Menjamurnya café-café di tengah Kota Malang yang penuh sesak dengan mahasiswa yang jumlahnya puluhan ribu saat ini membuat Malang menjadi kota yang tak lagi dingin. Apalagi pasca kawasan wisata Batu memutuskan untuk berpisah dari kota Malang. Menyakitkan memang ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Namun Malang akhirnya bangkit dan mulai berbenah. Kini tak harus pergi ke kota sebelah, kota sang mantan yang dulunya masih mesra dengan kota Malang, untuk menikmati destinasi wisata.

Malang masih punya kampung warna-warni Jodipan hasil kreasi mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang bersama CSR salah satu perusahaan cat tembok. Malang juga masih punya Taman Rakyat yang biasa disebut Tarekot. Malang masih punya wisata kampung heritage yang terletak di kawasan Kajoe Tangan dan Kauman. Serta masih banyak lagi destinasi wisata yang bisa ditemui di kota kecil ini. Malang juga berbenah dengan memperbaiki dua alun-alun yang menjadi ikon kebanggaannya. Malang juga punya taman baca serta masih banyak lagi taman-taman instagramable yang terletak di beberapa jantung kota. Julukan Swiss Van Java tampaknya bukan julukan yang berlebihan melihat tampilan indah Kota Malang yang semakin berinovasi.

Tak jauh dari Tarekot terdapat kawasan wisata turis yang dulunya berdekatan dengan Blok M (sekarang blok M sudah tergusur). Sekitar seratus meter dari Tarekot dan Pos Turis Kajoe Tangan bisa ditemui Pasar Hewan dan Pasar Bunga yang masih satu kawasan. Kedua pasar ini biasa disebut oleh warga Malang sebagai Splindid. Pasar Bunga memang bukan tujuan yang istimewa, tapi saat ini Pasar Bunga sudah menjadi banyak jujukan turis mancanegara. Beberapa kali akan didapati turis yang sedang melihat-lihat saja atau bahkan sedang mencari tanaman khas Kota Malang. Tidak jarang pula turis-turis lokal maupun mancanegara ini sibuk mengambil gambar dari kawasan Splindid ini.

Pasar kembang atau Sarkem di Kota Malang ini tidak seperti Sarkem di kota lain ya. Pasar kembang punya Malang ini jauh berbeda dengan Sarkem-Sarkem yang sering disebut sebagai tempat-tempat ‘gelap’.

Pasar Kembang atau Pasar bunga tidak hanya menjual tanaman kawasan dataran tinggi, tapi juga ada kaktus dan succulen yang merupakan tanaman khas kawasan kering dan gersang. Begitu juga dengan koleksi berbagai macam anggrek yang bisa ditambahkan untuk perbendaharaan para kolektor. Tak lupa juga bunga mawar, melati dan beberapa bunga segar untuk pernikahan. Khusus untuk pojok ini bisa ditemui hingga tengah malam. Tidak perlu khawatir untuk kehabisan spot foto, karena tiap sudut memiliki tempat yang instagramable. Terkadang tidak butuh hiburan mahal untuk menjernihkan kembali pikiran setelah enam hari kerja setelah disibukkan oleh berbagai urusan. Bisa dibuktikan.

Kelengkapan tanamannya pun juga tidak perlu dipertanyakan lagi, asal mau berkeliling untuk melihat satu-persatu tanaman dengan teliti. Bahkan bunga gandum dan padi kering pun bisa didapatkan disini. Property para fotografer dengan nuansa rustic dan paling dicari oleh kaum millenial ini bisa didapat hanya dengan harga terjangkau. Tidak perlu repot-repot untuk mengimpornya dari kota lain atau bahkan belahan negara lain. Bunga gandum dan padi lokal pun tak kalah menariknya dengan bunga gandum impor dari China maupun Eropa.

Nah, pasar bunga ini bisa menjadi jujukan melepas penat lho! Melihat hijaunya tumbuhan serta warna-warni bunga dijamin pikiran akan semakin fresh dan siap bekerja kembali di hari berikutnya. Jangan lupa untuk membeli bakso yang sedang mangkal di depan Pasar Bunga ya. Meskipun bakso pinggir jalan, namun cita rasa dan kehalalannya tidak perlu ditanyakan lagi. Maknyus! Begitu kata Pak Bondan sang pecinta kuliner tersohor itu.

Yuk main ke Pasar Bunga sebelum beranjak meninggalkan kota Malang!

 

Lihat juga ulasan dari kawasan wisata yang lain di :

Menjelajah Tujuh Negara dalam Satu Hari

Merasakan Manisnya ‘Ice World’

Mengunjungi ‘Dunia Tanpa Batas’