebih dari sepuluh tahun ia mengidap Distimia (depresi berkepanjangan) dan gangguan kecemasan. Setelah mencoba mengunjungi berbagai psikolog dan psikiater, akhirnya pada tahun 2017 ia menemukan rumah sakit yang cocok dan kini sedang menjalani pengobatan, baik dengan menggunakan obat maupun metode konsultasi. Makanan yang paling ia sukai untuk dinikmati saat membaca buku dan menulis cerita adalah tteokpokki. Oleh karena itu judul dari buku yang ia tulis ini cukup unik, mengusung makanan kesukaannya serta bagaimana ia menjalani hari-hari yang hitam dan putih. Tidak ada abu-abu atau gabungan warna lain yang bisa menekan rasa cemasnya.

Buku ini delapan puluh persen berisi percakapan yang direkam oleh Baek Se Hee saat ia menjalani konsultasi dengan psikiaternya. Esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat dan evaluasi diri ini bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya. Banyak pembaca di Korea Selatan yang mengaku merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku self improvement  ini mendapat sambutan sangat baik di negaranya hingga meraih predikat Best Seller.

Karya Baek Se Hee ini memang unik. Baru kali ini saya menjumpai buku yang berisi banyak sekali percakapan antara pasien dan dokternya. Percakapan yang berani Se Hee tuliskan menjadi sebuah buku agar pembaca dapat mengambil banyak pelajaran dari berbagai treatment yang selama ini ia lakukan. Nyatanya pengobatan distimia memang tidak bisa sesingkat itu. Rasa nyaman yang selama dicari oleh Baek Se Hee tertutup oleh banyak kekhawatiran dan opininya secara pribadi. Ia tak bisa melihat fakta dengan lebih gamblang dan obyektif. Sehingga ketika obat yang diberikan psikiater bereaksi untuk menenangkan perasaan emosi yang dipicu oleh bagian dari otak kecil dalam kepalanya, kadang ia memenangkannya namun tak jarang ia dikalahkan oleh pikirannya sendiri.

Psikiater yang mendampingi Se Hee juga mengemukakan tentang histrionik. Baek Se Hee diduga juga menujukkan gangguan kepribadian itu. Histrionik adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh kecenderungan yang melebih-lebihkan ekspresi emosional untuk menerima perhatian dari orang lain. Baek Se Hee takut tersingkirkan dan terpinggirkan. Padahal, tak mengapa jika kita disingkirkan atau bahkan dipinggirkan. Tidak apa-apa jika kita harus turun satu atau dua tingkat anak tangga. Jangan sampai rasa takut yang kita miliki lebih besar daripada seharusnya sehingga merangsang rasa khawatir yang lebih besar pula. Seperti sebuah obsesi.

Sebenarnya merasa “diremehkan” itu bukanlah kebenaran yang harus kita turuti perasaannya. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang meremehkan kita, namun kitalah yang paling meremehkan diri sendiri. Manusia itu punya sifat tiga dimensi. Setiap orang memiliki berbagai sisi dalam dirinya. Di dalam diri seseorang bisa ada kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Segala yang terjadi pada manusia adalah relatif. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang meremehkan kita, kitalah yang meremehkan diri sendiri.

Baek Se Hee berharap orang-orang yang sering mengalami keretakan dalam hubungan gara-gara mereasa diremehkan, direndahkan atau diabaikan, serta orang-orang yang memiliki pemikiran ekstrem seperti Baek Se Hee bisa membaca tulisannya. Karena kenyataannya setiap orang memiliki beberapa bagian yang berbeda dalam diri masing-masing. Perbedaan yang kita miliki sebaiknya bukan menjadi alasan bagi kita untuk berpikir apakah kita harus melanjutkan atau mengakhiri hubungan dengan seseorang. Meskipun otak kita paham betul tentang hal itu, tapi terkadang hati kita itu seperti minyak dan mendorong kebahagiaan tenggelam ke dasar.

Wadah yang menampung kesedihan dan kebahagiaan adalah sebuah wadah bernama kehidupan yang memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan. Meskipun kita merasa sedih, kita bisa merasakan bahwa kita hidup dan sedang mengarungi kehidupan. Hal ini dirasakan Se Hee sebagai satu kemajuan yang memberinya rasa nyaman dan kebahagiaan. Bagaimana ya akhirnya, apakah Se Hee menang melawan penyakit mental yang dideritanya?

Pada pertengahan kisah dan treatmentnya bersama psikolog, Se Hee memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia merasa bosan dan tertekan karena rutinitas yang dijalaninya selama bekerja. Padahal tidak mudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion yang ia miliki. Distimia yang dialaminya terkadang mengalami perkembangan yang sangat baik dan ada kalanya juga tidak ada kemajuan sama sekali, selain kecemasannya berkurang pada saat mengonsumsi obat saja.

Bahkan ketika psikiater menaikkan dosis obat yang harus diminum oleh Se Hee, ia masih saja berpikiran ekstrem tentang dirinya. Selain ambivalensi yang ia alami, Se Hee jadi semakin banyak minum alkohol dibanding sebelumnya karena efek samping obat yang tak bisa ditahannya. Terkadang jantungnya berdegup dengan sangat cepat pada saat dini hari, kemudian ia merasa cemas tanpa sebab. Sehingga kualitas tidurnya menjadi sangat buruk dari hari ke hari. Ia selalu merasa kelelahan karena pagi harinya ia harus bekerja hingga petang.

Namun bukan berarti ia tak bisa sembuh sama sekali dari distimia yang ia alami. Perasaan rendah diri, histrionik, dan beberapa indikasi distimia yang lainnya bisa ia rasakan dan identifikasi polanya. Psikiater yang membimbing Se Hee mengatakan inilah kemajuan yang bisa ia tunjukkan, dibanding pertama kali Se Hee berobat padanya.

Seperti dilansir dari jurnal Sociolla bahwa distimia bisa mempengaruhi kinerja kita sehari-hari atau memperburuknya. Tidak sama seperti depresi akut yang langsung membuat penderitanya bersikap tak wajar, distimia cukup tersembunyi dan perlahan menggerogoti dari dalam. Produktivitas kerja menurun, tubuh selalu tidak fit dan karenanya sistem imun menjadi rendah, kecenderungan untuk penyalahgunaan obat-obatan dan kecanduan miras, selalu muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri karena merasa tak berharga, hingga timbul pikiran untuk bunuh diri. Jika tak segera ditangani, gangguan mental ini benar-benar bisa membuat seseorang menjadi depresi akut.

Untungnya Se Hee selalu meminum obat yang diberikan psikiaternya. Ia pun rutin mengunjungi psikiaternya minimal satu minggu sekali untuk melakukan terapis. Secara perlahan ia diarahkan untuk selalu melakukan kegiatan positif, termasuk bergabung ke dalam kelompok novel dan diskusi film. Meskipun kecemasan berlebihan yang ia alami belum juga reda hingga ia menyelesaikan buku ini, namun kemajuan yang ia tunjukkan sudah lumayan pesat. Sehingga ia pun bisa memiliki waktu tidur yang cukup.

Se Hee berusaha untuk membuat suasana hatinya normal sehingga ia tak akan memikirkan berbagai emosi negatif yang selalu datang saat ia tengah beristirahat. Sehingga waktu yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat habis karena digunakan oleh Se Hee untuk memikirkan spekulasinya sendiri. Hal-hal negatif yang berusaha ia tekan memang berhasil untuk tidak diekspresikan, namun pada kenyataannya hal-hal positif itu pun juga tertekan dan tidak bisa keluar dari dalam dirinya. Untuk menjaga keseimbangannya, Se Hee mensiasatinya dengan mengeluarkan seluruh emosi negatifnya lewat tulisan, atau semacam buku harian. Memang benar ya, menulis itu bisa menjadi sebuah terapi tersendiri untuk kita yang sedang ingin meluapkan emosi tanpa melukai orang lain. Menulis sebagai self healing yang tentu bisa kita arahkan menjadi waktu yang lebih produktif.

Kita akan menemui beragam pengalaman nyata dari berbagai pandangan teori yang ditulis oleh Baek Se Hee di buku ini, yang disampaikan dengan bahasa yang apa adanya. Kita juga akan melihat interaksi antara psikiater yang tidak  sempurna dengan seorang pasien yang juga tidak sempurna. Namun, interaksi antara dua orang yang tidak sempurna ini sama-sama membuat mereka bertumbuh. Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan semakin bertumbuh.

 

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, by Baek Se Hee.
Penerbit Haru, 2019, 232 halaman.
3/5