Terimakasih teman-teman semuanya atas segala dukungan dan doa untuk Ayahanda kami. Saya bacain satu-satu kok dan kalau sedang longgar saya balas dan dalam hati juga mendoakan teman-teman sekalian juga agar selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah.
Terharu banget ada banyak doa untuk Ayah kami meskipun mungkin ada yang tidak mengenal beliau.
Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Ayah dipindahkan dari RSI Aisyiyah Kota Malang ke RSSA Saiful Anwar untuk melakukan tindakan bronkoskopi. Yaitu pengambilan sample jaringan yang nantinya akan diteliti oleh Departemen Patologi Anatomi jenis sel tumor seperti apa yang ada di dalam paru-paru Ayah.
Bronkoskopi Untuk Pasien dengan Riwayat Jantung, Hipertensi dan Diabetes
Sebenarnya saat hari pertama Ayah dipindahkan ke Grand Paviliun RSSA bronkoskopi sudah bisa dilakukan keesokan harinya. Namun, karena Ayah juga pernah menjalani kateterisasi jantung dan rutin minum obat jantung, hipertensi, dan diabetes maka tindakan bronkoskopi pun ditunda hingga 5 hari ke depan untuk menghilangkan efek obat pengencer darah, sekaligus menunggu stabilnya gula darah.
Complicated ya. Makanya kami butuh sekitar 9 hari untuk berada di GPV RSSA.
Hari pertama hingga ke-empat hanya dilakukan tindakan paliatif, semata agar Ayah tidak merasakan sakit yang hebat di bagian tulang punggungnya. Ya, jadi menurut CT Scan, kanker Ayah sudah metastasis ke tulang belakang nomor sekian. Itulah yang menyebabkan Ayah merasakan nyeri hebat dan sensasi terbakar selama kurang lebih sebulan kemarin di bagian tulang punggung dekat pundak.
Ayah diberi obat pereda nyeri melalui infus juga melalui oral. Bahkan obat nyerinya sudah sekelas morfin.
Hingga akhirnya di hari kelima, Ayah dijadwalkan untuk melakukan bronkoskopi setelah salat Jumat. Perkiraan waktunya satu hingga dua jam, bahkan bisa kurang dari itu jika tidak terjadi komplikasi.
Alhamdulillah saya, kakak dan adik ikut mengantar Ayah ke ruang operasi yang jaraknya kira-kira lebih dari 1 kilometer dari gedung GPV. Adapun Ibu saya menunggu kabar dari kamar rawat inap, sebagaimana yang disarankan oleh dokter. Jika ada yang diperlukan nanti ditelepon, gitu katanya.
Tapi ya namanya anak, ngga tega Ayah berangkat sendirian hanya dengan perawat ke ruang operasi kan. Jadi kami ngintilin aja sampai depan pintu ruang operasi.

Bersyukur banget saat itu Ayah ditangani oleh beberapa dokter pilihan kami (boleh memilih dokter ya untungnya). Dokter anestesi sekaligus dokter seperjuangannya Ayah di persyarikatan yaitu Dr. dr. Andyk Asmoro, Sp.An. Lalu untuk dokter utama yang menjadi penanggung jawab adalah dr. Ungky spesialis paru yang beberapa waktu kemarin baru menyelesaikan studi Doktoralnya di subspesialis onkologi thorax. Lalu dr. Reza untuk spesialis penyakit dalam, dr. Saifur Rahman untuk spesialis jantungnya dan dokter (lupa namanya) untuk operator tindakan bronkoskopinya.
Alhamdulillah karena ditangani dengan cepat, tepat, dan tetap dikawal oleh dokter Andyk yang sudah menganggap kami seperti keluarganya, tindakan bronskokopi berjalan lancar dan salah seorang dari kami, anak-anaknya diperbolehkan masuk ke ruangan operasi untuk melihat Ayah di bilik recovery.
Sample jaringan yang sudah diambil tadi akan diteliti untuk mengetahui jenis sel kankernya sehingga pengobatannya bisa segera dijalankan dengan tepat. Dokter saat itu juga menjelaskan bahwa di saluran pernafasan Ayah pun ternyata sudah nampak sel-sel abnormal yang tumbuh di sana. Ada pun paru-parunya seperti pohon yang ditumbuhi benalu berwarna putih di sana sini.

Luar biasanya Ayah hingga kanker paru-paru stadium 4 pun beliau masih saja beraktivitas dan menahan rasa sakitnya selama ini.
Menentukan Obat Kemo Untuk Pasien Kanker Paru Stadium IV
Sepulang dari RSSA, yang bisa kami lakukan hanya menunggu hasil bronkoskopi dan atas saran dokter kami juga melakukan tes NGS (Next Generation Squencing).
Kami melakukannya melalui RS UMM yang sudah bermitra dengan Kalgen Innolab. Untungnya NGS yang harus mengambil sample darah tersebut bisa dilakukan dari rumah.
NGS merupakan teknologi yang digunakan untuk mengurutkan DNA dan mengidentifikasi perubahan genetik yang luas pada sel kanker. Biayanya 9,8juta dan tidak ditanggung BPJS.
NGS ini dilakukan semata-mata agar obat kemo yang nantinya harus dijalani oleh Ayah kami bisa tepat sasaran. Karena jenis kanker paru-paru berbeda-beda, maka pengobatannya pun juga berbeda-beda.
Sayangnya, NGS yang dilakukan dengan mengambil sample darah ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tahu hasilnya. Mungkin karena prosesnya yang lebih rumit ya. Oleh karena itu kami harus bersabar untuk menunggu “obat yang tepat” untuk Ayah.
Sambil menunggu hasil NGS, kami juga rutin kontrol ke GPV RSSA untuk berkonsultasi dengan dr. Ungky. Bagaimana perkembangan selanjutnya yang bisa kami lakukan sambil menunggu pengobatan, dan dosis obat pereda nyeri apa yang bisa dikonsumsi dengan aman oleh Ayah.

Kebaikan Dr. dr. Aswoco Andyk Asmoro, Sp.An-TI., FIP Pada Keluarga Kami
Di tengah-tengah penantian itu, dr. Andyk juga memanggil kami, ketujuh anak Ayah untuk bisa mendengarkan penjelasan dan saran-saran dari beliau sebagai “keluarga” sekaligus sebagai dokter. Saat itu kami berkumpul di Gedung Pendidikan RSSA yang berdiri di depan gedung Grand Paviliun RSSA. Kalau melihat lalu lalangnya, ternyata tempat tersebut menjadi tempat calon dokter spesialis berkonsultasi dan saling sharing dengan dosen dan teman sejawat mereka.
Kami diarahkan untuk masuk ke ruangan yang sudah tersedia seperti ruang konferensi kecil. Dilengkapi dengan layar besar dan juga LCD.
dr. Andyk yang sudah lama menjadi rekan seperjuangan Ayah di Persyarikatan Muhammadiyah memberikan penjelasan dan beberapa foto saat dilakukannya bronkoskopi pada Ayah kami. Beliau juga memberikan saran dan juga pengertian apa yang harus kami lakukan ketika menjadi care giver Ayahanda selama proses pengobatan beliau.

Kami sangat berterimakasih pada dr. Andyk, kebaikan beliau menghangatkan hati kami, anak-anaknya yang hampir tidak pernah melihat Ayah sakit sedemikian parahnya seperti bulan-bulan ini. dr. Andyk sendiri juga menjelaskan beliau hadir dan mendatangkan kami semua semata sebagai keluarga. Saran-saran dari beliau juga kami jalani hingga sekarang.
Bahkan saat Ayah harus menjalani kemo zometa (untuk memperkuat tulang yang sudah diserang oleh sel kanker) dr. Andyk turut hadir menguatkan Ayahanda kami yang baru pertama kalinya melakukan ini di poli Onkologi Terpadu.
Entah bagaimana kami membalas kebaikan dr.Andyk dan keluarga beliau. Saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan-kebaikan untuk beliau sekeluarga dan agar Allah selalu melindungi beliau dan keluarganya. Aamiin.
Optimisme Dokter dan Ayah
Setelah hasil NGS keluar, ternyata benar jenis kanker yang terdeteksi merupakan adenocarcinoma yang terjadi mutasi gen yang berfungsi untuk mengendalikan sel-sel abnormal dalam tubuh. Mudahnya menurut penjelasan dr.Ungky, dalam tubuh kita hakikatnya ada gen yang berfungsi untuk menangkap sinyal sel-sel abnormal yang tumbuh dan berkembang, jika gen tersebut normal maka sel-sel abnormal tersebut secara alami akan mati.
Sayangnya, telah terjadi mutasi gen pada sel-sel tubuh Ayah khususnya di bagian tersebut. Sehingga kini tubuh Ayah tidak punya gen pengendali sel abnormal secara alami. Satu-satunya obat yang bisa digunakan adalah obat kemo oral. Kami menggunakan Getana dengan efek samping yang paling ringan ketika dikonsumsi.
Getana dikonsumsi setiap hari seumur hidup. Indikator keberhasilannya nanti berat badan Ayah tidak turun juga sebaiknya melakukan CT Scan 3 bulan sekali untuk mengetahui ukuran sel tumornya, apakah mengecil atau tidak.
Awal-awal mengonsumsi obat kemo oral getana Ayah sempat diare dan harus dilarikan ke UGD Rumah Sakit. Sempat menjalani perawatan pula di RSI Aisyiyah selama 3 hari. Tensinya juga turun drastis.

Namun setelah dua bulan ini Ayah mengonsumsi Getana setiap hari dan juga dua kali menjalani kemo zometa di RSSA alhamdulillah tubuh Ayah jauh lebih kuat. Perkembangannya bisa kami rasakan karena sedikit-sedikit Ayah sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
Bahkan dulunya sebelum kemoterapi Ayah tidak kuat mengangkat tangan kanannya untuk makan, kini Ayah sudah bisa makan sendiri, ke kamar mandi sendiri, mandi sendiri dan sudah seperti Ayah kami yang biasanya. Sungguh, memang benar bahwa Allah tidak akan menciptakan suatu penyakit tanpa obatnya.

Meskipun stadium 4 saya percaya cepat atau lambat Ayah akan pulih dan ukuran kankernya mengecil. Melihat kesungguhan beliau dan juga optimisme dari dokter serta Ayah sendiri saya yakin badai ini bisa kami lalui dengan baik.
Semangat ya Ayah!










