Sebaik-baik teman duduk adalah buku

Pencinta buku pasti setuju dengan ungkapan di atas.

Buku adalah teman terbaik yang pernah saya miliki selama hidup. Bahkan ketika saya marah, larinya ke buku. Saya takut luapan emosi negatif yang benar-benar buruk bisa melukai orang-orang terdekat. Maka cara terbaik adalah duduk menepi dan menyepi bersama buku hingga emosi reda dan saya bisa mengendalikannya. Jadi kalau saat marah saja saya membutuhkan buku, maka saat berbunga-bunga pun saya membutuhkan buku. Terkadang luapan energi positif dari kebahagiaan membuat saya lebih bersemangat menuntaskan bacaan, dan sebaliknya.

julukan pecinta buku

Saya bersyukur dilahirkan di keluarga yang juga menyukai buku. Meskipun saat itu saya pun harus menabung kalau ingin membeli buku, kecuali buku pelajaran. Hehehe..

Sebelum saya menyadari bahwa membaca itu sangat penting untuk menambah kemampuan literasi, saya membaca hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Terutama membaca komik. Dulu, sejak SMP (karena sudah punya kartu pelajar) saya selalu mampir ke perpustakaan komik dekat rumah. Jumlah komik yang saya pinjam pun tidak tanggung-tanggung, Sekali pinjam bisa 10 sampai 20. Satu komik dibandrol Rp 300 sampai Rp 500 untuk 1 hari. Jadi kalau saya meminjam 3 komik maka waktu yang diberikan hanya 3 hari, dan seterusnya. Inilah yang membuat Ibu lumayan kesal. Bukannya baca buku pelajaran, malah baca komik.

Hayoo siapa nih yang dulu suka pinjem komik di perpus?

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai menyukai novel juga. Mulai dari karya Ibu Mira W sampai novel misteri GhostBumps yang terkenal itu. Hingga suatu ketika saat Harry Potter pertama kali rilis saya mampu menghabiskan satu novel seri pertama Harry Potter yang hampir seribu halaman itu dalam waktu dua hari. Hanya berhenti membaca saat makan, minum, membantu pekerjaan rumah Ibu, dan tentu saja tidur. Perkenalan dengan Harry Potter ternyata membawa saya pada novel-novel lain yang tak kalah menariknya. Termasuk karya nonfiksi yang sebelumnya sangat saya hindari. Akhirnya, buku selalu menjadi sahabat setia kemanapun dan dimanapun.

Dunia Yang Penuh Distraksi

Memasuki babak remaja akhir, saat itu baru saja booming masuknya gawai ke pasar Indonesia. Belum ada smartphone seperti saat ini, banyak teman-teman di masa SMA yang sudah menenteng handphone kemana-mana meskipun milik orang tua mereka. Handphone saat itu hanya berfungsi untuk menerima dan mengirim pesan serta menerima dan melakukan panggilan. Fungsi lain paling canggih ada game ular di dalamnya. Hanya saja layarnya hanya beberapa inchi, satu warna dan yah begitulah..

Adanya gawai membuat saya menjadi malas untuk membaca. Lebih asyik untuk bercakap-cakap bersama dengan teman lewat sms. Meskipun kami mengandalkan pengiriman sms gratis hanya dengan menggunakan isyarat/kode-kode, namun hal itu terasa sangat menyenangkan bagi saya. Padahal besok di kelas juga pasti kami akan bertemu. Namun entah mengapa, chatting serasa lebih seru dibandingkan talking face to face.

Bukannya menyalahkan kemajuan teknologi, namun fakta menampilkan hal tersebut di lapangan. Apalagi saat ini gawai selalu menjadi rujukan untuk mencari informasi. Bahkan untuk keluarga dengan ekonomi di bawah rata-rata masih bisa membeli smartphone layaknya kebutuhan primer manusia. Kita dihadapkan pada dunia yang penuh distraksi. Mencoba berkonsentrasi membaca atau menulis, bahkan belum sampai satu jam, sudah tidak sabar ingin membuka handphone. Meskipun tidak ada hal yang dilakukan kecuali memerika notifikasi.

Suami istri yang berada dalam satu ruangan pun tidak jarang hanya menatap layar gawai mereka masing-masing. Sibuk dengan dunia mayanya sendiri. Menyisakan kehidupan di dunia nyata yang menyedihkan. Satu jam berselancar di layar gawai tak terasa dihabiskan, lalu menyesal karena tidak melakukan apa-apa dan tidak menghasilkan apapun selain pengetahuannya yang bertambah soal tetangga sebelah, kawan lama, atau bahkan public figure yang entah membuat konten apa. Waktu produktif terbuang sia-sia.

Begitu pun saya. Waktu membaca pun hampir dirasa tidak ada.

Berkomunitas dan Memilih Bacaan Kesukaan 

Sempat hilangnya gairah membaca ternyata tidak berlangsung lama. Segera setelah menyadari hal itu saya segera mencari komunitas membaca. Selain menambah motivasi untuk membaca, saya juga butuh wadah untuk ngobrol sehat seperti membicarakan isi buku yang dibaca masing-masing. Selain itu juga saling bertukar buku, berlomba-lomba membuat review, dan lain-lain.

Berkomunitas ini penting, karena kita akan merasa lebih mudah lelah berjalan sendirian dalam kebaikan. Maka dengan berkomunitas, kita memiliki motivasi jangka panjang dan tentu saja saling charging energy. Kalau belum bisa menyukai buku namun ingin menjadi orang yang suka dengan buku, mulailah dari sekarang. PIlih buku yang paling ingin dibaca. Tidak harus dari buku-buku yang berat kok, komik pun boleh. Atau pilih saja siapa penulis favorit yang disukai.

Kalau semasa sekolah saya sangat mengagumi J.K Rowling dan serial novelnya, Harry Potter, maka lain hasilnya ketika saya mulai menginjak fase dewasa awal. Berkenalan dengan karya Ahmad Tohari, Eka Kurniawan dan Daniel Goleman menyita perhatian saya pada buku-buku mereka. Kalau ditanya soal penulis buku favorit, banyak sekali jawabannya. Termasuk keempat nama di atas. Bagaimana dengan kalian? Share di kolom komentar yuk penulis favorit siapa yang paling membuatmu terkesan? Sebagai pencinta buku atau bookworm pasti punya dong buku dan penulis favorit?

pencinta buku bookworm

unsplash.com/@thetechnomaid

Tipe yang manakah kamu?

Terkhusus bagi kita yang mengaku bookworm atau pencinta buku, agaknya istilah-istilah julukan berikut ini pernah kita temukan selama penyelaman dalam deretan kata-kata di berbagai bacaan yang telah kita lahap selama ini. Atau, jangan-jangan kita malah dilabeli dengan salah satu dari hal-hal ini?

1. Bibliophile

Bibliophile merupakan istilah untuk seseorang yang benar-benar mencintai buku. Baik itu untuk dibaca maupun untuk dikoleksi saja. Akan tetapi dia tidak punya obsesi berlebihan, sebab kecintaannya tersebut terbilang wajar. Misalnya mengoleksi, membaca, dan merawat bukunya yang sudah dianggap sebagai seorang sahabat karib. Atau mendirikan perpustakaan pribadi dan rela mengeluarkan sejumlah uang demi buku favoritnya.

2. Book Sniffer

Book Sniffer merupakan sebutan untuk orang yang suka membaui aroma buku. Baik aroma khas dari buku lama ataupun buku yang telah usang. Ada semacam kesenangan sendiri ketika aroma itu diendus olehnya. Termasuk saya. Menurut penelitian, aroma buku tersebut mirip seperti kopi atau coklat. Bagi sebagian orang yang menghirupnya, aroma buku-buku tua itu mengingatkan mereka pada cokelat. Setidaknya begitulah yang tertulis dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di Heritage Science pada April 2017.

“Indera penciuman kita sangat dekat dengan pusat memori di dalam otak manusia, dan oleh karena itu kita sangat sering mengaitkan kenangan dengan aroma tertentu dengan sangat kuat,” kata Strlič. “Inilah salah satu alasan mengapa aroma memainkan peran penting dalam bagaimana kita menerima benda peninggalan.”

4. Bibliomania

Bibliomania adalah orang yang terobsesi untuk mengumpulkan buku secara terus menerus sehingga koleksi bukunya telah menumpuk. Bahkan terkadang buku tersebut ada yang tidak dibacanya sama sekali. Dan tak jarang pula perilaku ini seolah menjadi salah satu bentuk pelarian dirinya dari hubungan sekitar yang tak begitu harmonis. Waduh, parah juga ya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang suka menumpuk-numpuk buku lah ya.

5. Tsundoku

Tsundoku yang merupakan istilah dari Jepang ini merupakan sebutan bagi mereka yang sangat gemar membeli buku namun buku tersebut tidak dibaca sama sekali. Seolah hanya dijadikan sebagai pajangan belaka.

Ini nih yang lebih parah.

Nah, kalau kamu tipe pencinta buku yang mana nih? share di kolom komentar yuk! Atau beri tambahan tipe buku selain yang disebutkan di atas yuk!

Baca juga Pengalaman Menulis Buku Kurang dari 3 Bulan