Part 22

 

Kelahiran anak pertama bagi Taufiq dan istrinya bukanlah hal yang mudah. Baginya yang belum mendapat pengalaman apa pun, kelahiran pertama adalah sebuah momen yang sangat ia syukuri sekaligus ia khawatirkan. Sri melahirkan di sebuah rumah bidan dekat dengan tempat tinggal mereka yang masih satu atap dengan Mbah Sabar. Sri melahirkan anak pertamanya dengan Taufiq pada tanggal 21 Januari 1985, satu tahun setelah Taufiq dan Sri menikah. Beberapa tahun setelah Taufiq diangkat menjadi Kepala Sekolah MTs Nurul Huda. Tempat ia mengabdikan dirinya selama ini. Orang-orang yayasan sekaligus guru-guru disana menganggap Taufiq lah yang pantas untuk memimpin sekolah itu agar lebih maju dan berkembang. Salah satu rezeki tak terduga setelah Taufiq menikah.

 

Bayi lelaki yang lahir itu dinamai Ahmad Shobrun Jamil. Taufiq berharap kelak ia akan menjadi anak yang baik rupa dan akhlaqnya serta selalu bersabar. Anak pertama disambut dengan sangat baik oleh seluruh keluarga besar. Maklum, anak pertama, cucu pertama sekaligus keponakan pertama. Bayi itu kemudian dipanggil Jamil. Bayi yang sangat disayangi oleh kedua orangtuanya, nenek dan kakeknya serta Mbah Buyutnya.

 

Taufiq selalu menemani Sri sebelum dan bahkan setelah melahirkan. Mencuci popok sang bayi usai pulang kerja, memberikan gizi terbaik untuk makanan sang istri yang sedang menyusui, bahkan ikut serta menggendong Jamil kecil tiga bulan pertama saat waktu tidur sang bayi belum menyesuaikan orang tuanya. Betapa bersyukurnya Sri mendapatkan suami yang bertanggung jawab dan mau menyentuh pekerjaan rumah. Teladan yang Taufiq tunjukkan ini semakin membuat Sri, Bapak dan ibu serta Neneknya makin menyayangi Taufiq. Tahun ini mereka memang masih menumpang di rumah orang tua. Taufiq sebenarnya bisa membangun rumahnya sendiri, tapi karena harus dengan cara berhutang, maka ia pun menghindarinya.

 

Suatu ketika saat Sri sedang menangis karena tekanan dari Bapak perihal kehidupan yang layak seperti rumah dan kendaraan, Taufiq hanya diam menenangkan. Ia tidak marah, tidak juga bertindak emosional. Ia menenangkan istrinya terlebih dahulu, memberikan pelukan, dan menasihatinya dengan lembut bahwa ia sedang bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka bersama.

 

“Namun Allah menyuruh kita bersabar Buk, menyuruh kita untuk bersyukur untuk saat ini. Yuk kita sering-sering mengetuk pintu langit, agar Allah segera memberikan solusi pada kita,” kata Taufiq sambil mengelus punggung istrinya yang sedang menyusui sambil menangis itu. Sri mengangguk. Membenarkan nasihat suaminya yang tulus itu. Ia sadar, pilihannya ini tidak boleh ia sesali. Hal terbaik dari seorang lelaki yang jarang dijumpai oleh Sri adalah sikap sabar dan bertanggung jawab terhadap keluarganya inilah yang patut Sri syukuri. Meskipun masih banyak kekurangannya, namun bukankah Sri juga jauh lebih punya banyak kekurangan yang Taufiq sudah maklumi?

 

“Iya Yah…” Jawab Sri, memanggil Taufiq kini dengan sebutan Ayah. Hatinya pun tenang kembali.

 

“Oh iya, minggu depan kita ke Sooko ya, jengukin Bapak. Kata Emak Bapak sakit.” Ujar Taufiq sambil mengalihkan perhatian Sri pada hal lain.

 

“Bapak sakit? Kenapa ndak besok saja?”

 

“Kan aku kerja. Sakit linu biasa katanya. Ndak apa-apa minggu depan pas hari Sabtu. Pas Jamil umur sebulan, bisa dibawa kan?” Kata Taufiq menenangkan Sri yang sudah berubah air wajahnya mendengar Bapak di Mojokerto sakit.

 

“Iya bisa.”

 

“Kita sekalian jalan-jalan. Sudah lama ngga keluar juga kan.” Taufiq menambahkan. Sri tersenyum. Benar juga, sudah dua bulan lebih dia tidak keluar berdua dengan Taufiq, untuk jalan-jalan. Kesibukannya pasca melahirkan betul-betul tidak bisa diganggu gugat. Menurutnya, tidak salah jika waktu cuti kali ini dimanfaatkan untuk ke rumah mertuanya.

 

Sri menikah setelah ia selesai Praktik Lapangan di sebuah SMA Negeri di Kota Malang. Sambil PPL, ia juga ikut diperbantukan menjadi guru di MTs Nurul Huda, sekolah yang sama dengan Taufiq. Kini, setelah anak pertamanya lahir, ia segera ingin menyelesaikan tugas akhirnya agar segera bisa wisuda dan bekerja untuk membantu Taufiq memenuhi kebutuhan hidupnya dan adik-adiknya.

 

Sri adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Sementara adik-adiknya menjaga warung klontong di pinggir jalan raya untuk memenuhi kebutuhan sekolah, Sri lah yang ikut membantu Ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di keluarga besarnya ini. Makan untuk empat belas orang dalam satu rumah, sudah menjadi pemandangan yang biasa. Adik-adiknya pun tak pernah mengeluh. Gaji Bapaknya sebagai mantri sebagian dipergunakan untuk investasi rumah, sedangkan biaya makan dan lainnya Sri dan ibu kandungnya lah yang menanggung. Mau tidak mau, Taufiq pun ikut terlibat untuk menghidupi adik-adik iparnya juga. Namun itu semua dilakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Taufiq sudah biasa makan sederhana, lauk ikan teri sekali pun. Sehingga tak sengaja terbebani dengan adik-adik iparnya yang harus dibantu ini pun bukan menjadi masalah besar baginya. Taufiq yakin ada Allah yang selalu memberikan rizki dari arah yang tidak ia sangka. Jika dihitung secara matematis, akalnya tak akan mampu memikirkan beban hidupnya selama ini.

 

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny

Part 17 : Sang Dewi bernama Sri

Part 18 : Mengungkap Rasa

Part 19 : Jawaban Istikharah

Part 20 : Pendamping Harapan

Part 21 : Keluarga Baru