CADL, Novel Tanpa Huruf E

Ivan langsung mundur dari posisi politis mana pun di Wiranacita. Dia hanya bilang dia ingin pulang, tanpa katakan tujuan yang dimaksudnya, apakah itu Pratanagari ataukah Rusia. Disinyalir bahwa Ivan sangat muram atas putusan bunuh diri Zaliman yang tidak libatkan dirinya. (Cadl, halaman 271)

Novel tanpa huruf E ini sudah kutunggu terbitnya sejak masa sebelum PO. Sejak kak Triskaidekaman banyak memberikan stimulus berupa iklan di laman instagramnya agar aku tertarik, lalu ikutan PO. Bayangkan, sebuah novel yang dari awal hingga akhir tidak kujumpai satu pun huruf E di dalamnya. Kecuali pada cover dan dua atau tiga halaman awal. Itu pun huruf E-nya disensor. Sungguh ide yang sangat gila sekaligus brilian menurutku.

Mulanya, Kak Triska menuliskan Cadl sebagai jawaban dari tantangan lipogram dari Wisnu Widiarta (pada laman Monday Flash Fiction and Quora). Tantangannya membuat satu paragraf tanpa huruf E, namun Kak Triska tidak hanya membuat satu paragraf, tapi satu buku.

CADL, Novel Tanpa Huruf E

Berkat Kak Triska pula aku jadi terpantik untuk mencoba-coba membuat satu puisi tanpa huruf E. Namun hasilnya masih tetap saja kecolongan dan telanjur diterbitkan di salah satu media elektronik. Karena kurang teliti dan kurang salep mata mungkin, hehe.. Jadi sungguh aku bisa membayangkan bagaimana susahnya kak Triska menyunting naskahnya ini lembar demi lembar sehingga lahirlah novel tanpa huruf E.

Meskipun tanpa huruf E, namun alur cerita dari novel ini berjalan dengan sangat mulus, khas Kak Triska, Tidak seberat dua novel sebelumnya, CADL lebih ringan, lebih mudah dicerna, namun juga lebih gila. Kak Triska memberi nama-nama tokoh di dalamnya dengan nama-nama kocak yang sering kita pakai sebagai umpatan. Seperti Babi, Jingan, Jahanam Jadahayati, aduh pokoknya bikin ngakak sekaligus kesal. 

CADL menceritakan perjalanan sebuah manuskrip dan buku yang dilarang beredar di sebuah negara yang dipimpin oleh seorang diktator Zaliman. Buku dan manuskrip itu ternyata membuat banyak orang menjadi korban kekejaman rezim Zaliman di negara itu, negara Wiranacita. Hidup rakyat Wiranacita kian rumit saat huruf itu dimusnahkan Sang Diktator, Zaliman Yang Mulia. Aturan bicara dibatasi, buku-buku mulai disortir, dan kamus harus diganti. Di balik larangan itu, ada rahasia suram dan kisah masa lalu yang ditutupi rapat-rapat. Saat satu-dua potongan rahasia itu muncul, Lamin hanya ikuti apa kata hatinya. Dia tak sadar akan ambang bahaya yang sedang dia hadapi.

Sepintas seperti di negeri antah berantah yang tak kukenal. Semakin larut aku membacanya, aku semakin merasakan sebuah kemiripan dengan yang dialami oleh kami sebagai rakyat kecil di sebuah negara yang tampak luar sebagai negara demokratis. Padahal banyak suara-suara yang masih dibungkam dengan sengaja, dihilangkan secara paksa, sampai pada dihilangkannya Hak Asasi Manusia yang kerap kali dielu-elukan para aktivis di negeri ini. Sarkasme yang dituliskan tentang bagaimana orang-orang di negeri ini begitu mudah terpedaya juga menjadi poin penting sekaligus sebuah kritik bagi bangsa ini.

Kak Triska cerdas memainkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam manuskrip dan buku itu. Buku karangan Bagus Prihardana yang disebut-sebut Diktator sebagai buku yang dilarang semakin membuatku penasaran. Karena katanya, isinya adalah ajakan makar. Paket komplit, karena Kak Triska juga memberikan bonus kumpulan puisi dari Bagus Prihardana itu pada siapa saja yang mengikuti PO buku CADL. Isinya ternyata bukan ajakan makar. Karena menurutku kumpulan puisi itu justru menggambarkan siapa diri Zaliman sang Diktator yang sesungguhnya.

Aku cukup puas dengan ending yang dibuat oleh Kak Triska, melihat tidak ada satu tokoh pun yang membuatku bersimpati. Kalau semua tokoh harus mati, sepertinya malah lebih bagus (saking jengkel dan sebalnya dengan kelakuan mereka). Membaca buku ini menamparku di kiri dan kanan pipi, bahwa memajukan bangsa tidak cukup dengan hanya keberanian mengemukakan pendapat dan menuai kritik pada Pemerintah saja. Namun mulailah dari diri sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

CADL – Penulis : Triskaidekaman

Penerbit Gramedia, Jakarta

Cetakan Pertama Maret 2020, 282 halaman

4/5

Baca juga : Cara Berbahagia Tanpa Kepala, Review