Briantono Muhammad Raharjo. Nama yang sempat muncul di komunitas One Week One Book juga Ramadan Writing Challenge bersama saya ini ternyata punya kehidupan yang luar biasa. Tak heran tulisan-tulisannya selalu menarik. Pria yang lahir dua puluh sembilan tahun lalu ini punya hobby bermain musik khususnya drum, berenang, bersepeda hingga menulis dan membaca. Brian bermain drum sejak umur empat belas tahun. Permainannya menabuh drum tidak diragukan lagi. Jika ingin melihat bagaimana permainannya, bisa ikuti Channel Youtubenya di Brian Raharjo.

Brian lahir di Bandung, juga tumbuh dewasa di sana. Meskipun dua tahun masa kecilnya sempat dihabiskan di Inggris karena mengikuti orang tuanya yang sedang menyelesaikan studi serta beberapa kali sempat pindah rumah, namun Bandung selalu menjadi “rumah” baginya. Mengenyam pendidikan sarjananya di ITB lalu dilanjutkan ke Australia tak membuatnya lupa dengan tanah airnya. Ia memutuskan untuk mengabdikan dirinya di negeri tercinta, meskipun pengalaman dan skill nya sudah pasti akan diterima dengan terbuka oleh berbagai perusahaan asing. Hingga pada akhirnya per 2016 yang lalu ia memutuskan untuk menjadi warga Jakarta. Menikah dan memiliki satu orang putra tidak membuat ia berhenti untuk mengembangkan potensi dirinya. Buktinya berbagai penghargaan diraihnya di berbagai bidang. Diantaranya yaitu :

– Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Ramadhan Telin (2016)

– Juara 3 Tim Olah Rasa Video Unit (2017)

– Nominator Mentor Terbaik Program Bimbingan BIDIK MISI ITB 2011-2012, juga

– Tim Presenter Terbaik dengan Topik Motivasi Internal untuk Knowledge Worker (2015).

Selain itu beberapa buku antologi yang ditulis Brian ikut menambah khazanah literasi di Indonesia, beberapa di antaranya yang telah terbit: “Kekuatan Do’a”_(Azizah Publishing)_, “Aliran Waktu”_(Writerpreneur Revolution Publishing)_, dan “Magical Pen”_(Guepedia Publishing)_. Beberapa saat lagi, Brian akan kembali menelurkan dua antologi: “Kontemplasi Kisah Semesta”, yang disusun bersama peserta RWC, dan Kompilasi Puisi Patah Hati bersama penerbit Nyawakata.

Brian juga pernah menjuarai Kompetisi Band “Account Manager Rising-Star” (Telkom) dan memperoleh juara 2. Aktivitas membacanya menuai prestasi tidak hanya berupa karya yang dibukukan, tapi ia juga pernah meraih Juara 1 resensi akhir tahun Mojok. Selain itu ia juga dianugerahi sebagai salah satu Penulis Terbaik Ramadhan Writing Challenge ODOP 2019. Inilah yang membuat nama Brian tak asing lagi di telinga saya.

Tidak puas dengan karya dan prestasinya di luar pekerjaannya, Brian juga membudayakan slogan Bapak Presiden kita, Kerja Kerja Kerja! Sehingga inilah beberapa karya profesi yang berhasil disabet olehnya hingga memperoleh penghargaan tempat Brian mengabdi. Diantaranya : Business Plan Telkom Australia, Dokumen makro analisis “Artificial Intelligence for Platform, Platform Ecosystem 2.0 dan Business Plan Telkom Malaysia.

Ketika ditanya tentang bagaimana ia menjalani hidup dengan selalu bersemangat dan penuh energi positif, ia menjawab dengan motonya dengan kalimat yang sejuk untuk dibaca dan diperdengarkan :

“Jika kita menuruti kehendak manusia yang bertentangan dengan ridha Allah, maka Allah buat hati manusia itu berbalik membenci. Jika kita menuruti kehendak Allah yang bertentangan dengan ridha manusia, cukuplah Allah sebaik-baik pelindung dari marabahaya.”

Sejak tahun 2014 ia memegang prinsip : “Bermimpilah setinggi langit, tapi pelan-pelan turunkanlah hingga ke bumi, supaya dengan segera mimpi itu bisa dipeluk.” Kalimat yang mengingatkan saya pada tokoh Bapak di novel Sabtu Bersama Bapak karangan Adhitya Mulya. Kita tidak akan menjadi apa-apa hanya dengan bermimpi. Boleh saja bermimpi setinggi langit, tapi ada baiknya juga mengukur kualitas diri agar mimpi itu bisa kita peluk. Bukan menjadi angan-angan belaka selamanya. Itulah yang membedakan Steve Job dan Pak Kirman, penjaga warung di depan gang rumah saya. Dua-duanya bermimpi agar bisa menciptakan sesuatu dan menaikkan derajat dirinya. Namun Steve Job segera bangun dan mengeksekusi mimpinya, tidak berhenti pada angan semata.

Satu pesan dari Brian yang patut kita renungkan bahwa “Perubahan drastis secara 5 tahun, selalu dimulai dari perubahan kecil yang berdampak besar di dua tahun pertama”. Untuk itulah Brian tak akan berhenti mengembangkan potensi dirinya di usianya yang sebentar lagi tak bisa dibilang muda. Buku solonya akan lahir sebentar lagi melalui Caraka Publishing yang menggarap soal bagaimana menerjemahkan film dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja tidak akan berhenti disitu. Brian akan terus berkarya tanpa jeda. Sebagai pengingat di kehidupan mendatang bahwa dirinya pernah ada.

Sukses selalu, Brian!

Intip tulisan Brian di bumiarena.blogspot.com/

http://bumiarena.blogspot.com/2019/10/diskusi-buku-dan-literasi-serupa-nafas.html?m=1

Biografi ini dibuat untuk memenuhi tantangan Pekan 8, Biografi. ODOP Batch7