Part sebelumnya : Sang Dewi bernama Sri

Part 18

 

 

Taufiq tahu jika perasaan yang dipendam itu tidak baik. Namun jika mengungkapkannya akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk, maka perasaan itu lebih baik dipendam saja. Taufiq juga tahu dirinya bukanlah siapa-siapa. Seseorang yang tak pantas mendampingi seorang wanita seperti Sri. Anak seorang terdidik dan terpandang. Begitu lama ia istikharah memohon petunjuk pada Allah agar memberikan petunjukNya. Hidupnya memang semakin berwarna sejak kehadiran Sri di sekolah. Ia jadi punya semangat baru menghadapi hari-hari beratnya selama ini. Ia jadi punya tujuan yang lebih jelas untuk jangka panjang ke depannya. Taufiq terus meminta pada Allah usai salat agar selalu diberi kekuatan untuk bisa menghadapi Sri setiap hari.

 

Suatu hari ia memutuskan untuk pulang kampung di akhir pekan. Kangen Emak, katanya. Taufiq yang saat itu sudah semester akhir mendapati Emaknya semakin hari semakin payah mengelola usaha kue basahnya. Semakin hari pendapatannya pun semakin sedikit. Kue yang dijual Emak tidak seramai dulu. Tidak selaris dulu saat Taufiq awal-awal memasuki perkuliahan.

 

“Mak, kan kulo sampun medamel, jangan kirimi uang lagi. Uangnya disimpan saja untuk Emak.” Katanya pada Emaknya yang sedang memasak sayur labu untuk Taufiq siang itu. Emak tersenyum.

 

“Berapa sih gajimu? Kok sudah tidak butuh Emak?” Emak menggoda Taufiq.

 

Mboten Mak, bukan tidak butuh Emak. Tapi Taufiq hidupnya sudah cukup disokong Emak selama kuliah di Malang. Alhamdulillah kalau untuk kos dan makan cukup lah Mak. Doakan ya Mak.”

 

“Iya, Emak selalu berdoa. Mudah-mudahan anak Emak yang satu ini sukses!” Seru Emak bahagia mendengar penuturan Taufiq yang katanya sudah memiliki pekerjaan di kota orang. Taufiq tersenyum. Meskipun jadi guru honorer di beberapa sekolah, ia tidak berkecil hati. Justru nilai keberkahan dari apa yang selama ini dijalaninya inilah yang dicarinya. Bukan melulu soal materi. Melihat Emak dan Bapaknya sehat-sehat saja Taufiq sudah sangat bersyukur. Begitu juga dengan kehidupannya yang tidak kurang suatu apa meskipun jauh dari Emaknya.

 

“Ada apa tumben kamu pulang?”

 

“Memangnya ndak boleh ya kangen sama Emak sendiri?” Taufiq menyunggingkan senyum pada Emaknya yang sedang mengambilkannya sepiring nasi panas. Emak tersenyum, menangkap gelagat anak lelaki yang disayanginya itu.

 

“Ya tumben saja. Emak tahu lah. Siapa wanita yang kamu sukai itu?” Emak langsung pada pokok permasalahan yang selama ini mengganggu Taufiq.

 

“Wanita mana Mak?” Taufiq pura-pura tak mengerti.

 

“Ya wanita yang pengen kamu lamar.”

 

“Belum Mak, doakan Taufiq punya modal dulu lah biar bisa ngelamar anak orang.” Kata Taufiq sambil terkekeh geli karena Emaknya sudah tahu mengapa ia pulang.

 

“Saya ingin mendengar nasihat dari Emak.” Taufiq menambahkan. Ia memang pulang karena ingin mendengar langsung nasihat dari Taufiq. Emak tersenyum dan duduk di depan Taufiq. Emak mulai membicarakan masa lalunya dengan Bapak yang indah. Semua berawal dari doa dan restu orang tua. Dalam pernikahan, restu orang tua bukan jadi nomor dua atau tiga, tapi nomor satu. Jangan sampai menyakiti hati orang tua jika ingin hidup kita bahagia dunia akhirat. Emak juga berpesan carilah wanita yang baik agamanya, cantik parasnya, adapun hal lain tentang keturunan dan hartanya adalah nomor sekian yang bisa diciptakan bersama. Emak memberi tahu pada Taufiq bahwa Emak akan selalu mendukung Taufiq sepanjang itu dalam kebaikan. Begitu juga soal perempuan pilihan Taufiq. Emak percaya Taufiq punya pilihan dan selera yang bagus. Emak dan Bapak hanya akan mendoakan dari jauh agar Allah memberikan takdir baik bagi Taufiq.

 

Taufiq pun kembali ke Malang dengan hati lapang dan tenang. Emak benar-benar memberikan suntikan semangat untuknya. Semangat agar bekerja lebih keras lagi. Semangat untuk segera melamar Sri. Satu-satunya wanita yang mengusik hidupnya selama satu tahun belakangan ini. Ia pun berkonsultasi dengan gurunya perihal keinginannya untuk melamar Sri. Nampaknya semesta pun mendukung apa yang ia usahakan.

 

Setelah satu bulan Sri tidak lagi mengajar di sekolah itu karena Bu Ni’mah sudah kembali, Taufiq memberanikan dirinya untuk datang ke rumah wanita itu sendirian. Maka duduklah ia disini, di ruang tamu rumah gedongan yang membuat dirinya pertama kali tak bisa merasakan kakinya berpijak di atas tanah.

 

“Apa Sri sudah tahu?” Seorang pria paruh baya berkacamata dan berprofesi sebagai mantri itu menanyakan pada Taufiq perihal maksud kedatangannya ke rumahnya malam itu.

 

“Belum Pak,” jawab Taufiq santun pada pria yang kelak ia panggil Bapak itu.

 

“Kalau begitu biar Sri tahu dulu.” Jawab beliau singkat sambil mengisap dalam-dalam cerutunya. Taufiq mengangguk setuju meskipun ia sendiri belum yakin apakah lamarannya ini akan diterima atau ditolak oleh Sri dan keluarganya.

 

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny

Part 17 : Sang Dewi bernama Sri