“Birds of the same feathers flock together, and when they flock together they fly so high.” – Cecil Thounaojam

Saya masih ingat dengan petuah dari guru saya tentang pentingnya melakukan kebaikan secara bersama-sama. Mungkin ungkapan ini juga cukup populer di telinga kita karena saya pun pernah mendengarnya dari film maupun buku-buku.

Ungkapan tersebut mengatakan bahwa kebaikan yang tidak terstruktur akan dikalahkan dengan kejahatan yang sudah terstruktur. Arti struktur di sini tentu saja melalui proses pemikiran yang panjang dari banyak orang, lalu digabungkan menjadi satu menjadi sebuah ide hingga akhirnya dieksekusi bersama.

Kebaikan yang dilakukan secara bersama-sama dan terstruktur tersebut biasa kita sebut dengan gotong royong.

tradisi gotong royong

pict by : jeyjingga.com

Tradisi Gotong Royong di Indonesia Jadi Jejak Kebaikan Sepanjang Masa

Gotong royong sudah menjadi tradisi yang mengakar di tubuh bangsa Indonesia. Adanya agresi Belanda ke Indonesia untuk mendapatkan sumber daya alam serta seluruh kekayaan yang ada di Nusantara ini membuat bangsa Indonesia merasa senasib sepenanggungan. Persamaan rasa inilah yang akhirnya membuat Indonesia melawan kemerdekaan hanya berbekal dengan bambu runcing dan tekad yang kuat untuk mencapainya.

Tidak membedakan suku, ras dan juga agama, serentak bangsa Indonesia bergotong royong demi kemerdekaan. Hingga budaya gotong royong ini akhirnya diwariskan pada anak cucunya sebagai tradisi mulia yang dapat meringankan beban sesamanya.

Kita bisa melihat bagaimana gotong royong mengakar menjadi salah satu tradisi budaya di Indonesia yang kita banggakan. Kalau ada tetangga sakit, ada budaya tilik (mengunjungi si sakit bersama-sama) yang diviralkan oleh Bu Tejo dari film pendek berjudul Tilik.

film tilik

Saat warga menjenguk Bu Lurah, gotong royong untuk meringankan beban mereka yang kesusahan. (photo from Youtube/Ravacana Films)

Tilik juga mengenalkan pada dunia bagaimana Indonesia bergotong royong membantu si sakit, menghiburnya, dan juga ikut mendoakan kesembuhannya.

Begitu juga dengan budaya gugur gunung, bersih desa, tayuban, dan beberapa istilah lain dari berbagai daerah yang menggambarkan betapa Indonesia telah menanamkan tradisi dan budaya gotong royong sejak nenek moyang kita hidup dan bersosialisasi dengan manusia lainnya di tanah Nusantara ini.

Jadi gotong royong sudah tak asing lagi bagi kita, masyarakat Indonesia antar negerasi. Mulai dari generasi baby boomers hingga generasi Alpha yang lahir di era 2000-an. Hanya caranya saja yang berbeda-beda dari tiap generasi yang lahir tersebut.

Gotong Royong ala Gen Z dan Alpha

Pernah mendengar atau membaca istilah berikut?

Twitter, Instagram, Facebook please do your magic!

Tanpa kita sadari, nafas gotong royong ini pun sudah masuk ke media sosial. Salah satu kanal dari dunia digital yang banyak dipakai oleh orang-orang di dunia, juga di Indonesia. Bahkan melalui media sosial pun para generasi Z hingga alpha bisa melakukan kegiatan mulia ini. Tidak salah jika dikatakan bahwa :

Kamu tak butuh uang untuk membantu orang lain, kamu hanya membutuhkan hati untuk mereka.

Mungkin untuk saat ini, hati pun tak cukup, mereka juga butuh kuota untuk menyebarkan kebaikan dengan jangkauan yang lebih luas lagi. Sehingga tujuan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tersebut dapat tercapai. Ada banyak sekali gerakan gotong royong yang dilakukan di media sosial dan akhirnya bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

gotong royong era 5.0

screenshoot dari tangkapan layar twitter oleh jeyjingga.com

Mungkin generasi ini tidak mengikuti gugur gunung, tidak pula grebeg Suro atau tayuban. Namun dengan segala keterbatasan mereka siap menyebarkan kebaikan, bergotong royong bersama dengan yang lainnya untuk membantu yang membutuhkan, meski hanya dengan kuota dan hati yang lapang. Tidak sedikit pula orang-orang yang terbantu berkat mereka semua.

Karena menurut mereka, tak ada yang bisa mengalahkan senyuman dari orang-orang yang dagangannya dibeli habis, dari orang-orang yang akhirnya bisa menikmati nasi padang yang mewah, dari orang-orang yang bisa membeli seragam sekolah untuk anaknya, dan masih banyak lagi gerakan kebaikan di negeri ini.

Cara Kami Bergotong Royong di Tengah Pandemi

Sudah banyak yang mengetahui dan merasakan bahwa pandemi tidak hanya melumpuhkan sektor ekonomi dan pembangunan, tapi juga pendidikan, kesehatan, dan banyak lagi. Pandemi membuat yang lemah semakin tak berdaya. Membuat yang berdaya akhirnya tumbang dan lumpuh.

Banyak kenalan, tetangga, dan juga beberapa kawan harus merelakan pekerjaannya karena kebijakan pengurangan tenaga kerja di lingkungan pekerjaan mereka. Tidak sedikit yang akhirnya banting setir menjadi tukang ojek, pengantar makanan, memulai usaha sendiri dari rumah, pekerjaan apa saja yang baik dan menghasilkan. Asal keluarga di rumah tidak menahan lapar.

Meskipun mungkin mereka tidak mengeluhkan kesusahan yang dirasakan lewat media sosial, tapi orang-orang di sekitar mereka tentu saja tahu bagaimana kehidupan di tengah pandemi ini. Dagangan yang biasa dijual tidak laku karena sepinya pengunjung dan pemesan, sedangkan anak-anak mereka tetap harus membayar sekolah dan membeli kuota internet agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

gotong royong di tengah pandemi

Oleh karena itu dalam waktu satu tahun terakhir ini, saya bersama dengan teman-teman yang satu visi misi merealisasikan keinginan untuk membantu meringankan beban mereka. Dimulai dari yang terdekat seperti tetangga, kerabat, atau sahabat.

Meski jumlahnya mungkin tidak sefantastis gerakan amal lain, namun saya punya prinsip bahwa tidak harus menunggu kaya untuk bersedekah atau membantu sesama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hanya butuh hati untuk menggerakkan tangan-tangan kita agar bisa memberikan waktu, energi hingga bantuan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan gerakan beramal hanya dengan sepuluh ribu ini diinisiasi oleh ibu saya. Karena melihat beberapa tetangga tak bisa memberikan makanan yang sehat untuk anak-anaknya. Prinsipnya cukup hanya dengan sepuluh ribu rupiah saja kita bisa ikut mengambil peran untuk membantu teman dan saudara kita dalam memenuhi kebutuhan makannya.

Gotong royong menyisihkan sepuluh ribu saja dalam satu bulan atau satu minggu tentu tidak berat bagi teman-teman yang masih diberi kesehatan dan juga kesempatan untuk bekerja. Jadi dengan gotong royong, sepuluh ribu tersebut akhirnya menjadi banyak dan akhirnya kami dapat membagikan makanan mentah bagi kerabat dan juga tetangga yang membutuhkan.

Kami membagi bahan makanan mentah, seperti minyak, telur, sayur, dan lauk protein. Meskipun hanya untuk kebutuhan makan di hari tersebut, namun menurut mereka “makan enak” tentu tidak bisa setiap hari sebagaimana yang telah kita rasakan.

Bagaimana rasanya? Tentu saja dengan duduk bersama dengan orang yang kurang mampu dan kurang beruntung bisa menghilangkan rasa egois dan kesombongan di dalam hati saya. Lalu menyadari begitu banyak kasih sayang Tuhan pada kita semua.

Menghangatkan Hati dengan Berbagi 

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh seorang guru ketika saya mengikutinya dalam sebuah kelas. Guru tersebut bercerita tentang hakikat kebahagiaan.

Kisah ini dimulai dari seorang kaya raya yang ditanya oleh temannya, “Apa yang membuatmu bahagia?” lalu dijawablah pertanyaan itu, “Bahagia adalah ketika aku bisa membeli barang mewah yang kuinginkan.”

Lalu ketika keinginan tersebut sudah terpenuhi, makna bahagianya kini berubah. Selama beberapa waktu setelah ia berhasil membeli barang mewah sesuai keinginannya, ia merasa bosan. Kebahagiaan yang dirasakannya ternyata hanya sementara saja.

menghangatkan hati dengan berbagi

pict from canva

Seorang temannya pun kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Jawabannya pun berubah menjadi :

“Bahagia adalah ketika aku bisa mengoleksi barang-barang mewah dan antik.” Tuturnya.

Tak lama kemudian, keinginannya untuk bisa mengoleksi barang-barang mewah itu pun terpenuhi. Kali ini ia pikir kebahagiaannya akan bertahan lama. Namun ternyata ia salah. Kebahagiaan itu juga tidak bisa bertahan lama dalam hatinya. Hakikat kebahagiaan itu pun mengusik dirinya.

Tak lama, sahabatnya kembali lagi. Kali ini tidak lagi menanyakan arti kebahagiaan versinya.

“Ayo ikut aku,” ucap sahabatnya. Ia pun menurut dan mengikuti kemanapun sahabatnya pergi. Hingga mereka pun sampai di suatu tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Bangunannya mirip rumah pada umumnya, hanya saja di bagian depan nampak papan nama yang menjelaskan rumah apa yang sedang mereka singgahi.

Begitu langkah kakinya sampai di dalam rumah, ia melihat banyak anak yang tidak sempurna fisiknya. Temannya pun menjelaskan bahwa anak-anak itu butuh kursi roda dan juga beberapa kebutuhan lainnya. Tanpa pikir panjang, ia membeli semua yang dibutuhkan anak-anak disitu.

Setelah kursi roda dan berbagai macam kebutuhan datang dan dibagikan untuk setiap anak yang membutuhkan, hatinya terasa lapang. Tidak disadari, bibirnya melukis senyum di wajahnya yang tidak lagi muda. Hatinya hangat melihat senyuman anak-anak yang sedang sibuk memainkan kursi roda dan mainannya masing-masing. Gejolak di dadanya tak dapat dibendung. Ia tak pernah merasakan sensasi kebahagiaan sedemikian kuatnya.

Lalu sesaat ketika ia memutuskan untuk undur diri, seorang anak menghampirinya dan memegang kaki kanannya. Ia pun berhenti dan menoleh pada anak yang menatapnya tak berkedip dan menyuguhkan senyuman paling manis yang pernah ia lihat.

“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu lagi?” tanyanya.

Anak itu hanya menggeleng sambil tetap tersenyum.

Ia mengerutkan dahinya, bingung. Jika ia tak menginginkan apapun, mengapa ia mencengkeram kakiku begitu kuat? Tanyanya dalam hati.

“Aku hanya ingin melihat wajah Tuan. Menghapalnya. Merekamnya dalam otakku. Jadi jika nanti aku bertemu dengan Tuhanku, aku akan mengatakan bahwa orang inilah yang dulu di dunia membuatku bahagia.” Ucap Sang anak sambil tersenyum lebar.

Begitu mendengar penuturan sang anak, hatinya mendadak sangat sesak. Mendung di matanya tak lagi bisa ia tahan. Akhirnya bulir-bulir air mata berdesakan ingin keluar dari kelopaknya. Namun hatinya terasa hangat, tenang, dan tentu saja bahagia. Ternyata, inilah kebahagiaan yang selama ini ia cari dan idam-idamkan. Kebahagiaan yang mendatangkan ketenangan, kebahagiaan yang membuat dirinya merasa seperti di awan dan tidak akan pernah hilang dari dalam hati dan pikirannya.

Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kita bisa membuat orang lain di sekitar tersenyum merasakan manisnya bahagia. Ternyata kebahagiaan yang kita cari selama ini begitu dekat.

Semangat berbagi di tengah pandemi dengan gotong royong pun bisa membuat teman-teman merasakan hal yang sama 🙂 Coba yuk!

#BlogUnparGotongRoyong