Meregang Jiwa

Saat itu, Taufiq dan Sri optimis Ibu akan sembuh. Bahkan beliau bisa kembali bekerja membantu Mbah di pasar seperti biasanya, tak terlihat bahwa ia sedang sakit. Sri lega karena ibunya membaik. Tak tahu bahwa sel-sel kanker masih terus menggerogoti seluruh jaringan dalam tubuh beliau. Dua tahun berlalu tanpa ada perkembangan yang berarti dari Ibu Siti Aminah, dan Sri tengah mengandung anaknya yang keempat. Ibu Siti hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ia idak lagi bisa melayani suaminya dengan baik, bahkan untuk membuat secangkir kopi sekalipun. Kian memburuknya kondisi Ibuk juga membuat Sri stres.

 

Suatu hari Sri dipanggil oleh ibunya ke kamar. Sri duduk di dekat ibunya yang sedang terbaring lemah.

 

Nduk, jaga adik-adikmu ya. Ibu nitip ke kamu, Ibu yakin kamu bisa menjadi Mbakyu yang baik bagi mereka. Ibu percaya padamu.” Kata Ibu terbata sambil memegang Sri yang tak kuasa menahan air matanya jatuh.

 

Sri mengangguk mendengar nasihat Ibunya, memeluknya dan mencium punggung tangannya. Sri tak mampu berkata apa-apa. Ia merasa bersalah tidak bisa memberikan yang terbaik bagi Ibunya saat itu. Andai ia bisa membawa Ibu untuk berobat ke luar negeri, andai ia punya uang untuk kemoterapi, mungkin Ibunya tidak akan merasakan kesakitan seperti ini. Namun takdir Allah tidak bisa diubah. Ibu Siti Aminah menghembuskan nafas terakhirnya satu hari setelah pembicaraan terakhirnya dengan anak kesayangannya, Sri. Tumpuan dan harapan hidupnya selama ini.

 

Sri terguncang dengan meninggalnya Sang Ibunda, begitu juga Taufiq. Beberapa minggu ia murung dan tak enak makan, padahal ia sedang hamil besar dan hanya menghitung hari anak keempatnya akan lahir. Masih dalam suasana berkabung, Sri berusaha memulihkan jiwa dan badannya. Anak ketiga yang lahir ternyata laki-laki. Taufiq menamai bayi itu Ahmad Mushoddaqul Azhar, semoga anak itu kelak menjadi orang yang jujur dan namanya harum seharum bunga-bunga.

 

Namun kehampaan dan kedukaan dalam hati Sri tidak dapat ditutupi, tiga bulan setelah kelahiran anak keempatnya, Sri mengeluhkan sakit di bagian perutnya. Ketika Taufiq menemaninya untuk periksa ke dokter, ternyata Sri tengah mengidap usus buntu dan harus segera dioperasi karena apendix nya sudah pecah dan memenuhi sedikit bagian ususnya.

 

Saat itu juga Sri segera dioperasi untuk menolong nyawanya. Sri memang wanita yang kuat menahan sakit. Ia tak pernah mengeluhkan kesakitan yang dialaminya itu sebelumnya. Baru-baru ini saja ketika dokter menyatakan apendixnya pecah, itulah nampaknya satu waktu yang tidak bisa Sri tahan untuk mengeluhkan rasa sakitnya. Ketika Sri masuk ke ruang operasi, dokter mengatakan pada Taufiq bahwa Sri bisa sembuh insya Allah, namun operasi yang dilakukan memang operasi besar. Sehingga resiko gagal pun tetap ada. Taufiq segera mengajukan cuti dan menunggui Sri sepanjang hari hingga operasinya selesai.

 

Anak-anak diasuh oleh asisten rumah tangga dan adik-adik Sri yang masih kuliah dan tinggal bersama di rumah induk. Taufiq berkonsentrasi menemani Sri di rumah sakit. Usai operasi selesai, Taufiq menemui Sri yang masih diletakkan di ruang perawatan intensif.

“Sri masih belum boleh minum atau makan hingga ia bisa kentut ya. Kentut adalah tanda bahwa pencernaannya sudah normal dan berfungsi dengan baik. Jangan ada yang memberinya minum atau makan kalau dia belum kentut.” Tutur dokter pada Taufiq dan beberapa perawat saat itu. Taufiq mengangguk, begitu juga perawat yang lain.

 

Taufiq mendekati Sri yang masih tidur karena pengaruh obat bius. Wajahnya begitu pucat dan kurus. Matanya cekung, hampir tidak ada cahaya disana. Taufiq membelai keningnya dan mengucapkan doa-doa keselamatan untuk istrinya itu. Berharap Sri akan segera sembuh. Tak lama Sri membuka matanya perlahan, bibirnya bergerak pelan seolah ingin menyampaikan sesuatu,

“Kenapa Bu?” Taufiq mendekatkan telinganya di dekat bibir istrinya.

 

“Air,” ucapnya pelan hampir tak terdengar. Tapi Taufiq mengerti apa yang diminta istrinya itu.

 

Ndak boleh Bu, Ibuk kentut dulu baru boleh minum. Begitu kata dokter.” Taufiq menjelaskan perlahan. Sri kemudian kembali memejamkan matanya, sisa obat anestesi memang membuat kerongkongannya kering dan panas.

 

Keinginan untuk minum itu terus diucapkan Sri begitu ada orang yang menjenguknya, atau ketika perawat sedang mengganti infus miliknya. Berharap ada orang yang mau memberinya minum sesendok saja. Sudah lebih dari dua puluh empat jam Sri tidak minum. Akhirnya seorang perawat jaga di malam hari tak tega mendengar permintaan Sri. Kebetulan Taufiq saat itu sedang pulang dan Sri sendirian bersama satu perawat penjaga. Perawat itu memberikan minum pada Sri yang tengah merengek kehausan.

 

Keesokan harinya betapa kagetnya Taufiq melihat perut Sri yang sedikit membesar seperti ada yang meniupnya dari dalam. Taufiq menanyakan pada perawat apa yang terjadi semalam. Sri mencegah suaminya untuk memarahi perawat jaga karena ini semua murni keinginan Sri.

 

“Jangan laporkan saya ya Bu saya bisa dipecat,” perawat itu memelas dan memohon pada Sri.

 

Sri mengangguk, berjanji tidak akan melaporkan pada dokter. Taufiq segera menghubungi dokter karena panik. Ia ketakutan, Sri belum melewati masa kritis, kini satu prosedur sudah dilanggar. Ketika dokter datang ia pun marah besar.

 

“Kok bisa begini? Siapa yang memberi minum?” Dokter itu menanyai para perawat yang semuanya sedang tertunduk. Takut terjadi sesuatu yang membahayakan Sri.

 

“Saya kan sudah bilang jangan diberi minum sampai kentut. Kalau begini operasinya bisa gagal, pencernaannya belum pulih sempurna sudah diberi air!” Dokter mengencangkan suaranya, Sri pun mendengarnya.

 

Taufiq melemas, ia pun jatuh terduduk di lantai ruang perawatan intensif. Dokter memapahnya dan mengajaknya bicara setelah Taufiq bisa menguasai keadaan.

 

“Kalau hingga dua hari ke depan beliau tidak kentut saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kemungkinan bertahan hidupnya dua puluh persen karena komplikasi. Sekarang turuti apa saja permintaannya.” Kata-kata Dokter tersebut seolah seperti palu yang menghantam kepala Taufiq dengan keras. Ia tak mampu lagi berkata-kata, pikirannya melayang kemana-mana. Ia berjalan gontai menuju mushalla rumah sakit, berharap Allah memberikannya kekuatan dan memberikan solusi.

 

 

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny

Part 17 : Sang Dewi bernama Sri

Part 18 : Mengungkap Rasa

Part 19 : Jawaban Istikharah

Part 20 : Pendamping Harapan

Part 21 : Keluarga Baru

Part 22 : Komitmen

Part 23 : Nikmat dan Ujian

 

Leave a Reply