Malam-malam Gangguan

Part 8 Pagi itu meja makan sedikit ribut karena peristiwa semalam. Taufiq yang menjadi satu-satunya saksi mata dari awal hingga akhir bercerita dengan sangat antusias. Tak memedulikan bagaimana Ruqoyah, Hud, Ning dan dua saudaranya yang lain acuh padanya. Masing-masing sibuk dengan piringnya. Bapak belum tampak, katanya masih memecah kelapa di belakang rumah. “Sudah cepet berangkat … Read more

Gangguan Rumah Baru

  Part 7 “Kita tidak akan ketahuan kan?” Taufiq ragu ketika pohon yang akan dipanjatnya sudah berada di depan mata.   “Tidak, ayo cepat! Sebelum ada petugas yang melihat!” Bashori panik karena Taufiq tidak segera memanjat pohon. Kerumunan orang sedang berfokus pada tiket masing-masing dan juga pintu masuk, begitu pikir Bashori. Lagipula tidak ada penerangan … Read more

Menyelinap di Layar Tancap

Part 6 Part sebelumnya : Menolak Jadi Tukang Sepatu Pagi itu Taufiq punya tugas untuk mengantarkan kue ke warung-warung. Emak bilang hari ini bedak di pasar banyak yang tutup karena Suroan. Jadi tersisa warung-warung yang biasanya menerima sedikit kue saja yang hari ini buka. Suroan atau tradisi satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting … Read more

Menolak Jadi Tukang Sepatu

Part 5 Part sebelumnya : Celengan Ayam –   Musim ujian pun selesai. Ada yang merayakan kelulusannya dengan pergi rekreasi bersama teman-teman sekelas, ada juga yang bersama dengan keluarga pergi makan-makan di warung pinggir jalan. Makan kepiting atau cumi-cumi saus padang yang tidak semua orang bisa menikmatinya kapan saja. Bisa jadi hanya satu tahun sekali. … Read more

Celengan Ayam

Part 4 (Celengan Ayam) Part sebelumnya : Rumah dari Bambu “Aku jual 15 rupiah satu pris!” Taufiq menawarkan mainan pris-prisan yang dia beli di pasar tadi pagi. “Oke aku beli empat, bayar 50 saja ya?” Mukhlis, teman sekelasnya mencoba menawar. “Tidak bisa. Kalau tidak mau juga tak apa-apa, anak kelas lima tadi ada yang mencari pris-prisan juga.” … Read more

Rumah dari Bambu

Part sebelumnya : Membangun Kembali Harapan “Mak, rumah kita yang baru terbuat dari bambu begini?” Ruqoyah memandang rumah baru yang akan ditempatinya dan keluarganya di kota Mojokerto. Perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi rumah mereka di desa. Emak tidak menjawab pertanyaan Ruqoyah, Emak seketika langsung membereskan berbagai macam barang yang masih berceceran disana-sini. Ruqoyah melirik … Read more

Membangun Kembali Harapan

Kisah sebelumnya : Narasi Sang Gurunda (Prolog) — “Mulai besok kita pindah rumah ya,” kalimat tersebut membuat Taufiq, Hud, Ruqoyah dan tiga saudaranya yang lain tercenung. Tak ada yang menanggapi. Tak ada yang berani berbicara. Namun akhirnya Emak tahu apa yang harus ia katakan. Anak-anaknya  menuntut penjelasan tentang kepindahan yang sudah direncanakan. “Kalau disini terus, kasihan … Read more

Narasi Sang Gurunda (Prolog)

BAB 1 Membangun Kembali Harapan Life offers you a bazillion chances. All you have to do is take one. – Anonim. “Ayo Ning berangkat, keburu telat!” Seorang anak lelaki kurus tergopoh-gopoh membawa tas sekolahnya yang sudah usang. Warna yang seharusnya biru tua menjadi lebih gelap lagi, entah bisa disebut biru tua atau hitam. Wanita yang … Read more

Kopi Terakhir Hari Itu. Fiksi Mini

Kopi Terakhir Ted mengundangku untuk mampir ke kedai kopinya yang baru dibuka siang ini. Maka disinilah aku, jalan kaki menuju kedai kopi Ted yang berjarak sekitar sepuluh menit saja dari kampus. “Hey Ted!” Seruku begitu aku memasuki kedai dan melihat Ted sedang sibuk ikut melayani pelanggannya. Ted menoleh dan tersenyum lebar, kemudian membungkuk mohon izin … Read more