Nikmat dan Ujian

Part 23

 

Akhir pekan ini Sri dan Taufiq pergi untuk kesekian kalinya ke Mojokerto setelah menikah. Tahun pertama menikah masih sering menengok saudara-saudara disana dan Bapak yang sedang sakit. Keadaan rumah Taufiq sudah jauh lebih baik. Jika dulu hanya berupa rumah bambu, kini rumah itu sudah terbuat dari semen yang melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Rumah yang layak di zaman yang serba modern saat ini. Penghuninya ada Emak, Bapak, serta dua orang adik Taufiq yang masih tinggal disana. Sri yang terbiasa hidup di rumah yang tergolong mewah zaman itu, tidak mengeluh ketika harus tidur beralas kasur yang sudah keras dan lapuk di rumah mertuanya. Sri dapat beradaptasi dengan cepat.

 

Tahun kedua mungkin hanya dua atau tiga kali Sri dan Taufiq pergi ke Mojokerto karena kondisinya yang tengah hamil anak kedua. Jamil kecil sudah berusia satu tahun setengah dan sangat senang ketika diajak untuk menemui Mbahnya di Mojokerto. Karir Taufiq di Kota Malang pun semakin bagus. Sri selalu mengingat sambutan yang sangat baik oleh mertuanya, bahkan terkesan dimanjakan. Emak sengaja memotong ayam peliharaan Bapak karena tahu Sri sangat suka ayam goreng. Salah satu kesukaan Sri memang ayam goreng, disamping menu yang lain seperti opor ayam, kare ayam, semua masakan berbahan dasar ayam ia suka.

 

Ketika anak kedua lahir, Taufiq pun menemani istrinya dengan setia. Anak keduanya diberi nama Mujahidin Ahmad. Berharap anaknya ini kelak akan menjadi pejuang agama Allah yang tangguh. Wajahnya secara genetis lebih mirip ayahnya dibanding Ibunya. Kalau Jamil mirip dengan sang Ibu, sedangkan Didin (begitu panggilannya) lebih mirip dengan Kakeknya dari Mojokerto. Semua menyambut cucu kedua dengan bersuka cita, termasuk Ibu Bapak di Malang dan juga Mbah Sabar serta istrinya.

 

Keduanya sangat dimanjakan. Bahkan jika ada anak tetangga yang mengganggu cucu mereka, tidak segan Bapak akan memberi pelajaran pada si pengganggu. Jamil dan Didin dididik dengan tegas oleh Ayahnya. Setiap Subuh mereka selalu dibiasakan untuk bangun dan ikut Ayahnya salat di masjid. Begitu juga dengan salat Maghrib ketika Ayahnya sudah berada di rumah. Mental mereka berdua terbentuk dengan tangguh dan penuh nuansa religi yang kental. Ibunya juga selalu mengajari mereka mengaji sejak kecil setiap usai Maghrib.

 

Meskipun hidup sederhana, Taufiq selalu mengusahakan agar anak-anaknya bisa makan bergizi. Tidak seperti masa kecilnya yang hanya bisa menikmati nasi dan sayur tanpa ikan karena tak punya uang. Ketika Sri harus membagi telur untuk anak dan adik-adiknya  pun, Taufiq tak pernah mengeluh. Bahkan Taufiq akan segera membelikan lauk yang bergizi jika di dapur sedang tidak ada lauk pauk seperti ikan atau telur. Oleh karena itu Mbah Sabar semakin menyayangi Taufiq. Bahkan ia berwasiat bahwa rumah miliknya ini setengahnya untuk Sri dan Taufiq. Padahal Taufiq bukan cucu kandungnya.

 

Tahun 1989 Sri mengandung anak ketiganya. Berjarak empat tahun dari lahirnya Didin, anak kedua. Kali ini Sri mengandung anak perempuan yang dinantikan Taufiq. Satu kali pun Taufiq tak pernah absen mengantar isinya memeriksakan kandungan hingga hari persalinan pun tiba. Awal tahun 1990 lahirlah anak perempuan yang dinanti dan diberi nama Jihan Mawaddah. Jihan diambil dari nama seorang istri aktivis di Mesir yang saat itu terkenal dengan nama Jihan Syadat. Harapannya, anak perempuan ini akan menjadi seorang wanita pejuang seperti Jihan Syadat dan penuh kasih sayang.

 

Masa-masa paling membahagiakan saat itu ditambah lagi dengan kabar diterimanya Sri dan Taufiq sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sungguh suatu nikmat dari Allah yang menurunkan rizkiNya bagi Taufiq dan keluarga. Seolah nikmat itu tak akan pernah habis karena kebahagiaan keluarga Taufiq menjadi lengkap. Saat itu gaji PNS tidak sebanyak saat ini. Dulu bekerja sebagai seorang pedagang lebih menjanjikan dibanding PNS. Namun Taufiq percaya, satu langkah dalam hidupnya sudah maju lebih baik. Menjadi PNS juga nikmat yang patut disyukuri.

 

Tak berapa lama setelah Sri kembali beraktivitas sebagai abdi negara, suatu hari ia tak sengaja mendapati ibunya sedang kesakitan di atas kasur. Hati-hati Sri mendekati ibunya,

“Apanya Buk yang sakit? Perut? Ibuk kenapa?” Tanya Sri panik. Tak pernah ia menjumpai ibunya begitu kesakitan seperti yang dilihatnya saat ini.

“Ndak papa Nduk,” ibunya masih saja menutupi kesakitan yang dirasakan.

“Kita pergi ke puskesmas ya Buk, atau ke rumah sakit? Nanti biar Mas Taufiq yang antar.” Ujar Sri sambil membantu Ibunya yang ingin duduk. Ibunya menggeleng lemah. Namun Sri tak mengindahkannya. Ibu harus dibawa ke rumah sakit, pasti ada sesuatu yang terjadi.

 

Usai membuatkan Ibunya teh panas agar rasa sakitnya berkurang, ia segera menghubungi sekolah agar disambungkan dengan suaminya, Taufiq. Sri menceritakan kondisi ibunya, Taufiq pun meminta agar Sri tenang dan meminta bantuan adik lelakinya untuk segera membawa Ibu ke rumah sakit terdekat. Sri menurut. Ia pun memberitahu dua adik lelakinya untuk segera membawa Ibu ke rumah sakit.

 

Tak butuh waktu lama agar segera sampai di Rumah Sakit, Ibu Siti Aminah-begitu nama lengkap Ibu kandung Sri-segera diperiksa intensif oleh dokter yang berjaga di UGD. Tidak hanya diperiksa tekanan darah dan tes darah, Ibu Siti juga menjalani tes USG yang ia jalani saat itu juga. Usai pemeriksaan, Ibu masih belum dibawa ke ruangan karena harus ada yang menyelesaikan urusan administrasi. Taufiq yang datang kemudian segera menemui dokter dan menyuruh Sri untuk pulang, karena tak baik bagi bayi berlama-lama di Rumah Sakit. Sri menurut dan membiarkan Taufiq dan adiknya menjaga Ibunya.

 

Taufiq segera tahu saat dokter memberitahukan bahwa Ibu Siti Aminah ternyata terkena kanker rahim stadium III. Ia harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Provinsi untuk menjalani kemoterapi agar kanker tidak menyebar ke organ lain. Taufiq tahu ia tidak punya biaya untuk ini, maka ia membawa kembali Ibu mertuanya pulang dan mendiskusikan fakta ini bersama dengan Bapak dan yang lainnya.

 

Sesampainya di rumah, Bapak lah yang pertama kali diberitahu oleh Taufiq, baru kemudian Sri. Bapak terlihat terpukul, apalagi Sri. Zaman itu tidak banyak pengobatan yang bisa membantu kesembuhan seseorang dari kanker. Maka yang harus mereka lakukan hanyalah menjaga kondisi Ibu agar tetap sehat meskipun kadang ia kesakitan. Kemoterapi membutuhkan biaya yang sangat mahal, bahkan gajinya sebulan pun tak akan cukup. Apalagi ia masih harus menghidupi anak dan adik-adiknya.

 

Bapak pun tak mampu berkata-kata. Semua saudara dari Ibu yang tinggal di Kediri ikut berperan. Mereka mencarikan berbagai obat-obatan herbal yang dipercaya bisa menyembuhkan kanker. Obat apa saja yang mereka dapat segera diantar ke Malang untuk diminum oleh Ibu Siti Aminah.

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny

Part 17 : Sang Dewi bernama Sri

Part 18 : Mengungkap Rasa

Part 19 : Jawaban Istikharah

Part 20 : Pendamping Harapan

Part 21 : Keluarga Baru

Part 22 : Komitmen

2 comments

  1. Reply

    Yoh udah part 23?

      • jeyjingga on October 26, 2019 at 8:42 pm
      • Author

      Reply

      hehehe iyaa Bu

Leave a Reply