Part sebelumnya : Sweet Destiny

 

PART 17

 

Sri Herawati adalah seorang gadis yang dilahirkan di Kota Pendidikan, Malang. Sejak kecil ia dididik dengan keras oleh ayahnya yang seorang mantri terkenal di kampung kala itu. Memiliki Ibu dengan paras ayu. Mungkin dari Ibunyalah Sri memiliki paras cantik hingga banyak lelaki yang menyukainya. Meskipun teman laki-lakinya banyak, Sri selalu menjaga dirinya. Begitu juga dengan teman-temannya, merasa harus menjaga temannya yang berharga itu. Sejak kecil ia juga belajar mengaji bersama teman-temannya di musholla, termasuk belajar Qiroah pada seorang guru yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Sri. Oleh karena itulah ia bisa menguasai beberapa lagu Qiroah yang sering ia ikuti di perlombaan mana pun.

 

Sri sendiri juga aktif dalam berbagai aktivitas sosial, baik di kampus maupun di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu mudah baginya jika harus mengajar tanpa upah sedikit pun di sekolah yang sangat membutuhkannya itu. Maka ketika ditawari oleh Kepala Sekolah ia langsung saja menyanggupinya. Hitung-hitung ia juga ingin menambah pengalamannya mengajar sebelum terjun langsung nanti melalui Praktik Lapangan. Lalu disinilah ia, menyempatkan waktunya di sela-sela perkuliahannya dan menjadi guru pengganti bagi anak-anak MTs Nurul Huda.

 

Satu hal yang mengganjal bagi Sri, ketika ia bersikap ramah pada siapa pun, hanya satu orang yang tidak menyambut baik kedatangannya. Bahkan ia terkesan sangat cuek dan tidak mau tahu siapa guru pengganti Bu Ni’mah. Lelaki itu dikenal dengan sebutan Taufiq, katanya. Sri bertanya pada guru-guru perempuan saat ia sudah mulai akrab dengan mereka karena sudah kurang dua minggu Sri bergabung. Kata guru-guru disana, memang begitulah Taufiq. Ia akan berbicara seperlunya saja pada tiap perempuan. Bahkan cenderung menghindari mereka. Guru-guru yang ada di sekolah itu pun sudah mafhum dan tidak mempermasalahkan itu. Namun bagi Sri, itu adalah masalah. Karena tidak ada satu pun lelaki yang tidak menyambut baik dirinya, gumam Sri pada dirinya sendiri.

 

Sri pun penasaran, mengapa lelaki itu bersikap demikian. Hari demi hari dilalui Sri untuk melihat bagaimana sebenarnya kebiasaan dan sikap Taufiq di sekolah. Nihil, apa yang ia lihat pertama kali saat bertemu Taufiq, begitu pula yang ia lihat seterusnya selama ia di sekolah ini.

 

“Bukan Sri namanya kalau ia tak bisa takluk padaku,” ujar Sri pada dirinya sendiri. Ia bertekad akan membuat Taufiq memberi perhatian padanya. Maka mulai siang itu, Sri sengaja menyapa Taufiq dengan suara yang lebih keras dibanding sebelumnya. Taufiq kaget dan salah tingkah karena beberapa guru juga ikut melihat ke arahnya. Ia kemudian tersenyum dan membalas sapaan Sri dengan canggung.

 

Guru-guru lain ikut tersenyum melihat tingkah Sri yang membuat Taufiq salah tingkah. Sri hanya cengengesan dan berlalu pergi meninggalkan Taufiq yang masih terpaku di tempatnya. Kaget karena Sri menyapa dan memanggil namanya begitu keras. Anehnya, Taufiq bukannya marah karena sengaja digoda. Dalam hatinya ia justru tersenyum bahagia. Betapa tidak? Wanita yang ia kagumi selama ini ternyata juga memperhatikannya.

 

“Ehem ehem!” Bu Yuni, salah satu guru muda ikut menggoda Taufiq yang masih terpaku dan belum juga beranjak menuju tempat duduknya.

 

Sadar akan hal itu, Taufiq pun segera menuju tempat duduk dan tidak menghiraukan guru-guru lain yang saling berpandangan dan membuat kasak-kusuk di belakangnya. Taufiq kembali fokus pada pekerjaannya. Meskipun sebenarnya hatinya juga tak karuan. Kalau ia mengangkat wajahnya, mungkin orang-orang juga akan tahu bahwa ia menyukai Sri. Karena meronanya wajah milik Taufiq itu tidak akan bisa ia sembunyikan di hadapan guru-guru lain.

 

Keesokan harinya, Sri melakukan hal yang sama di hadapan guru-guru. Membuat seisi ruang guru heboh karena ulah Sri yang sengaja membuat Taufiq malu. Bahkan ia mulai memberikan perhatian-perhatian kecil seperti mengambilkan segelas teh hangat untuk Taufiq atau hal sederhana lainnya. Guru-guru pun senang dan mendukung Sri. Akhirnya Taufiq mengeluarkan warna wajah dari dalam dirinya. Semula hanya datar-datar saja, jarang tersenyum, kini Taufiq jadi sering tersenyum karena Sri.

 

Suatu ketika saat guru-guru diminta untuk foto bersama, Taufiq mendekati Sri sehingga posisi mereka saat diambil gambar bersebelahan. Sedangkan guru-guru lain iseng membawa bunga dan diletakkan di atas kepala Sri dan Taufiq tanpa sepengetahuan mereka. Saat foto selesai dicetaklah Sri dan Taufiq baru tahu bahwa yang cekikikan saat sesi foto kemarin ternyata sedang memasang bunga di atas kepala mereka berdua. Sri jadi salah tingkah, karena guru-guru ternyata menganggap Sri menyukai Taufiq sungguhan. Padahal, ia hanya iseng agar Taufiq tidak lagi bersikap kaku seperti kanebo kering.

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny