Sudah lebih dari dua puluh tahun saya menghabiskan lebaran di kota Malang. Kota tempat kelahiran, tempat menuntut ilmu hingga punya keluarga kecil sendiri. Dulunya saya memang paling tidak suka dengan traveling. Jadi setiap lebaran sepertinya hampir selalu dihabiskan di kota Malang. Selain karena kakek nenek ada di Malang dan di Mojokerto (hanya 3 jam dari Malang), juga kami sekeluarga memang jarang bepergian keluar kota jika tidak benar-benar mendesak.

Maka makanan yang hadir menemani lebaran kami ya bisa dibilang itu-itu saja, seperti bukan makanan khas ketika lebaran. Makanan khas Malang adalah bakso, sedangkan ketika lebaran tiba, tidak jarang ibu selalu membuatkan kami bakso paling enak sedunia, hehe. Makanan khas lebaran yang hampir selalu dibuat oleh orang-orang di sekitar kami hanya seputar ketupat sayur dengan isian telur pindang, sayur manisa, ditambah kering tempe atau kentang. Kadang ditambahkan petis atau peyek udang.

Kadang saya malah kangen dengan ketupat sayur dan opor ayam yang selalu viral saat lebaran itu, karena saking jarangnya keluarga kami menghidangkan itu di atas meja makan. Sampai-sampai kalau ada tetangga yang memberi hantaran ketupat sayur saya sangat senang sekali dan akan menghabiskannya dalam waktu singkat.

Ketika saya berkunjung ke Surabaya dan Mojokerto saat lebaran pun mereka menyajikan hidangan yang sama seperti di Malang. Pun dengan saudara yang tempat tinggalnya jauh di Jawa Barat, makanan yang menemani lebaran mereka pun tidak jauh berbeda dengan ketupat sayur. Jadi mungkin ibu bosan dengan hidangan yang itu-itu saja. Hampir bisa ditemui di setiap rumah pada saat lebaran. Oleh karenanya ibu selalu memasak bakso atau bahkan tempe penyet. Setelah sekian lama ketika bulan Ramadan jarang sekali memasak tempe penyet dan derivatnya.

unsplash.com/@marekminor

Bakso Malang yang kami buat biasanya berisi pentol (bola daging) ditambah dengan siomay, tahu kukus, mie, serta siomay goreng. Kuah yang ditambahkan kaldu daging dari hasil membuat pentol tadi ditambahkan daun bawang dan seledri, lalu penyajiannya masih ditambah dengan selada air. Wah, krius banget kuahnya. Ditambah lagi dengan bawang goreng, sambal, kecap dan saus. Bakso komplit siap dinikmati selagi panas.

Rujak Cingur

Pernah di suatu hari raya, Ibu memutuskan untuk memasak rujak cingur. Bukan ketupat sayur atau opor ayam, beliau malah ingin membuat rujak cingur katanya. Kontan kami semua sekeluarga menyerbu rujak cingur bikinan Ibu karena sudah terlalu bosan dengan hidangan ketupat sayur dan opor ayam di rumah kakek nenek. Hehehe..

Rujak Cingur adalah makanan khas Surabaya. Namun di sepanjang jalan di kota Malang pasti banyak dijumpai orang yang menjual rujak cingur pula. Saya tidak tahu apa bedanya rujak cingur Surabaya dan Malang. Rujak cingur Malang biasanya berisi irisan tahu, tempe, kikil, menjes, kadang ditambah dengan irisan tempe kacang, lalu diurap dengan bumbu petis yang enak itu. Tak lupa dengan sayur mayurnya. Biasanya pakai kangkung, selada air, kacang panjang dan kecambah/tauge.

Selain dua menu berat di atas, menu-menu ringan yang biasanya tampil di atas meja makan kami seperti :

Bakso Bakar

Pasti hidangan ini tidak asing lagi ya. Cara membuatnya pun cukup mudah. Olesi pentol yang akan dibakar dengan bawang putih halus yang sudah dicampur air dan sedikit garam. Lalu bakar dengan mentega di teflon. Setelah beberapa menit barulah tambahkan kecap dan bakar hingga sedikit gosong. Wuih, bakso bakar manis siap dihidangkan dengan cocolan saus sambal atau saus tomat.

Es Manado

Meskipun bukan khas kota Malang, ibu kerap kali membuatnya untuk pencuci mulut. Bukan hanya Ibu sebenarnya, bahkan di jalan-jalan kota Malang banyak dijual es Manado ini. Entah bagaimana rasa orisinalnya di Manado sana. Yang jelas es Manado di Malang ini punya komposisi pas antara manis dan asam. Manis berasal dari agar-agar yang dipotong kecil=kecil serta nata decoco. Sedangkan rasa asam berasal dari sirsat yang dijus lalu dijadikan semacam “kuah” untuk agar-agar dan nata de coco tadi.  Terasa segar sekali disajikan dalam keadaan dingin.

Rujak Gobet

Rujak Gobet juga sajian segar yang sering dihidangkan saat lebaran. Isinya bemgkuang, nanas, serta timun yang diserut lalu diberi kuah air gula merah dengan rasa sedikit pedas dari cabe rawit yang dihaluskan. Kebayang ngga antara rasa manis, segar, pedas dan asam? Hehehe..

Apa nih menu khas saat lebaran di tempat teman-teman?

#BPNRamadan2020 #RWCODOP #RWCDay29 #Ketupat #OneDayOnePost #Ramadhan2020