Sweet Destiny

Part sebelumnya : Wanita Berkerudung Putih

Part 16

 

“Apa kemarin ada yang kemari untuk menggantikan Bu Ni’mah Pak?” Tanya Taufiq pagi-pagi begitu ingat bahwa ia belum memberitahukan pada Kepala Sekolah tentang guru pengganti yang ia bicarakan bersama temannya kemarin.

 

“Tidak, belum ada. Apa sudah nemu Dek?” Pak Kepala Sekolah langsung menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Taufiq.

 

“Iya Pak, kemarin melalui teman saya yang masih satu organisasi bilang kalau ada relawan yang mungkin bisa membantu kita. Tapi belum kesini ya?”

 

“Iya belum, dimana rumahnya? Apa kita datangi saja?” Ujar Pak Kepala Sekolah nampak tak sabar. Karena memang sekolah sedang sangat membutuhkan guru pengganti secepatnya. Taufiq menimbang-nimbang.

 

“Begini saja Pak, kita tunggu sampai besok. Kalau masih belum ada kabar mungkin kita bisa datangi rumahnya.” Taufiq mengusulkan jalan tengah agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Pak Kepala Sekolah pun mengangguk, tanda ia menyetujui saran Taufiq.

 

Maka hingga keesokan harinya, tak ada satu pun orang yang datang untuk bersedia menggantikan Bu Ni’mah mengajar. Pelajaran yang diampu Bu Ni’mah otomatis dibagi ke guru-guru lain agar para murid tidak menunggu terlalu lama kehadiran guru penggantinya. Termasuk Taufiq yang kebagian tambahan jam mengajar di sekolah, otomatis ia lebih lama menghabiskan waktunya di sekolah beberapa minggu ini. Karena tidak ada satu pun yang datang, Taufiq dan Kepala Sekolah pun memutuskan untuk menanyakan kediaman relawan yang dimaksud.

 

Gayung pun bersambut, Kepala Sekolah mendatangi kediaman relawan tersebut tanpa Taufiq. Karena ia harus membina Pramuka di beberapa sekolah hingga malam tiba. Karena kekuasaan Allah yang menggerakkan hati itulah, relawan yang diceritakan teman Taufiq akhirnya bersedia untuk mengabdikan dirinya di MTs Nurul Huda. Berapa pun bayarannya. Bahkan ia mengatakan senang bisa bergabung di sekolah tersebut,

“itung-itung nambah pengalaman Pak,” ujarnya malam itu. Kepala Sekolah pun bernapas lega. Akhirnya ia bisa mendapatkan guru pengganti sementara selama Bu Ni’mah cuti hamil dan melahirkan. Bahkan sang pengganti pun lebih muda, ide-idenya lebih fresh dan lebih lincah dalam memberikan inovasi mengajar di sekolah nantinya. Paling tidak, itulah yang dinilai oleh Kepala Sekolah.

 

Maturnuwun ya Mbak. Apakah besok bisa ke sekolah? Nanti kita mulai susun jadwalnya agar yang lain bisa menyesuaikan dengan jam belajar Mbak di kampus.” Ucap Pak Kepala Sekolah penuh rasa terimakasih.

 

“Iya Pak, Insya Allah. Saya usahakan besok siang ke sekolah.”

 

Pak Kepala Sekolah pun pergi dengan hati lapang, senang karena satu beban masalah sudah terselesaikan.

 

“Assalamualaikum,” suara seorang wanita menyapa Taufiq saat dirinya sibuk menyiram bunga di taman sekolah.

 

“Waalaikumsalam warahmatullah,” Taufiq menjawab tanpa melihat wajah sang penyapa. Memang begitulah dirinya, cenderung tertutup pada setiap perempuan yang dihadapinya. Bukan hanya pendiam, tapi juga ia sangat menjaga pergaulannya. Namun ketika ia menatap sekilas wajah sang penyapa, betapa terkejutnya Taufiq bahwa wanita itu adalah wanita berkerudung putih yang ia kagumi beberapa hari yang lalu di sebuah aula universitas. Sang penyapa mengernyitkan dahinya melihat Taufiq yang tampak terbengong-bengong tanpa alasan.

 

“Saya guru pengganti Bu Ni’mah.” Ucap wanita itu memperkenalkan diri mengatasi kecanggungan yang terjadi diantara mereka.

 

“Oh iya, monggo,” jawab Taufiq singkat. Kemudian ia memberikan sinyal untuk segera undur diri dari hadapan wanita itu. Menutupi jantungnya yang berdegup kencang. Menghalangi segala keinginannya untuk mengenal wanita itu lebih jauh. Mengurungkan niatnya untuk menyambut hangat wanita bersuara indah itu.

 

Ya Allah betapa indah takdirmu, batin Taufiq.

 

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

1 comment

    • Uswatul Hamidah on October 14, 2019 at 8:51 pm

    Reply

    Hmmm tambah asyiiik nih ceritanya Taufiq

Leave a Reply