Kisah Cinta Ratu Ayu Kencana Wungu
Postingan ini dihapus karena naskah sedang dalam proses dibukukan Hubungi : hanjihanhan@gmail.com untuk info lebih detail
Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Jingga mencoba belajar untuk membuat karya ini. Saran dan kritik dari pembaca sangat kami nantikan :)
Postingan ini dihapus karena naskah sedang dalam proses dibukukan Hubungi : hanjihanhan@gmail.com untuk info lebih detail
Part 8 Pagi itu meja makan sedikit ribut karena peristiwa semalam. Taufiq yang menjadi satu-satunya saksi mata dari awal hingga akhir bercerita dengan sangat antusias. Tak memedulikan bagaimana Ruqoyah, Hud, Ning dan dua saudaranya yang lain acuh padanya. Masing-masing sibuk dengan piringnya. Bapak belum tampak, katanya masih memecah kelapa di belakang rumah. “Sudah cepet berangkat … Read more
Part 7 “Kita tidak akan ketahuan kan?” Taufiq ragu ketika pohon yang akan dipanjatnya sudah berada di depan mata. “Tidak, ayo cepat! Sebelum ada petugas yang melihat!” Bashori panik karena Taufiq tidak segera memanjat pohon. Kerumunan orang sedang berfokus pada tiket masing-masing dan juga pintu masuk, begitu pikir Bashori. Lagipula tidak ada penerangan … Read more
Part 6 Part sebelumnya : Menolak Jadi Tukang Sepatu Pagi itu Taufiq punya tugas untuk mengantarkan kue ke warung-warung. Emak bilang hari ini bedak di pasar banyak yang tutup karena Suroan. Jadi tersisa warung-warung yang biasanya menerima sedikit kue saja yang hari ini buka. Suroan atau tradisi satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting … Read more
Part 5 Part sebelumnya : Celengan Ayam – Musim ujian pun selesai. Ada yang merayakan kelulusannya dengan pergi rekreasi bersama teman-teman sekelas, ada juga yang bersama dengan keluarga pergi makan-makan di warung pinggir jalan. Makan kepiting atau cumi-cumi saus padang yang tidak semua orang bisa menikmatinya kapan saja. Bisa jadi hanya satu tahun sekali. … Read more
Part 4 (Celengan Ayam) Part sebelumnya : Rumah dari Bambu “Aku jual 15 rupiah satu pris!” Taufiq menawarkan mainan pris-prisan yang dia beli di pasar tadi pagi. “Oke aku beli empat, bayar 50 saja ya?” Mukhlis, teman sekelasnya mencoba menawar. “Tidak bisa. Kalau tidak mau juga tak apa-apa, anak kelas lima tadi ada yang mencari pris-prisan juga.” … Read more
Part sebelumnya : Membangun Kembali Harapan “Mak, rumah kita yang baru terbuat dari bambu begini?” Ruqoyah memandang rumah baru yang akan ditempatinya dan keluarganya di kota Mojokerto. Perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi rumah mereka di desa. Emak tidak menjawab pertanyaan Ruqoyah, Emak seketika langsung membereskan berbagai macam barang yang masih berceceran disana-sini. Ruqoyah melirik … Read more
Kisah sebelumnya : Narasi Sang Gurunda (Prolog) — “Mulai besok kita pindah rumah ya,” kalimat tersebut membuat Taufiq, Hud, Ruqoyah dan tiga saudaranya yang lain tercenung. Tak ada yang menanggapi. Tak ada yang berani berbicara. Namun akhirnya Emak tahu apa yang harus ia katakan. Anak-anaknya menuntut penjelasan tentang kepindahan yang sudah direncanakan. “Kalau disini terus, kasihan … Read more
BAB 1 Membangun Kembali Harapan Life offers you a bazillion chances. All you have to do is take one. – Anonim. “Ayo Ning berangkat, keburu telat!” Seorang anak lelaki kurus tergopoh-gopoh membawa tas sekolahnya yang sudah usang. Warna yang seharusnya biru tua menjadi lebih gelap lagi, entah bisa disebut biru tua atau hitam. Wanita yang … Read more
Kopi Terakhir Ted mengundangku untuk mampir ke kedai kopinya yang baru dibuka siang ini. Maka disinilah aku, jalan kaki menuju kedai kopi Ted yang berjarak sekitar sepuluh menit saja dari kampus. “Hey Ted!” Seruku begitu aku memasuki kedai dan melihat Ted sedang sibuk ikut melayani pelanggannya. Ted menoleh dan tersenyum lebar, kemudian membungkuk mohon izin … Read more