Time Capsule #dirumahaja (1)

Teruntuk anak semata wayangku, Al-Isya Faraisha Kaina. Nama yang diambil dari seorang istri Nabi pilihan Allah, mudah-mudahan kecantikan, kebaikan, keluhuran budi serta perangainya juga terwarisi padamu ya Dek.

Hari ini ibu memutuskan untuk menulis secara rutin buku harian untuk kau baca kelak ketika dirimu sudah besar. Ketika nanti dirimu sudah tahu mana yang baik dan buruk. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, Ibu semakin sadar bahwa kedatanganmu di dunia kami memang sudah digariskan oleh Gusti Allah, Sang Maha Pemegang Hidup. Ibu mungkin akan matigaya kalau harus melalui karantina mandiri selama beberapa minggu ini sendirian. Atau mungkin hanya berdua dengan Bapakmu yang pendiam.

Al-Isya, hari ini adalah hari kelima belas kita terus berada #dirumahaja. Ulama dan umara menginstruksikan kita untuk tetap berada di rumah karena persebaran virus covid-19 yang begitu mudah dari orang satu ke orang lain. Sebagai pemutus mata rantai, kita harus tetap #dirumahaja hingga pandemi ini berakhir. Ibu bosan, kau tahu kan kebiasaan Ibu yang tidak akan pernah berhenti untuk selalu terus bergerak. Namun sejak instruksi tempat ibu bekerja diumumkan, akhirnya Ibu harus tetap bekerja dari rumah. Menemanimu 24 jam selama kurang lebih enam minggu.

Ibu tahu kau juga pasti bosan. Aktivitas kita mendadak berubah drastis begitu virus ini datang menghampiri negeri kita tercinta. Kalau awalnya pagi-pagi kau sudah ibu bangunkan untuk segera berangkat ke day care, maka sejak lima belas hari yang lalu ibu bebaskan kamu untuk bangun siang. Mau mandi kapan saja, ibu bisa santai. Bahkan ibu cenderung lebih senang kalau kau bangun siang. Karena dengan begitu, ibu punya banyak waktu untuk membaca dan menulis, seperti kebiasaan ibu setiap harinya.

Namun anehnya, sejak lima belas hari yang lalu ibu jadi sangat malas untuk menulis dan membaca. Entah mengapa menemanimu bermain dari pagi hingga malam membuat tenaga ibu terkuras habis. Bahkan lebih meletihkan dibandingkan harus bekerja seharian. Ibu tidak se-produktif dulu saat kehidupan kita berjalan dengan normal. Ibu justru tidak gampang capek ketika sepulang dari bekerja harus membereskan mainan dan berkumpul bersama denganmu dan juga Bapakmu. Kadang kita masih sempatkan untuk jalan-jalan di malam hari menaiki sepeda motor, entah untuk mencari nasi goreng pinggir jalan atau sekedar menyenangkan hatimu. Ah, Ibu rindu. Padahal masih lima belas hari.

pict from unsplash.com/
@sushioutlaw

Lalu ibu terbayang bagaimana saudara-saudara kita di Palestina selama puluhan tahun terkurung dalam rumah mereka sendiri karena rudal dan peluru nyasar masih sering menghampiri mereka di jalanan. Lalu, ibu pun kembali bersyukur. Bersabar sebentar, hanya tiga bulan maksimal. Jika tidak, kota ini akan seperti kota-kota di Italia atau Amerika yang memiliki jumlah kasus terbesar di dunia, begitu juga korbannya. Ibu tidak akan bercerita bagaimana kekhawatiran Ibu pada Bapakmu yang setiap hari harus pergi ke rumah sakit. Kau pasti sudah mengerti tentang hal itu. Lagipula Ibu sedang tidak ingin membicarakan hal-hal yang akan membuat kita sedih lalu stres.

Bapakmu adalah termasuk orang-orang yang ikut berjuang melawan virus ini Dek. Garda terdepan yang harus rela terinfeksi kapan saja, terisolasi kapan saja, dan gugur kapan saja. Bahkan tanpa bicara pun Ibu tahu, Bapakmu selalu berpesan agar Ibu bisa terus mendampingimu ketika Bapak sedang berjuang. Tak boleh dilepaskan ke dalam pengasuhan siapapun kecuali Uti, Kung dan Ammahmu. Ibu menghibur diri dengan membaca, menghindari berita-berita yang mengkhawatirkan, menghapus pesan-pesan hoax, serta tentu saja menulis.

Hari ketujuh karantina mandiri, Ibu memesan sebuah busyboard untukmu. Kala itu betapa bulat matamu menatap papan itu penuh antusias. Ketika kau sibuk dengan permainan motorik itu, Ibu menyusun materi penyuluhan untuk dikirimkan ke relasi kantor, atau menulis apapun itu yang sedang ibu pikirkan. Barulah ketika kau tidur siang, Ibu bisa membaca hingga satu atau dua jam. Buku-buku di rak Ibu masih banyak yang belum terbaca, acara #dirumahaja kali ini ternyata bisa membuat timbunan buku milik Ibu berkurang drastis. Kau pun terkadang ikut membaca. Ah, betapa lucunya celotehmu yang samar dan tidak jelas itu. Berlaga seperti orang dewasa yang sedang asyik membaca buku dan menggumamkan sesuatu.

Al-Isya, dunia pasca pandemi ini pasti tidak akan pernah sama lagi. Duniamu, pendidikanmu, serta kebudayaan yang sangat mungkin akan bergeser dari masa-masa sekarang. Apapun perubahan itu, Ibu harap kau akan tetap menjadi dirimu sendiri, Isya yang baik hati, tak mau menyakiti orang lain, cerdas, dan mandiri. Kelak, sejarah akan mencatat bagaimana pandemi ini bermula dan khatam pada saatnya. Kau harus belajar dari sana, ya!

Doakan bapakmu agar selalu diberi kesehatan, kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian kemanusiaan ini. Mudah-mudahan kita semua sehat selalu. Ibu berharap bisa mendampingimu hingga dewasa. Menceritakan rahasia besar yang harus Ibu katakan padamu. Apa itu? Sabar saja dulu ^^

Nah, setelah bermain busyboard, membaca buku, menengok kucing tetangga sebelah, sebaiknya apa yang harus kita lakukan lagi ya untuk mengusir kebosanan setidaknya tiga pekan lagi berada #dirumahaja?

Malang, 30 Maret 2020

Karantina mandiri hari ke-15.

Jumlah kasus per 30 Maret 2020 : Positif 1414 orang, Meninggal 122 orang, Sembuh 75 orang

Selanjutnya :

(2) Time Capsule #dirumahaja (2)

Leave a Reply