“Kau kerja sampai presiden berganti-ganti lima belas kali, gaji pelayan warung kopi takkan cukup untuk kuliah kedokteran, Nong!”

 

 

“Ternyata sekolah kedokteran itu mahal sekali, But, aku baru tahu kalau orang miskin tak bisa masuk Fakultas Kedokteran.”

 

 

Kutipan salah satu dialog dalam Orang-Orang Biasa diatas bikin hati nyeri ngga sih? Saya sih iya, lalu menengok ke sekeliling. Benar juga, wajah pendidikan kita macam zaman penjajahan kalau kata Pak Cik Andrea. Orang miskin tidak bisa kuliah, bahkan beasiswa yang dijanjikan Pemerintah kadang juga menjadi rebutan bersama dengan orang-orang kaya. Maka semakin kecil lah kesempatan orang miskin untuk bisa kuliah. Tak usah jauh-jauh, tetangga saya pun ada yang seperti ini. Harus merelakan jurusan yang diminati, lalu kuliah di jurusan yang lebih “murah” karena persoalan uang. Meskipun banyak yang mengatakan dimana ada kemauan disitu ada jalan, saya jadi gemas dan ingin sekali menghadapkan realita kehidupan orang-orang yang kurang beruntung itu di hadapannya. Seperti yang dikisahkan dalam novel OOB ini, anak penjual mainan tenot-tenot, dakocan, balon pencet, onyet-onyetan pinggir jalan, bahkan untuk membeli beras saja berhutang, tidak bisa memasuki jurusan Kedokteran yang ia inginkan karena miskin. Keringanan dari kampus hanya diberikan tidak sampai sepersepuluh dari total biaya keseluruhan. Ngilu sekali hati saya ni!

OOB juga mengisahkan sisi baik seorang polisi yang saat ini sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya sendiri. Profesi mulia pengayom masyarakat ini dikisahkan dengan idealisme seorang polisi yang berbudi luhur dan memiliki empati yang tinggi. Sejenak saya berpikir sekaligus bersyukur masih ada polisi baik seperti Inspektur Abdul Rojali.

Novel ini tidak seperti karya Pak Cik yang lain, OOB ini memiliki sentuhan humor yang menurut saya lumayan lucu hingga membuat saya tertawa sendiri. Selain itu OOB juga diceritakan dengan gaya bahasa satire yang kadang membuat hati kita ngilu. Seperti biasa, kisah di dalamnya juga menunjukkan nilai-nilai moral dan pendidikan yang relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Namun kadang kita menutup mata dan telinga dari hal-hal itu. Klimaksnya, sekelompok kawanan yang jujur dan miskin terpaksa harus merencanakan tindakan kriminal sebagai bentuk solidaritas terhadap anak salah satu temannya yang berhasil lolos mengikuti tes masuk Fakultas Kedokteran.

Kira-kira berhasil ngga ya rencana mereka? Bisakah Dinah menyekolahkan anaknya ke Fakultas Kedokteran? Baca yuk, dijamin akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah mereka di Orang-Orang Biasa.