Warsih diam menerawang ke langit-langit rumah. Dilihatnya genteng-genteng yang tak bertemit. Warnanya kusam. DI sana ini terdapat lubang-lubang kecil yang kalau musim hujan airnya bisa menerobos bebas. Demikian juga dindingnya banyak yang terkelupas menampakan batu bata. Semuanya minta diperbarui. Kalau hanya mengandalkan penghasilan emak dari buruh pabrik teh, tidak mungkin cukup. Untuk makan saja susah. Belum lagi biaya sekolah dua adiknya, Warsiti dan Warsito. 

(Warsih, halaman 70)

Kumpulan Cerpen berjudul Warsih ini mengingatkan saya pada tulisan Bunda Asma Nadia yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Penulisnya piawai membuat cerita demi cerita mengalir dengan lembut dan indah dalam satu buku. Sederhana namun tajam meninggalkan pesan bagi pembaca agar berpikir bersama-sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan di negeri ini.

Justru tantangan terberat dalam membaca cerita-cerita dalam buku inilah yang sebenarnya saya cari. Yaitu usai membacanya, Apa yang kamu dapat? Lalu saya akan menuliskan deret kalimat yang benar-benar harus ikut kita pikirkan jika ingin menjadi orang-orang besar. Orang-orang yang disebut sebagai Ustadz Budi Azhari sebagai orang-orang yang ikut memikirkan bagaimana kelangsungan bangsa ini sepuluh, dua puluh hingga seratus tahun ke depan. Tentang pendidikan, hak asasi manusia, kemiskinan, serta makna persahabatan dan kesetiaan.

Banyak hikmah yang bisa kita selami selama membaca kumpulan cerpen ini. Mulai dari kisah berjudul Naya, Koko, Dalam Cahaya Temaram, dan sebagainya. Harga bukunya murah dan hasil cetakannya memuaskan, seperti buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Major pada umumnya. Bahkan mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa buku ini dicetak mandiri oleh penerbit Indie. Justru saya merasa mungkin perlu ada penambahan beberapa judul lagi, sehingga bisa lebih berlama-lama untuk membacanya.

Sebagai penutup ulasan dari kumpulan cerpen ini saya ingin menuliskan bahwa ketika membaca sebuah buku, saya selalu berusaha untuk menuntaskannya. Baik itu buku “baik” maupun “buruk” versi saya. Namun Warsih tidak butuh waktu lama untuk saya selesaikan, cukup satu hari saja. Ceritanya mengalir, lugas, dan dekat dengan keseharian kita. Sehingga julukan “buku baik”, yaitu buku yang dapat menyisakan perenungan bagi pembacanya ini pantas disandang oleh “Warsih”. Renungan untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi diri serta hikmah yang membuat kepala kita mengangguk-angguk setuju. Warsih semacam snackbooks yang bisa kita santap usai berlelah diri mengurus pekerjaan yang mulai membosankan ketika dikerjakan #dirumahaja. Tidak mengenyangkan, tapi cukuplah sebagai hidangan pembuka seperti donat kentang yang dinikmati dengan teh hangat kala petang. Hats off untuk Mas Sutono.

Warsih, oleh Sutono Adiwerna

Penerbit Zukzez Express, Banjarbaru.

Cetakan 1 Maret 2020, 95 halaman

3,5/5