Part Sebelumnya : Dua Puluh Lima Rupiah

 

Part 12

“An In Un, Ban Bin Bun.”

 

“An In Un, Ban Bin Bun.” Bocah lelaki itu menirukan apa yang dibunyikan Taufiq.

 

“Nah, kita lanjut ke halaman berikutnya ya.” Taufiq kemudian hendak membalik lembar Iqra’ yang dipegangnya. Namun anak itu mencegah tangannya untuk membalik halaman tersebut. Taufiq menoleh dan mengernyit. Seolah bertanya pada bocah itu melalui matanya, kenapa?

 

“Aku mau di halaman ini saja Mas ngajinya.”

 

“Lho kenapa?”

 

“Ya aku suka ini saja. Yuk An In Un, Ban Bin Bun!” Bocah itu terus membunyikan bacaan yang tadi dicontohkan Taufiq sambil menggerakkan badannya ke kanan dan kiri. Seperti mendendangkan lagu dangdut kesukaan Babanya. Taufiq tersenyum.

 

Harus sabar. Tidak boleh marah. Begitu batin Taufiq menghadapi tingkah anak didik pertamanya itu. Ia pun mengalah dan menuruti permintaan bocah itu. Setiap mengaji ia memang hampir tidak pernah fokus pada apa saja yang diajarkan Taufiq. Ada saja tingkahnya untuk menghindari kegiatan mengaji setiap sore itu. Entah itu mengajak Taufiq menikmati terang bulan coklat kacang yang enak lah, makan nasi kebuli, atau bahkan mengajak Taufiq bermain badminton di halaman rumah. Semuanya dituruti oleh Taufiq, demi si bocah agar mau mengaji meskipun hanya sepuluh hingga lima belas menit dalam sehari.

 

Taufiq pun mendapatkan berkah dari tiap ayat Quran yang diajarkannya. Setiap Senin hingga Sabtu hampir tidak pernah lagi ia merasakan kelaparan. Di rumah bocah itu, sang pembantu rumah tangga selalu menyediakan makanan untuk Taufiq. Baru kali ini Taufiq merasakan empuknya daging sapi yang disajikan dengan kuah soto. Sudah lama sekali ia tak merasakan gurih dan lezatnya daging sapi. Kadang ia juga diberi buah tangan oleh sang bocah berupa kue-kue yang bisa dinikmati Taufiq bersama dengan teman sekamarnya di kos. Berkah melimpah, Taufiq pun bernafas lebih lega dibanding sebelumnya. Uang hasil mengajari anak mengaji ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membayar uang SPP semester depan. Meskipun ia tahu itu belum cukup, Taufiq pun segera memikirkan rencana berikutnya.

 

Kuliah semester ini memang agak longgar. Ia pun berinisiatif untuk melamar sebagai guru ekstrakulikuler Pramuka di sebuah sekolah swasta. Taufiq banyak bergaul dengan teman-teman organisasi yang ia ikuti. Tentu saja teman-temannya itu berusia lebih tua dibanding Taufiq. Justru disitulah Taufiq menyukainya, karena ia bisa belajar dan berbagi pengalaman dengan para seniornya. Termasuk untuk info lowongan pekerjaan paruh waktu seperti ini. Tanpa pikir panjang, Taufiq pun mengiyakan untuk bisa bergabung dengan tim Pembina Pramuka di sebuah sekolah swasta. Apalagi Taufiq tidak perlu datang tiap hari. Ia cukup datang dua kali dalam seminggu, yaitu hari Jumat dan Sabtu.

 

Jadwal mengaji bersama anak Baba pun ia geser hanya untuk hari Jumatnya saja. Semula di jam sore digeser ke jam malam, sehingga ia bisa menjalankan kedua pekerjaan tersebut tanpa khawatir salah satunya akan terbengkalai. Taufiq menjalani hari-harinya penuh dengan kesibukan. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan apalagi berleha-leha kecuali di hari Minggu. Ia bisa sedikit lega karena Minggu ia bisa mencuci baju dan membersihkan kamar yang ia tempati selama kuliah disini. Selain kerja paruh waktu, Taufiq masih juga ikut berorganisasi dan tampil sebagai pemuda yang cemerlang.

 

Ia punya filosofi hidup yang selama ini ia pelajari dengan mengamati orang-orang di sekitarnya. Ia menyebutnya filosofi China. Dimana salah satunya mengatakan bahwa dalam hidup ini lebih baik menjadi kepala ayam daripada ekor sapi. Meskipun ekor sapi itu mahal untuk dibuat sop buntut, namun menjadi kepala ayam lebih baik. Karena kepala ayam ini diibaratkan sebagai pemimpin. Pemimpin perusahaan, pabrik atau pemimpin negara. Menjadi pemimpin tentu lebih berat dibandingkan kita hanya berpangku tangan dan menjadi ekor dari sebuah organisasi. Taufiq selalu tampil menjadi seorang pemuda yang cerdas dan kritis dalam berpikir. Karena ia memang tak mau menjadi ekor. Sama seperti orang China, dimana pun ia berada ia sebaiknya ia harus menjadi pemimpin atau pemilik. Oleh karena itu jarang kita temui etnik China di Indonesia yang menjadi buruh atau ekor dari sebuah sistem. Kebanyakan dari mereka adalah pemilik toko kelontong, pemilik perusahaan, dan lain sebagainya. Intinya jadilah pemimpin, jangan cukup senang hanya sebagai ekor.

 

Sehingga di usianya yang masih belia ia sudah menjadi Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Klojen sekaligus menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah di daerah tempat tinggalnya. Memasuki semester dua, ia pun tak meminta pada Emak uang sepeser pun. Ia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar ngaji dan ekstrakulikuler di sekolah. Tak berhenti disitu, Taufiq bahkan mencoba untuk menawarkan tenaganya untuk menjadi tenaga pengajar milik yayasan Nurul Huda. Kadang ia dibayar, kadang tidak. Tak lupa juga dengan nasihat Bapak, Emak dan Guru Ngajinya. Tidak akan pernah ia tinggalkan solat malam dan mengaji kecuali jika sedang sakit dan terpaksa tidak bisa bangun. Semua demi kemenangan hakiki yang diyakini Taufiq kelak akan dipetik manisnya suatu saat nanti.

 

Taufiq menghabiskan masa mudanya dengan sangat disiplin soal waktu. Ia tak memperbolehkan dirinya sendiri untuk bersantai-santai dan berleha-leha. Hampir tidak pernah ia berdiam diri di kos meskipun uang kos belum dibayar. Ia bekerja keras sepulang kuliah hingga malam hari demi bisa membayar uang semester berikutnya dan biaya hidup sehari-hari yang dibutuhkannya. Suatu ketika Emak nekat menjenguknya dan memberikannya uang hasil dari berjualan kue di pasar.

 

“Emak sudah punya bedak bagus di pasar. Emak bisa bernapas lega karena bisa memberimu sedikit untuk tambahan kuliah.” Begitu kata Emak saat menjenguk Taufiq di kamar kosnya yang sempit. Taufiq menerima uang itu dan menjaganya baik-baik untuk dibayarkan pada semester berikutnya. Ia tak akan pernah lupa bagaimana perjuangan Emak dan saudara-saudaranya di kampung untuk dirinya. Satu-satunya harapan Emak untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitarnya.

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah