Keesokan harinya, Dini yang mendengar kabar Asih pingsan karena melihat sosok perawat berwajah buruk itu kini terdiam lama sekali di balik meja kerjanya. Kabar bahwa Asih melihat sosok penampakan seorang perawat menyebar begitu cepat ke seisi rumah sakit. Dini teringat kembali dengan sosok yang dijumpainya beberapa malam yang lalu. Jangan-jangan sosok yang hadir di ruangan rawat inap adalah sosok yang sama. Seperti yang dilihat Asih.

Hari itu, Dini mendapat tugas jaga di siang hari bersama tiga orang temannya yang lain. Ketiganya sedang hangat-hangatnya membicarakan tentang peristiwa pingsannya Asih dan penyebabnya. Namun Dini tidak mengikuti pembicaraan mereka, ia memikirkan tentang wanita yang seringkali menangis di malam hari itu. Dini malah larut dengan pikirannya sendiri. Berbagai kemungkinan logis yang disampaikan oleh lobus frontal dalam kepalanya tidak bisa ia terima begitu saja. Ia yakin ada alasan logis akan munculnya wanita itu. Tapi Dini tak kunjung juga menemukan jawabannya. Benarkah ia hantu?

“Hahahahaha!” Dini tertawa keras sekali hingga ketiga temannya kaget bukan main.

“Din?” Firda, senior Dini yang beberapa waktu berjaga bersama dengan Dini memegang bahu Dini yang terguncang karena tertawa sendiri.

“Hahahaha!” Dini masih tertawa sendiri. Matanya tak fokus pada lawan bicaranya. Firda melihat ada sesuatu yang tak beres pada Dini.

“Din? Jangan bikin takut ah!” seru temannya yang lain sambil memperhatikan Dini yang masih terkikik sambil duduk, wajahnya menunduk. Ketika temannya ingin mendekat, Dini menjauh, kemudian tertawa lagi. Hahaha!

“Cepat panggil Pak Puji!” Ujar Firda pada temannya. Firda menyadari Dini seperti kerasukan. Matanya sudah tidak seperti pancaran mata seorang Dini yang ia kenal. Salah seorang rekannya segera menelepon Pak Puji, seorang rohaniawan di Rumah Sakit yang biasanya bertugas untuk membimbing pasien untuk berdoa setiap pagi hari.

Dini masih sesekali tertawa, namun ia tak beranjak dari tempat duduknya. Firda yang pemberani masih menunggui Dini agar jangan sampai ia lari dari tempat ini sebelum sadar. Tak lama kemudian Pak Puji hadir dengan langkahnya yang tergesa.

“Pak! Dini kesurupan!” Seru rekannya begitu mengetahui Pak Puji hadir di antara mereka. Pak Puji segera merangsek masuk dan membacakan ayat-ayat kitab suci di depan Dini. Dini masih tertawa. Kemudian pandangan matanya yang tajam menghadap Pak Puji yang sibuk dengan bacaan rukyahnya. Mata Dini tampak merah. Ia marah dan mengambil beberapa buku serta alat tulis yang ada di dekatnya. Ia lemparkan pada Pak Puji yang sedang membaca doa-doa. Pak Puji refleks menghindari lemparan itu. Teman-teman Dini yang lain diperintahkan untuk memegangi Dini agar dia tak lagi melempar apapun yang ada di dekatnya pada Pak Puji.

Kulo mboten nopo-nopo Pak.” Suara Dini berubah menjadi lebih berat, seperti bukan suara yang ia miliki. Ia berkata demikian terus menerus pada Pak Puji, sambil sesekali tertawa. Pak Puji tak gentar. Ia terus membacakan ayat-ayat rukyah dengan keras di depan Dini. Tak lama kemudian Dini jatuh dan tak sadarkan diri.

“Sudah, baringkan di sofa saja biarkan istirahat dulu. Jangan banyak melamun! Kalian harus saling menjaga di sini.” Ujar Pak Puji usai mengusir setan yang sempat masuk ke dalam tubuh Dini.

“Kok jadi seram begini Pak. Kemarin Asih, sekarang Dini.” Ujar Firda cemas.

“Besok kita bikin syukuran saja. Jangan lupa mengaji di saat senggang. Tempat ini kan memang bekas ruang operasi dan gudang dulunya. Bangunan baru, maklum. Mungkin yang menempati merasa terusik. Apa kalian membiasakan membaca Quran di sini?” tanya Pak Puji pada ketiga rekan Dini yang sedang berdiri mematung, tercengang dengan apa yang terjadi di depan mereka saat ini.

“Iya Pak betul memang harus dipakai untuk mengaji, bukan ngerumpi.” Ujar Firda. Ia sadar, selama di sini ia memang jarang menyentuh mushaf. Justru ia disibukkan dengan urusan pekerjaan dan berbincang dengan teman jaganya. Apa yang dikatakan Pak Puji betul sekali. Karena tiap ruangan memang idealnya harus bersih dari hal-hal demikian.

Saat makan siang, kabar bahwa kali ini Dini, perawat kelas satu yang kesurupan menyebar dengan cepat ke seluruh telinga pegawai Rumah Sakit.

Fauzan, pimpinan ruang EDP yang berkantor di lantai enam itu juga akhirnya membicarakan soal desas-desus yang terjadi pada Dini dan Asih. Bersama dengan Pak Puji dan Jemi, kedua sahabat yang sering diajaknya diskusi. Fauzan tertawa setelah mendengar cerita Pak Puji.

“Kok ketawa sih?” Jemi menatap curiga Fauzan yang tertawa hingga terlihat giginya itu. Fauzan adalah lelaki alim pendiam yang jarang tertawa.

“Engga, kalau cerita si Asih yang lihat layar komputer nyala sendiri itu aku tahu siapa di baliknya.” Ujar Fauzan sambil membuka laptopnya. Menyalakannya. Ia menatap Jemi dan Pak Puji yang kebingungan.

“Siapa?” Tanya Jemi dan Pak Puji bebarengan.

“Aku,” ujar Fauzan, lagi-lagi kemudian ia tertawa.

“Kok bisa? Kan Pak Kirno bilang di sini tidak ada siapa-siapa.”

“Siapa bilang aku di sini? Aku mengendalikan komputer dari rumah.” Kata Fauzan kemudian sambil menyodorkan laptopnya pada Jemi dan Pak Puji. Keduanya berpandangan. Tak mengerti maksud Fauzan.

“Jadi aku pakai remote system untuk mengendalikan apa saja yang ada dalam komputer di ruangan ini lewat laptopku. Kebetulan malam itu perawat di kelas dua nelpon, dia bilang jaringannya off sedangkan ia butuh data pasien malam itu juga untuk persiapan operasi besok paginya. Komputerku di ruangan ini memang tak pernah mati. Jadi ketika aku butuh untuk membenahi sesuatu yang rusak pada jaringan, aku tidak harus kesini untuk memperbaiki. Aku bisa memperbaikinya dari rumah. Lihat, laptop ini sama kan tampilan desktopnya dengan komputer di mejaku?” Fauzan mencoba menjelaskan pada dua sahabatnya itu. Jemi dan Pak Puji manggut-manggut.

“Jadi yang dilihat Asih di CCTV layar komputer menyala sendiri itu karena kamu menyalakannya dari rumah?” Jemi memperjelas.

“Iya betul. Sebenarnya komputer di ruangan ini memang tidak pernah mati. Tapi layarnya memang akan otomatis mati jika beberapa waktu komputer tidak dipakai. Saat itu menyala karena memang aku sedang membuka program di dalamnya, tapi kulakukan dari rumah.” Fauzan mencoba menjelaskannya dengan sederhana.

“Tapi Pak Kirno bilang tidak ada program apa pun di layar.” Sela Pak Puji.

“Waktu itu aku sudah selesai Pak. Aku ingin mematikan komputernya juga tapi sudah keburu ketiduran duluan, sudah sangat ngantuk. Hehe…” Jelas Fauzan.

“Jadi tenang saja di sini tidak ada hantu. Aman. Aku bisa saja menyalakan komputer di rumahmu Jem.” Kata Fauzan sambil cekikikan. Jemi cemberut.

“Lalu soal wanita itu? wanita yang muncul di depan Asih dan Dini?” Pak Puji masih penasaran.

“Wah kalau itu, aku tidak tahu Pak. Suruh saja mereka sering-sering mengaji. Itu kan representasi Jin yang menyerupai manusia. Bisa jadi menyerupai manusia yang sudah mati atau bahkan manusia yang mirip dengan kita sekalipun.” Ucap Fauzan mantap. Logis memang. Hal-hal ghaib seperti itu memang nyata adanya. Kita tidak bisa memungkiri. Namun kita perlu sadar bahwa dimensi kita dan mereka sangat berbeda, jadi mereka tidak akan bisa melukai kita. Untuk masuk ke dalam tubuh manusia saja mereka membutuhkan energi yang sangat besar. Jadi kalau untuk menyakiti atau melukai secara fisik, mereka tidak akan bisa.

“Eh, Asih? Kenapa disini?” Ujar Jemi tiba-tiba saat melihat Asih yang sudah berdiri di depan pintu ruang EDP. Fauzan dan Pak Puji berpandangan. Mereka melihat Asih yang takut-takut ingin masuk ke dalam ruangan.

“Masuk saja Sih,” ujar Fauzan. Namun Asih masih terpaku.

“Aku turun dulu, tadi ada janji dengan dokter Udin. Kalian teruskan obrolannya. Asih masuk aja.” Ujar Jemi kemudian sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar, mempersilakan Asih untuk masuk. Jemi melihat Asih kemudian mau masuk ke dalam ruangan Fauzan yang sedang menikmati makan siang bersama Pak Puji.

Sesampainya di lantai satu, Jemi hendak menemui dokter Udin di ruang UGD. Namun ada yang mengganggu pikirannya ketika ia melintas melewati meja resepsionis.

Lho, kok Asih disitu? Bukannya tadi dia di atas? Dia turun lewat mana? Batin Jemi. Kemudian ia menghampiri Asih dan Bu Marti yang sedang sibuk di meja resepsionis.

“Asih?” Ujar Jemi memastikan bahwa yang duduk di balik meja itu adalah Asih.

“Kenapa mas Jemi?” Asih berdiri hendak membuka ruang resepsionis mempersilakan Jemi masuk.

“Bukannya kamu tadi ke atas?” Jemi tampak cemas.

“Hah? Engga kok, aku daritadi di sini sama Bu Marti. Mas salah lihat kali! ” Asih heran dengan pertanyaan Jemi.

“Oh, oke, ngga apa-apa. Oke lanjutkan.” Jemi menjawabnya cepat-cepat kemudian segera berlalu menuju ruang UGD.

Jadi siapa yang ada di lantai enam tadi?

END.