Part sebelumnya : Semester Pertama

Part 11

 

“Fiq, pinjem dikit-dikit aja 25 rupiah. Buat tambahan beli minyak,” ujar Ibu kos pada Taufiq yang sedang mencuci bajunya di sumur. Taufiq mengernyitkan dahinya. Menimbang-nimbang cukup lama. Karena sesungguhnya dirinya sendiri pun tidak punya uang. Hanya tersisa seratus rupiah di sakunya.

 

“Besok Ibu kembalikan, besok Ibu dapat uang.” Ibu kos mulai merajuk.

 

Pasti beliau sangat butuh sekali. Batin Taufiq. Ia pun tersenyum.

 

Nggih Bu, meniko kulo paringi 25. Ndak usah dikembalikan lagi.” Taufiq berkeyakinan bahwa apa pun yang ia miliki saat ini, bukan haknya seluruhnya. Ada hak orang-orang yang lebih membutuhkan beberapa persen darinya. Ia pun memberikan 25 rupiah miliknya untuk Ibu Kos yang jelas sekali memang sangat membutuhkannya hari ini.

 

Suwun ya Fiq. Ambil nasi di meja makan sana kalau mau makan.” Kata Ibu Kos kemudian sambil berlalu segera. Taufiq mengiyakan.

 

Bagaimana besok? Ah, Allah sudah menjamin rizki tiap hambaNya kok. Taufiq sekali lagi menguatkan batinnya yang juga ragu, akan makan apa ia besok dan hari-hari berikutnya. Panggilan pekerjaan pun juga tak kunjung ada. Ia pasrah sembari terus berdoa agar Allah menolong dirinya. Menyelamatkan harga dirinya dari meminta-minta.

 

Siang itu ia makan nasi dan abon pemberian teman kosnya di kamar sebelah. Abon ayam yang ia makan dengan sangat lahap. Nasi yang lebih banyak dari biasanya. Karena bisa jadi besok ia harus menghemat uangnya lagi, makan cukup satu kali satu hari. Atau puasa sekalian hingga ia berhasil mendapatkan pekerjaan. Taufiq sudah terbiasa dengan kehidupan serba kekurangan seperti ini. Tak pernah sekali pun ia mengadu pada Emak atau Bapak atas kekurangan yang ia alami. Ia sanggup memikul bebannya sendiri. Bapak sudah mengajarkan bagaimana laki-laki harus berdiri di atas kakinya sendiri. Bagaimana lelaki harus bekerja keras demi kehormatan dan harga dirinya. Jangan sampai anak dan keluarganya meminta-minta. Bekerja keras apa pun itu yang penting halal.

 

“Fiq, itu Ustadz Yasir yang Arab itu ingin anaknya diajari mengaji. Kau bisa kan?” tanya teman sekamarnya, membuyarkan lamunan Taufiq. Masya Allah, Allahu Akbar. Maha Besar Allah yang seketika itu juga menjawab kegundahan Taufiq.

 

“Bisa insyaAllah, dimana rumahnya?” Tanya Taufiq kemudian sambil membereskan piring sisa makannya.

 

“Dekat sini saja, jalan kaki sepuluh menit. Besok kuantar.” Mukhlis, teman sekamar Taufiq kemudian menepuk pundaknya.

 

Suwun ya, tahu saja aku sangat membutuhkan pekerjaan itu.”

 

“Iya, bisa jadi tambahan untuk uang kuliah semester depan.” Mukhlis tersenyum melihat polah temannya yang sederhana itu. Taufiq mengangguk dan tersenyum lega. Besok agaknya ia bisa makan lebih bergizi. Tempe mungkin?

 

 

Keesokan harinya, diantar Mukhlis ia masuk ke dalam rumah mewah milik orang Arab yang diceritakan teman sekamarnya itu sebelumnya. Pagar rumah dari besi tinggi menjulang. Memisahkan jalan raya dan rumah megahnya yang berdinding marmer. Zaman itu sangat jarang rumah dengan pagar besi dan dinding marmer kalau bukan konglomerat kaya raya. Begitu memasuki halaman rumahnya, dinginnya udara dari dalam rumah sudah terasa. Entah karena euforia Taufiq sendiri atau memang kenyataannya memang begitu, udara memang dingin.

 

Taufiq dan Mukhlis disambut oleh seorang bocah kecil bertubuh tambun. Pipinya seperti bakpao merah yang siap disantap kapan saja. Bocah lelaki itu kemudian lari begitu melihat Taufiq dan Mukhlis sambil memanggil-manggil, “baba! Baba!” Serunya. Yang dipanggil Baba tidak lama kemudian muncul dari dalam rumah dan mempersilakan Taufiq dan Mukhlis masuk ke dalam rumah. Mereka berdua disambut dengan sangat hangat. Membuat keduanya betah. Tak lupa kudapan berupa kue dan teh hangat yang sudah jarang mereka nikmati dengan alasan penghematan. Lelaki Arab paruh baya yang dipanggil Baba itu menginginkan Taufiq untuk mengajari anaknya setiap Senin hingga Sabtu. Waktunya menyesuaikan Taufiq, kapan saja ia bisa. Kedua pihak menyetujui, Taufiq juga senang bisa mengajari bocah lelaki itu mengaji. Sudah lama ia tak mengajar mengaji sejak meninggalkan kampungnya.

Mulai besok, Taufiq sudah bisa mulai mengajari bocah lelaki itu untuk mengaji. Keduanya setuju, bocah lelaki itu pun juga tampak senang dengan Taufiq.

 

Bersambung >>

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama