Tahun Kesedihan

Part 25

 

Dua hari pasca kejadian yang tak diinginkan itu Sri tak kunjung bisa mengeluarkan gas dari dalam perutnya. Segala bantuan kesehatan yang menopangnya dilepas. Oksigen, kateter, dan lain sebagainya, hanya tersisa infus yang sesekali memberikan glukosa untuk tenaga yang dibutuhkan Sri. Taufiq tak pernah alpa mendoakan kesembuhan Sri di tengah dinginnya Malang pada dini hari. Ia bersujud bersimpuh di dekat ranjang yang Sri tempati untuk berbaring. Jarak antara kematian dan hidup saat itu begitu tipis. Sri juga pucat karena tidak ada asupan nutrisi sama sekali kecuali glukosa.

 

Taufiq berdoa dengan sungguh dan khusyu. Tak pernah ia merasa sedekat ini dengan Tuhannya, tempatnya berharap segala sesuatu. Anak-anaknya masih kecil, ia tak sanggup memikul beban hidup sendirian tanpa teman hidup yang tangguh dan penuh perhatian seperti Sri. Ia berdoa untuk keselamatan Sri. Ada bayi berumur empat bulan yang tengah menanti kepulangan mereka. Bayi itu membutuhkan Sri. Begitu juga dengan anak-anaknya yang masih belum baligh.

 

“Aku memohon takdir terbaik dari sisiMu ya Allah,” Taufiq menutup doa dalam salat tahajudnya. Kemudian ia mendirikan salat witir tiga rakaat. Ujiannya saat ini tentu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ujian para Nabi dan Rasul serta para ulama. Ia hanya dihadapkan pada gerbang kematian yang begitu menakutkan, apalagi gerbang itu untuk orang yang dicintainya. Tak terbayangkan bagaimana ia bisa ditinggalkan oleh orang yang dicintainya dalam waktu secepat ini.

 

Sebegitu dalamnya Taufiq memohon kesembuhan istrinya, ia pun menanggung kabar ini sendirian. Tidak memberitahukan pada adik-adik dan orang tua mereka. Karena harapan sembuh itu masih ada.

 

“Buk, aku solat Subuh dulu di bawah ya,” Taufiq pamit pada istrinya yang masih setengah sadar. Sri mengangguk mendengar Suaminya yang pamit akan mengerjakan Salat Subuh berjamaah seperti kebiasaannya selama ini.

 

“Iya Mas,” jawabnya pelan. Ia pun ikut bertayamum untuk mendirikan Salat Subuh di tempat tidurnya.

 

Sekitar setengah jam usai waktu Salat Subuh berjamaah, Sri meminta suaminya untuk mengantarnya ke kamar mandi. Karena ia merasa perutnya sakit. Taufiq memapahnya untuk pergi ke kamar mandi,

 

“Aku mules banget Mas, sepertinya mau kentut.” Kata Sri sambil berjalan perlahan dengan dipapah oleh Taufiq yang seketika wajahnya cerah mendengar istrinya ingin kentut. Begitu sampai di kamar mandi, belum sampai pintu ditutup, Sri sudah mengeluarkan gas yang berasal dari perutnya. Begitu panjang bunyi gas itu, jika dihitung mungkin bisa sampai lima hingga sepuluh menit. Seisi ruangan pun berubah baunya karena gas dari dalam perut. Perawat ikut menyaksikan bagaimana keajaiban ini terjadi. Sri akhirnya bisa kentut setelah beberapa hari dinyatakan gagal operasi. Keajaiban itu nyata adanya. Segera perawat menelpon dokter untuk menanyakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

 

Taufiq juga tak lupa melakukan sujud syukur karena gas yang ada dalam perut Sri akhirnya bisa keluar meskipun baunya sangat mengganggu satu ruangan perawatan intensif pagi itu. Sri akhirnya bisa tersenyum lega, begitu pula dengan suaminya. Dokter pun menghampiri Sri dan Taufiq di ruangan intensif pagi itu dengan wajah berserinya. Prediksinya meleset. Sri punya tubuh yang lebih kuat dari perkiraannya.

 

“Alhamdulillah, puji syukur. Selamat ya Pak, Buk. Sekarang apapun boleh dimakan dan diminum. Dua puluh persen yang kita harapkan kemarin ternyata berpihak pada kita. Mudah bagi Allah untuk memberikan dua puluh persen kemungkinan kecil itu untuk Bapak dan Ibu. Alhamdulillah, saya ikut lega.” Ujar dokter yang menangani Sri saat itu.

 

Taufiq mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada dokter dan perawat yang selama kurang lebih tiga minggu merawat Sri selama ini. Ia juga tak menyangka bahwa Allah mengabulkan satu kali lagi permintaannya.

 

“Tinggal beberapa hari lagi untuk pemulihan dan latihan jalan ya, baru Ibu boleh pulang.” Kata dokter usai memeriksa beberapa alat vital Sri dan menyatakan bahwa semuanya normal dan baik-baik saja.

“Terima kasih Dok,” kata Taufiq kemudian sambil menyalami dokter yang meminta untuk undur diri. Setelah mengantar dokter hingga ke depan ruangan, Taufiq menghampiri Sri dan tak henti-hentinya mengucap syukur bersama.

“Ibuk mau makan apa?” Taufiq bertanya karena sudah ingin melihat istrinya berwajah cerah kembali. Sudah satu minggu istrinya tak makan nasi.

“Pingin sate.” Sri menjawab singkat sambil senyam-senyum. Taufiq menyanggupi permintaan istrinya itu. Ia pun segera melesat pergi membeli sate untuk Sri dan memberi kabar pada keluarganya bahwa Sri sudah melalui masa-masa kritisnya di rumah sakit.

 

Namun betapa terpukulnya Taufiq begitu sampai di rumah ia disambut dengan kabar duka sekali lagi. Mbah Sabar meninggal. Mbah yang begitu menyayangi Sri dan dirinya itu dipanggil oleh Allah pada hari yang sama saat Sri melalui masa kritisnya. Taufiq tak tahu apa yang harus ia katakan ketika Sri menanyakan Mbah Sabar nanti. Ia tak siap jika kondisi Sri harus drop lagi karena mendengar kabar yang tak mengenakkan bahkan menyakitkan. Sri masih dibayangi oleh kepergian Ibunya, kini ia harus menerima kabar kepergian Kakek tercintanya. Kakek yang bahkan lebih ia cintai daripada Bapaknya. Kakek yang selama ini selalu dekat dengan Sri dan Taufiq.

 

Lemas tubuhnya harus menampakkan sikap yang biasa saja padahal hatinya tengah terluka karena kabar duka. Takdir Allah benar-benar menguji keikhlasan dan kesabaran Taufiq. Tetap bersyukur atau kufur atas takdir buruk. Tetap bersyukur di saat nikmat menyapa adalah hal yang mudah, namun tetap bersyukur apalagi bersabar di tengah takdir buruk yang menyapa adalah satu sikap sulit yang tidak bisa kita lakukan dengan mudah. Namun Taufiq berusaha untuk menerima takdir buruk tahun ini dengan lapang dada dan penuh prasangka baik pada Allah.

 

Bersambung >>

Part sebelumnya :

Part 1 : Narasi Sang Gurunda (Prolog)

Part 2 : Membangun Kembali Harapan

Part 3 : Rumah dari Bambu

Part 4 : Celengan Ayam

Part 5 : Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 6 : Menyelinap di Layar Tancap

Part 7 : Gangguan Rumah Baru

Part 8 : Malam-malam Gangguan

Part 9 : Pesan Mbah Isom

Part 10 : Semester Pertama

Part 11 : Dua Puluh Lima Rupiah

Part 12 : Berkah dari Allah

Part 13 : Bekerja Lebih Keras, Berlari Lebih Kencang

Part 14 : Kabar Bahagia Ning Yah

Part 15 : Wanita Berkerudung Putih

Part 16 : Sweet Destiny

Part 17 : Sang Dewi bernama Sri

Part 18 : Mengungkap Rasa

Part 19 : Jawaban Istikharah

Part 20 : Pendamping Harapan

Part 21 : Keluarga Baru

Part 22 : Komitmen

Part 23 : Nikmat dan Ujian

Part 24 : Meregang Jiwa

 

 

Leave a Reply