The Orphan Keeper Review, Chellamutu Mencari Jalan Kembali ke Rumah

Arayi menangis hampir sepanjang malam setelah si peramal menyampaikan kabar mengerikan tentang kematian Chellamutu. Setelah peramal itu mengenai meja berukir dan grafik bintangnya, menyampaikan bela sungkawa terdalamnya, menyudahi satu lagi hari kerja yang baik, dan pulang ke rumahnya untuk menyantap makan malam bersama keluarganya sendiri.

Arayi bersikeras bahwa peramal itu salah. Pasti salah. Chellamutu anaknya masih hidup. Ia bisa merasakannya. Sesuatu. Arayi tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan kata-kata, kecuali untuk mengatakan bahwa kadang seorang ibu merasakan ke beneran dengan cara yang tidak pernah bisa dijelaskan secara logis.

Kehidupan Chellamutu yang baru berusia delapan tahun berubah dalam sekejap ketika dia diculik lalu dijual. Dia diterbangkan ke Amerika dan terpaksa beradaptasi di wilayah asing, dimana tak seorang pun berkomunikasi dalam bahasa yang sama dengannya.

Ada sebuah pertanyaan yang terus bercokol di benarnya sejak dia diculik : Apa yang harus kulakukan agar bisa pulang? Namun, seiring waktu bergulir, kepulangan Chellamutu ke pelukan ibu yang dia rindukan menjadi persoalan yang semakin sulit dicapai. Sekalipun dia berhasil menemukan cara untuk kembali ke India, dapatkah dia menemukan keluarganya dengan hanya sedikit petunjuk?

Sejak pertama melihat buku ini saya langsung mengajukan pada pihak Republika untuk mengirimnya untuk saya sebagai hadiah review buku saat itu. Saya tak mengira bukunya akan setebal ini. Akhirnya untuk beberapa saat buku ini tersingkir sebelum akhirnya ada waktu yang tepat untuk membacanya beberapa hari yang lalu.

Camron Wright benar-benar membuat saya berdebar-debar saat membaca tentang masa kecil Chellamutu. Mulai dari kenakalan-kenakalannya saat mencuri mangga dari pedagang buah di pasar hingga detik-detik saat ia akan kabur dari benteng tebal tempat dirinya diculik. Dua pertanyaan besar yang membuat saya penasaran hingga menuntaskan buku ini adalah : Pertama, ketika Chellamutu berhasil kabur dari benteng itu. Namun ternyata ia memutuskan untuk kembali lagi. Menolong seseorang yang tengah sekarat di dalam benteng tempat mereka diculik.
Kedua, sepuluh tahun sejak gambar buatan tangannya sendiri hancur lebur jadi bubur kertas karena ketidaksengajaan orang tua asuhnya yang berambut pirang dan berkulit putih, kemudian ia lupa jati dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa? Bagaimana ia dengan mudah melupakan Ibunya, Ayahnya, kakaknya, adik-adiknya, paman, bibi, hingga nama desanya!

Kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata, membuat pembaca menyadari dan merenungkan, serta menghargai campur tangan Allah dalam setiap kehidupan kita. Sungguh, novel ini tidak hanya menambah wawasan tentang dua kebudayaan yang jauh berbeda antara Timur dan Barat, tapi juga bagaimana kita menghargai arti sebuah keluarga. Menghargai nyawa-nyawa manusia, serta menyuarakan pada dunia bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini yang tak memandang warna kulit dan mata  ketika akan melakukan pertolongan.
Selama kita masih punya hati nurani.

The Orphan Keeper by Camron Wright.
Alih Bahasa : Indriani Grantika, Jakarta, Mahaka Publishing 2018, 590 halaman.
4/5

Leave a Reply