Sang Pangeran dan Janissary Terakhir adalah salah satu hisfic favorit saya tahun ini. Banyak sekali hal yang saya pelajari lewat tulisan Salim A. Fillah ini.

“Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek,” katanya sedikit tertawa, “yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin pemenangan agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ulama mengira arah Khurasan adalah Khurasan itu sendiri, dan Daulah Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam perang mereka menggulingkan Daulah Umawiyah. Tapi kini kita tahu dunia Islam ini pernah membentang jauh lebih panjang dari Malaga sampai Maluku, dari Marrakech sampai Makassar,” ujar beliau sambil tersenyum simpul.

“Sungguh aku berharap agar yang dimaksud Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini tugas besar kalian adalah menggenapi syarat-syaratnya agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam. Hidupkanlah jihad. Tegakkan syariat. Satukanlah ummat.”

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir, halaman 18

Bergetar hati saya membaca bagian dari potongan percakapan yang tertulis dalam sebuah kertas yang gulungannya disimpul dengan cincin perak berukir Tughra Sultan Abdul Hamid I dari Daulah Ustmaniyah. Ditutup dengan sebuah cap bertanda Sadrazam Daulah Utsmaniyah bernama Alemdar Musthafa Pasha dengan tarikh 27 Ramadhan 1223. Surat yang menjadikan semangat jihad berkobar dalam diri Pangeran Diponegoro.

Membaca buku ini membuka wawasan saya tentang perang yang telah berkobar di tanah Nusantara ini dan diceritakan dalam buku-buku sejarah. Buku sejarah yang saya baca semasa SD, SMP hingga SMA. Sungguh sangat jauh berbeda dengan sejarah yang dikemas dalam novel fiksi karya Ustadz Salim A Fillah ini. Penggambaran latar, waktu serta tokohnya begitu detail dan seolah membawa saya pada zaman itu. Seolah ikut membawa jiwa ini pada kejadian demi kejadian mulai dari kota Istanbul hingga Yogyakarta yang istimewa.

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir adalah fiksi sejarah berlatar perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Kisah yang dituliskan sangat apik dan menyentuh ini menyorot dengan akrab kepribadian Pangeran Diponegoro sebagai seorang santri berdarah biru yang menjauhkan dirinya dari segala segala kenyamanan yang ditawarkan keraton atau kesultanan.

Tidak hanya  berpusat pada Pangeran, namun juga menggambarkan petualangan Sang Janissary terakhir dari Istanbul yang bernama Nurkandam Pasha dan adik iparnya, Basah Katib. Mereka berdua membawa pesan pewarisan peradaban, bahwa bangsa di kepulauan Nusantara sangat diharapkan menjadi penghulu kebangkitan Islam nantinya.

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Strategi Belanda, musyawarah para ulama, hingga pada akhir peperangan ini tidak hanya menggambarkan sejarah yang penuh pelajaran bagi generasi muda saat ini. Namun juga membawa pesan tulus penuh cinta, lautan hikmah yang hampir-hampir selalu ada di setiap babnya. Seperti yang telah disebutkan oleh penulis bahwa buku ini insya Allah menjadi buku pertama dari Tetralogi Sang Pangeran yang akan mengupas kisah dakwah serta perjuangan dalam sejarah Nusantara.

Setiap lembarnya membawa saya pada kehidupan di zaman itu. Betapa bersyukurnya dilahirkan di tanah Nusantara yang subur yang biasa disebut sebagai secuil surga yang Allah turunkan di bumi. Ikut bersemangat ingin menumpas segala bentuk penindasan rakyat yang dilakukan oleh Belanda dan bangsa pribumi yang menjadi penjilatnya. Ikut menangis ketika harus menghadapi kenyataan harus siap berpisah kapan saja dengan orang-orang yang dicintai. Sekaligus ikut meyakini bahwa kebahagiaan hakiki tidak bisa kita capai di dunia ini. Sebagaimana pesan Nuryasmin pada suaminya, Basah Katib ketika tengah dikepung oleh musuh Londo berambut jagung dan Londo ireng :

“Seandainya kebersamaan hakiki itu ada di dunia ini, niscaya takkan pernah aku membiarkan Kanda beranjak dari sisiku walau sedetik pun. Namun, kita sama-sama tahu bahwa kebersamaan sejati adanya di surga nanti. Maka aku izinkan Kanda untuk pergi sejenak, berjuang di jalan Allah mengumpulkan bekal kita untuk akhirat sana, agar kebersamaan kita di surga nanti jauh lebih indah lagi.”

Sebagaimana perasaan saya melepas suami untuk setiap hari bekerja keluar masuk Rumah Sakit di tengah pandemi Covid-19 yang menyita banyak tenaga, harta serta waktu kami untuk bersabar. Namun janji Allah itu kami percayai nyata adanya. Bahwa di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Bahwa tidak ada satu Muslim pun yang tidak akan diuji keimanannya. Buku ini seperti paket komplit. Mengajarkan sejarah, politik, persahabatan, penghianatan, hingga kisah cinta yang memilukan. Ustadz Salim sungguh piawai membuat emosi saya sebagai pembaca bergejolak naik turun.

Sungguh malu diri ini ketika merefleksikan diri dengan perjuangan kakek nenek kita terdahulu untuk mempertahankan haknya. Mempertahankan tanah, kehormatan, serta agamanya. Buku ini sekaligus sebagai cambuk bagi kita semua generasi muda agar tidak bermudah-mudah dalam membuang waktu yang berharga. Setiap detik yang kita lalui sejatinya adalah perjuangan, karena bangsa ini belum merdeka sepenuhnya. Ada hal besar yang menanti kita, sebagaimana harapan orang-orang Turki Ustmani sebelum mereka diruntuhkan oleh perpecahan di dalam ummat itu sendiri.

Wus dadi karsaning sukma/ Tanah Jawa pinasthi mring Hyang Widi / Kang duwe lakon Sira//

Sudah menjadi kehendak Yang Maha Esa / Tanah Jawa telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta / Kamulah yang akan menjalani peran utama//

Inggih kulo dutaneki, Mboten wonten Narendraji, ingkang ngluhuraken agaminya Kadosta Jeng Sultan Ngabdul Kamit.

Sungguh saya hanya utusan, Tiada Raja yang memuliakan agamanya, Seperti dilakukan Sultan Abdul Hamid Diponegoro

(Kyai Mojo, 1928)

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir, oleh Salim. A. Fillah

Penerbit Pro-U Media Yogyakarta, 631 halaman

5/5

Baca Juga Kita, Kata dan Cinta. Belajar Bahasa Indonesia lewat Novel