Rindu Salam Tempel

Kira-kira sudah tujuh tahun ya saya termasuk dalam ketagori manusia yang tidak layak menerima salam tempel alias angpao lebaran alias galak gampil. Kalau ditanya apa yang paling dirindukan saat lebaran? Ya saat-saat menerima “salam tempel” itulah waktu yang paling saya rindukan. Tentu saja ini jawaban paling jujur dari hati saya yang terdalam. Hehehe…

Selain merindukan saat-saat “pulang kampung” yang kami lakukan terakhir kali saat saya masih berumur 10 tahun kira-kira. Setelahnya kami hanya berputar-putar di kota Malang saja, jarang sekali keluar kota untuk “mudik”. Kalaupun mudik, hanya sejam dua jam saja lalu pulang, karena kakek dan nenek dari Ayah sudah tiada lagi. Sedangkan kakek nenek dari pihak Ibu tinggal satu kota dengan kami.

Apalagi kalau dibilang kangen kumpul keluarga, ya tidak juga. Karena kami berkumpul pun tidak harus menunggu lebaran. Kapan saja anak-anak ayah dan ibu ingin bersilaturahmi, saat itu pula kami bisa bertemu. Sehingga momen lebaran benar-benar momen yang justru membuat kami lebih sibuk dari biasanya. Karena harus siap menerima tamu dan menjadi pelayan sementara ketika Ayah mengadakan open house sebagai salah seorang yang “dituakan”.

Makanya saya lebih senang menjawab jujur bahwa saya sangat merindukan salam tempel itu. Hehehe..

Dulunya saat masih anak-anak saya seringkali menghitung-hitung rupiah dari dalam amplop yang diberikan oleh orang-orang yang kami kunjungi atau berkunjung ke rumah kami. Saat itulah saya benar-benar merasakan “hari raya”. Hari dimana saya punya banyak uang dan bebas membelanjakan untuk apa saja sesuai kehendak hati. Meskipun terkadang ibu melarang kami membeli hal-hal yang tidak perlu, tapi yang namanya anak-anak, ya masa bodo aja.

Saat-saat dimana akhirnya saya bisa memiliki kotak pensil susun. Iya, kotak pensil berbentuk persegi panjang dan begitu dibuka, kotak itu berubah menjadi kotak bertingkat dua atau tiga. Tentu saja lengkap berisi pensil warna-warni kesukaan saya untuk mencatat pelajaran di sekolah. Suatu kebanggaan tersendiri ketika saya akhirnya bisa punya kotak pensil bertingkat itu. Derajat saya seolah otomatis naik peringkat seperti anak menteri.

Saat-saat dimana akhirnya saya bisa jajan ke restoran cepat saji yang menghadiahkan mainan untuk pembeli. Karena ibu dan ayah saya tidak akan mengabulkan permintaan saya untuk datang ke restoran itu kecuali saya punya uang sendiri. Benar-benar ndeso memang. Tapi hari ini saya bersyukur bahwa saya benar-benar dididik dengan baik dan penuh pelajaran oleh kedua orang tua saya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu butuh pengorbanan, tidak mudah, dan tentu saja harus selektif. Mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang tidak.

Saat-saat dimana akhirnya saya bisa pamer ke beberapa teman bahwa saya juga bisa beli tamagochi. Ada yang tahu tamagochi kan? Itu lho perangkat kecil seperti telur yang memuat game untuk memelihara hewan. Pertama kali punya tamagochi saya memelihara jerapah. Sungguh tidak lucu memang, entah apa yang saya pikirkan saat itu kenapa memilih jerapah menjadi hewan peliharaan. Yang jelas saat itu tamagochi adalah mainan hits yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya, yang rumahnya berlantai tiga, yang punya mobil, yang sepatunya bisa nyala dalam gelap, ah pokoknya hits di zamannya gitu lah.

Sungguh saya merindukan masa-masa itu. Masa-masa uang yang saya dapatkan dari dalam amplop itu saya hitung untuk membeli apa saja yang saya inginkan. Beda sekali dengan sekarang yang kalau dapat amplop berisi uang pasti mikirnya ditabung aja, keperluan bulan depan masih banyak.

Time flies, ternyata sejak status saya berubah tujuh tahun lalu, saya lah yang harus menyediakan amplop-amplop berisi uang itu untuk para keponakan.

2 comments

    • Wakhid on May 13, 2020 at 12:02 am

    Reply

    Sangat menyenangkan kenangan itu, lebaran adalah saat mengumpulkan uang fitrah.

  1. Reply

    Beda dengan generasi Z yang lebih akrab dengan gawai ya? Kupikir aspek emosionalnya beda dg zaman jadul dulu.

    Skarang mah maen apa aja bisa daring wkwk..

Leave a Reply